Berita

MENGUAK ISI PUISI SECARA INTERPRETASI (1)

1125
×

MENGUAK ISI PUISI SECARA INTERPRETASI (1)

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Oleh :Anto Narasoma

Palembang | Duta Berita Nusantara

BAGI penulis manapun, apabila ada keraguan hati ketika akan mengirimkan karyanya ke media besar adalah suatu kewajaran.

Sebab, dari nilai kemanusiaan yang ada di dalam diri kita –akan menakar kemampuan dan kebesaran nama media yang bersangkutan.

Apakah kita memiliki perasaan seperti itu ketika akan memulai memasuki perjalanan untuk menjadi menulis?

Bagi saya, mengalami hal seperti itu sangat wajar kita alami. Sebagai manusia dhoif, yang serba kekurangan selalu mempertimbangkan kualitas karya dan nama besar media yang akan kita kirimkan sejumlah karya sastra (puisi, cerpen, esai sastra) tersebut.

Terkait soal itu, kita memang perlu memperkuat kualitas karya yang akan kita publikasi ke surat kabar, sehingga tanpa sadar ada beberapa pengakuan dari publik pembaca terkait karya kita.

Memang, landasan dasar untuk menjadi penulis yang baik dan berkualitas, kita dituntut memahami studi tentang sastra. Sebab landasan dasar ilmu sastra itu adalah memahami analisis yang mencakup interprestasi dan mencoba untuk mengapresiasi teks-teks serta mempelajari struktur ilmu sastra.

Ini sangat penting. Karena ilmu sastra itu memiliki kandungan makna, fungsi karya sastra, serta mampu menguasai konteks sosial, budaya, dan historis yang melatarbelakangi unsur isi karya kita, terutama terkait puisi.

Untuk menulis karya sastra terdapat beberapa aspek yang merupakan latar belakang dari fokus ilmu sastra.

Terkait karya yang kita tulis, memang membutuhkan pengkajian ulang ketika tulisan itu sudah selesai kita garap. Misalnya, bagaimana kedalaman tentang analisis karya sastra secara internal.

Mengalisis struktur internal karya sastra perlu kita masuk ke dalam struktur karya, seperti plot, karakter, setting tulisan, dan gaya bahasa.

Ini sangat penting untuk menangkap makna dan interpretasi dari karya yang kita tulis. Sebagai seorang penulis, sangat penting bagi kita untuk memahami makna. Sebab dalam kajian sastra untuk membangun kekuatan karya paling mendasar adalah memahami makna secara literal maupun simbolik.

Memang, untuk mengkaji karya sastra dalam konteks sosial, budaya, dan historis yang melatarbelakangi tulisan kita, sangat penting untuk memahami isi.

Dalam sastra puisi, nilai isi sangat berperan bagi eksistensi sastra, karena setiap puisi harus mempunyai satu pokok persoalan yang hendak dikemukakan.

Karena itu landasan utama puisi adalah bentuk isi (sense) yang digali dari rasa, sehingga nilai isi mampu menyajikan tujuan puisi sebagai apa, siapa, dan mengapa.

Sebaiknya, ketika kita mulai mengekspresikan ide dan gagasan ke dalam bentuk tulisan (puisi), ada baiknya kita mulai bereksperimen dengan pola yang tepat sesuai gaya penulisan.

Dengan melakukan cara-cara yang tepat, akhirnya kita mampu untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi.

Dari upaya yang dilakukan, kita juga dapat mengembangkan imajinasi untuk menggambarkan gambaran hidup sedetailnya di dalam puisi kita.

Seperti dikemukakan Jakob Sumardjo, karya sastra merupakan ruang pengalaman. Pembaca yang menikmati pokok-pokok pikiran kita, ikut mengalami apa yang dialami penulisnya.

Pembaca juga ikut memikirkan dan menafsirkan makna pengalaman di dalam tulisan yang dibacanya (halaman VIII : Antologi Apresiasi Kesustraan yang diterbitkan PT Gramedia Jakarta 1986).

Willy Surendra (WS Rendra) saat menyajikan puisnya bertajuk _Balada Lelaki yang Luka_…

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, mama!

Akan disatukan dirinya

dengan angin gunung.

Sempoyongan tubuh kerbau

menyobek perut sepi.

Dan wajah para bunda

Bagai bulan redup putih

Ajal! Ajal !

betapa pulas tidurnya

di relung pengap dalam!

Siapa akan diserunya?

Siapa leluhurnya?

Lelaki yang luka

melekat di punggung kuda

Tiada sumur bagai lukanya

Tiada dalam bagai pedihnya

Dan asap belerang menyapu kedua mata

Betapa kan dikenalnya bulan?

Betapan kan bisa menyusu dari awan?

Lelaki yang luka

tiada tahu kata dan bunga

Pergilah lelaki yang luka

tiada berarah, anak dari angin.

Tiada tahu siapa dirinya

didaki segala gunung tua

Siapa kan beri akhir padanya?

Menapak kaki-kaki kuda

menapak di atas dada-dada bunda

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, mama!

Meratap di tempat-tempat sepi.

Dan di dada : betapa parahnya

Jika ditelaah, sekuat, segagah, dan sekeras apapun semangat dan kekuatan seorang lelaki (manusia dhoif), ia akan menghadapi segala problem keterbatasan dirinya.

Coba kita masuki imajinasi yang digagas WS Rendra dalam puisi ini. Dari metapora yang melekat erat di dalam unsur arti dan tujuan estetikanya, ia menceritakan keterbatasan manusia dalam menghadapi proses kehidupan.

Meski gagah, ketika ia terluka (bisa jadi luka terkena senjata tajam atau kehancuran hatinya diakibatkan karena cinta), kekuatan fisiknya akan tumbang.

Rendra juga mengungkap tentang ajal (kematian) yang begitu sulit mencabut nyawa si lelaki yang luka (Ajal ! Ajal!// betapa pulas tidurnya).

Meskipun lelaki itu terluka, namun dalam perjalanan yang gontai, ia tetap hidup. Bada alinea akhir itu dijelaskan si penyair, …Lelaki yang luka// biarkan ia pergi, mama!// Meratap di tempat-tempat sepi// Dan luka: betapa parahnya…

Secara imajinatif, WS Rendra menggambarkan seorang lelaki yang terluka di dadanya. Meski parah dan membuat ia tidak berdaya (meratap di tempat-tempat sepi), tapi kematian sulit menghampirinya.

Memahami ide dan gagasan seperti ini, memang tidak semua penulis mampu menyibak ide dan gagasan seterang itu. Namun sebagai penulis pemula, dituntut untuk terus berlatih dan bereskperimen dengan gaya tulisan sesuai pola kita masing-masing.

Ketika kita membaca dan memahami secara mendalam tentang puisi Balada Lelaki yang Terluka itu, banyak kata-kata yang diungkap secara tersamar. Seperti.. Ajal! Ajal!// betapa pulas tidurnya di relung pengap dalam!..dst.

Begitu sulitnya tampilan ajal yang “tak mampu” mencabut kehidupan si lelaki, sehingga penyair menggunakan kata yang imajinatif, ..Ajal! Ajal!// betapa pulas tidurnya…

Memang, banyak penyair yang menulis puisinya dengan pola-pola sajian tersamar, sehingga sulit bagi pembaca untuk memahami maknanya.

Namun pembaca harus bekerja keras untuk mengangkat nilai-nilai kreativitas untuk menangkap kata, ide, dan gagasan si penyair sehingga kita dapat memahami apa yang menjadi tujuan maknanya secara intensif.

Andaikan kita banyak membaca puisi dari berbagai karya penyair, kita akan memahami gaya penulisan untuk memahami struktur bahasa, bahasa, dan teknik yang kita gunakan. (bersambung)