Palembang | Duta Berita Nusantara
Langkah Serius Menuju Ratu Sinuhun Jadi Pahlawan Nasional dari Palembang , FGD Bahas Sejarah dan Validasi Ratu Sinuhun,Libatkan Sultan Palembang , Akademisi, dan Budayawan Palembang
Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Lukisan Ratu Sinuhun Calon Pahlawan Nasional Perempuan dari Kota Palembang – Sumatera Selatan” di gelar Kamis, (12/2/2026) sore. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Palembang, di Jalan Tasik Palembang.
FGD ini menjadi bagian penting dari tahapan pengusulan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus memperkuat dokumen sejarah, validasi akademik, dan representasi visual tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Palembang tersebut.
FGD menghadirkan narasumber pemantik Kepala Dinas Sosial Kota Palembang, M. Raimon Lauri AR, S.STP., M.Si , Ketua Harian TP2GD Kota Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, M.Si, Pelukis/Dewan Kesenian Palembang, Marta Astrawinata dan Budayawan, Vebri Al-Lintani
FGD ini dihadiri diantaranya Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin IV RM Fauwaz Diradja didampingi R.M.Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Sekretaris Dinas Kebudayaan Palembang Septa Marus dan jajaran, Prof. Dr. Farida R Warga Dalem (Akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri)), Dr. Dedi Irwanto (Akademisi Unsri), Hidayatul Fikri, ST (Ketua Tim 11/TP2GD Palembang), Drs. Masyhur Dungtjik, M.Ag., Ph.D (Akademisi UIN Raden Fatah), Dr. Nyimas Umi Kalsum, M.Hum (Akademisi UIN Raden Fatah), Drs. Saudi Berlian, M.Si (Anggota TP2GD Palembang/Sosiolog), Sabeni Iskandar, SH (Anggota Tim 11 Palembang), R. Ahmad Dinyati (Kerabat KPD), M. Ali Goik (Kobar 9), Edy Fahyuni (Pelukis/Praktisi Seni Rupa), Dr. Iqbal J. Permana (Pelukis/Praktisi Seni Rupa), Maradona (Pelukis/Praktisi Seni Rupa), M. Nasir (Ketua DKP), Valdi Lonardo (Sekjen DKP), Sonov/Yossudarson (Komite Seni Rupa DKP), Mgs. Jufri Al Palimbani (Koalisi Ratu Sinuhun/Pecinta Sejarah), M. Genta Laksana (Koalisi Ratu Sinuhun/Tim 11), Youtuber Palembang Susan Oktarina.
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV RM Fauwaz Diradja mengapresiasi langkah kolektif berbagai pihak untuk pengusulan Ratu Sinuhun sebagai pahlawan nasional termasuk menggelar FGD bertajuk “Lukisan Ratu Sinuhun Calon Pahlawan Nasional Perempuan dari Kota Palembang – Sumatera Selatan”
“Sumsel memiliki sejarah panjang dan tokoh-tokoh hebat seperti Ratu Sinuhun yang layak menjadi pahlawan nasional. Kita harus bersinergi supaya hal ini terwujud,” ujarnya.
SMB IV juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Palembang yang telah menginisiasi FGD mengenai Ratu Sinuhun dan mendukung rangkaian kegiatan penguatan data sejarah.
“Ini bukan awal dan bukan akhir, tapi konsensus kita untuk mengangkat harkat dan martabat Sumatera Selatan, terutama tokoh wanita kita, Ratu Sinuhun,” katanya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palembang, M. Raimon Lauri AR, S.STP., M.Si., yang membuka FGD tersebut menjelaskan bahwa FGD ini merupakan bagian dari proses verifikasi dan validasi sesuai Permensos Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional.
Ia menegaskan bahwa pengusulan harus didukung dokumen primer yang kuat, termasuk asal-usul, rekam jejak perjuangan, serta bukti historis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Menurutnya Ratu Sinuhun diketahui lahir pada abad ke-16 dan merupakan istri Raja Palembang, Pangeran Sido ing Kenayan (memerintah 1636–1642 M). Ia dikenal sebagai penggagas Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya, yang memuat sekitar 170 pasal mengatur perkawinan, pertanian, pengelolaan hutan, hingga perlindungan perempuan—sebuah pencapaian luar biasa pada masanya.
“Kami berharap melalui FGD ini, seluruh persyaratan administrasi dan akademik dapat dilengkapi sehingga pengusulan bisa direkomendasikan secara konkret,” ujarnya.
Pelukis wajah Ratu Sinuhun Marta Astrawinata menceritakan pembuatan lukisan Ratu Sinuhun atas permintaan pihak Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang.
Lukisan ilustrasi tersebut menurutnya telah dihibahkan kepada museum pada Jumat, 13 April 2018, dan kini menjadi bagian dari koleksi tetap museum.
Namun menurut Marta perjalanan menghadirkan wajah ratu dari abad ke-16 itu bukan perkara mudah dalam lukisan .
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketiadaan dokumentasi visual autentik dari masa hidup Ratu Sinuhun. Tidak ada lukisan, patung, maupun sketsa sezaman yang bisa dijadikan acuan.
“Saya tidak bisa melukis sesuatu yang tidak saya pahami latar belakangnya,” ujar Marta mengenang awal proses kreatifnya.
Ia pun memulai riset historis dan etnografis. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa Ratu Sinuhun memiliki garis keturunan Tionghoa dan Arab, serta terhubung dengan lingkungan Kesultanan Cirebon. Pendekatan komparatif terhadap karakteristik wajah dari unsur-unsur etnis tersebut kemudian dipadukan secara proporsional dan artistik.
Awalnya, Museum SMB II menurut Marta mengharapkan lukisan selesai dalam waktu dua minggu. Namun Marta menyatakan ketidaksanggupannya mengingat kompleksitas riset yang harus dilakukan. Setelah bernegosiasi, disepakati waktu penyelesaian selama tiga bulan.
Selama kurun waktu itu, Marta berkoordinasi intensif dengan Nyimas Ulfa selaku Kepala Seksi Museum SMB II Palembang , untuk memastikan bahwa hasil akhirnya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara historis.
Bagi Marta Astrawinata, melukis Ratu Sinuhun bukan sekadar menggoreskan kuas di atas kanvas, melainkan sebuah “perjalanan waktu”. Dimulai sejak 18 Januari 2018 atas mandat Museum SMB II, proyek ini ia emban sebagai tanggung jawab kultural untuk menghidupkan kembali sosok yang tak memiliki jejak dokumentasi visual autentik.
Melalui metode rekonstruksi etno-historis, Marta menemukan bahwa garis wajah Ratu Sinuhun merupakan perpaduan harmonis antara darah Cina, Arab, dan Melayu-Jawa-Palembang. Titik awal imajinasinya berangkat dari kemiripan sosok Putri Ong Tien Nio—Ratu Mas Rarasumanding, permaisuri Sunan Gunung Jati. Sketsa awal ini kemudian diselaraskan secara komparatif dengan fitur wajah khas Arab dan Melayu, hingga melahirkan sebuah representasi visual yang mampu merangkum kemajemukan identitas sang ratu dalam satu wajah.
Karya Marta Astrawinata semakin sempurna dengan sentuhan narasi simbolik dari Narasumber budayawan Palembang Vebri Al-Lintani. Setiap detail, mulai dari busana hingga latar belakang, bukan sekadar hiasan.
Kerudung yang dikenakan Sang Ratu menjadi simbol kekuatan Islam Melayu yang mengakar kuat di kalangan bangsawan perempuan Palembang. Balutan warna merah marun pun dipilih bukan tanpa alasan; ia adalah representasi keagungan warna khas Kesultanan Palembang. Di balik sosoknya, hadir simbol buku dan lentera—sebuah metafora bagi Ratu Sinuhun sebagai sang pembawa cahaya yang menerangi wilayah Uluan melalui kitab undang-undang legendarisnya, Simbur Cahaya.
Youtuber Palembang Susan Oktarina, mengingatkan pentingnya menonjolkan identitas Ratu Sinuhun sebagai seorang Syarifah yang memiliki nasab mulia, Rasulullah Muhammad SAW.
Dari sisi karakter, Drs. Saudi Berlian, M.Si (Anggota TP2GD Palembang/Sosiolog), menekankan perlunya representasi ketegasan seorang penguasa perempuan dalam guratan wajah sang Ratu. Masukan teknis juga datang dari Benny Iskandar yang menyarankan penyesuaian anatomi hidung agar terlihat lebih bangir. Sementara M. Nasir Ketua DKP mengusulkan penambahan atribut perhiasan sebagai simbol status kebangsawanannya. Tak hanya soal estetika, Ali Goik mengingatkan aspek legalitas agar karya mahakarya ini segera didaftarkan hak ciptanya dan dihibahkan secara resmi ke museum sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi Marta Astrawinata.
Sejarawan Universitas Sriwijaya, Dr. Dedi Irwanto, menekankan bahwa ragam masukan kritis dari peserta FGD merupakan elemen pelengkap yang penting, namun tidak harus mengubah fisik lukisan. Menurutnya, Marta Astrawinata cukup memberikan penjelasan deskriptif dalam dokumen pendukung (paper) untuk menjawab catatan-catatan tersebut. Dedi berargumen bahwa sebagai lukisan perdana Ratu Sinuhun yang telah dikenal luas sejak 2018, karya ini telah menetap dalam memori kolektif masyarakat Sumatera Selatan. Mengubah visualisasi yang sudah familier selama delapan tahun justru berisiko mengaburkan identitas sang ratu yang telah diakui oleh publik.
Merespons dinamika diskusi, budayawan Vebri Al-Lintani menegaskan bahwa seluruh peserta FGD telah mencapai mufakat bahwa lukisan Ratu Sinuhun karya legendaris Sang Seniman Marta Astrawinata secara sah dianggap pantas dan layak mewakili potret sang Ratu dalam usulan Pahlawan Nasional.
Puncak acara ditandai dengan ajakan narasumber Dr. Kemas Ari Panji kepada seluruh audiens untuk menjadi saksi pengesahan visual tersebut.
Kesepakatan ini dikukuhkan melalui penandatanganan berita acara oleh para tokoh kunci, mulai dari sejarawan yang diwakili Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, pihak zuriat Ratu Sinuhun oleh Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin IV RM Fauwaz Diradja, hingga representasi Pemerintah Kota Palembang melalui Kadinsos, M. Raimon Lauri dan Sekdinbud, Septa Marus. Dokumen sejarah ini selanjutnya akan ditelaah oleh TP2GD Kota Palembang untuk diteruskan ke tingkat Provinsi Sumatera Selatan sesuai denga pedoman pengusulan calon pahlawan nasional.
Dilaporkan oleh : Ali Goik (Seniman/Budayawan Kota Palembang)













