Duta Berita Nusantara | Palembang
Viralnya sebuah konten di media sosial pada akhir Maret 2026 yang menampilkan seorang wanita asal Sidoarjo mengenakan busana adat Palembang menuai sorotan dan kontroversi di tengah masyarakat. Konten tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai, etika, serta norma yang terkandung dalam adat budaya Palembang.
Menanggapi hal tersebut, Aktivis Muda Pengamat Budaya Sumatera Selatan, Aman Tubillah S.Hum, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena yang dinilai telah mencederai makna luhur budaya daerah.
Menurut Aman, Aesan Paksangko merupakan pakaian adat pengantin khas Palembang yang sarat makna filosofis, dengan dominasi warna merah dan emas yang melambangkan keanggunan, kemuliaan, serta martabat tinggi. Oleh karena itu, penggunaannya tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai sakral, etika, dan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Yang dilakukan oleh oknum dalam konten tersebut sudah melanggar pakem kebudayaan Palembang, karena tidak mencerminkan nilai budaya, moralitas, serta regulitas yang seharusnya dijunjung tinggi,” ujar Aman.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan atribut budaya tanpa pemahaman yang utuh berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik serta merusak citra budaya itu sendiri, terlebih ketika disebarluaskan melalui media sosial yang memiliki jangkauan luas.
Aman berharap kepada pihak pembuat konten maupun pihak terkait, termasuk MUA, agar segera memberikan klarifikasi serta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia menilai kejadian ini harus menjadi pelajaran penting, baik bagi pelaku maupun masyarakat luas.
“Semoga ini menjadi pembelajaran bersama agar kita lebih bijak, lebih hati-hati, serta memiliki kesadaran dalam menggunakan dan menampilkan kebudayaan daerah, khususnya budaya Palembang Darussalam,” tambahnya.
Lebih lanjut, Aman juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli, memahami, serta menjaga kelestarian budaya lokal agar tidak tergerus oleh konten-konten yang tidak bertanggung jawab.
Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi momentum refleksi bersama, bahwa budaya bukan sekadar estetika, melainkan identitas yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.














