Berita

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

1233
×

Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan TIM !

Sebarkan artikel ini

Jakarta | Duta Berita Nusantara

TAMPILAN penyair Halimah Munawir sebagai pembaca puisi dalam acara *Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh* di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sangat memukau pengunjung.

Dalam acara yang digelar Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), serta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Jumat (26/12/2025), Halimah yang membacakan puisi bertajuk Diam Sangat Menyakitkan itu, seakan menjadi sosok utama yang menghidupkan suasana acara.

Dari kalimat ke kelimat yang diungkap Halimah begitu menyentuh perasaan pengunjung, sehingga orang-orang yang hadir dibuat diam dan merasa simpatik.

Di tengah krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, puisi yang dibacakan penyair Halimah Munawir begitu pas dan tepat, sehingga momen amal yang digelar benar-benar menyentuh suasana.

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi kolektif atas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh 2025, sehingga menyisakan luka sosial, ekologi, dan kamanusiaan.

Ketika diwawancarai, sebagai penyair dan kririk sastra Indonesia, Dr Drs Tarech Rasyid MSi, menyatakan bahwa puisi merupakan kritik terbuka atas tarjadinya kejahatan ekologis.

“Sebagai ruang sastra yang tajam dan langsung menyaksikan kejahatan dan kebusukan ekologis, puisi mampu berbicara banyak tentang kebusukan orang-orang yang terlibat dalam kejahatan ekologis tersebut,” ujar Tarech.

Karena itu, ucap Tarech, penyair Halimah sangat tepat memprediksi persoalan itu ketika ia membaca puisi dalam kegiatan tersebut.

Saat itu, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang, namun menghantam kesadaran.

Tak sekadar meratap, namun penyair mampu menggugat kejahatan ekologis tersebut.

“Ini yang disebut sebagai kaidah ungkapan esensi sastra secara mendasar, sehingga ketika Halimah membacakan puisinya ia tak hanya sekedar meratap tapi dalam ratapan itu ia mengungkap kemarahan dan menggugat secara sosial,” ungkap mantan rektor Universitas IBA Palembang tersebut.

Dalam bacaannya Halimah mengungkap kegelisahannya tentang pembabatan hutan yang sewenang-wenang. Secara estetika, penyair wanita ini mampu mengungkap eksploitasi sumber daya alam dan keserakahan ekonomi yang menjadi penyebab struktural bencana di Aceh.

“Dengan menggunakan konsep metapora Halimah berani mengeritik tajam terhadap sistem pemerintah yang seolah membiarkan alam dirusak pihak yertentu,” tegas Tarech yang kebetulan menyaksikan acara tersebut.

Sementara itu, penyair Halimah Munawir sendiri menyatakan puisi merupakan media edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih mendalam dibanding laporan teknokratis.

“Jadi, puisi yang saya baca bertajuk Diam Sangat Menyakitkan ini tak hanya sekadar karya sastra, tapi merupakan bentuk karya sastra yang merupakan dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis,” tukas Halimah sesuai membacakan puisinya.

Dari data yang diramu media ini, penyair Halimah Munawir lahir di Cirebon pada 18 Januari 1964. Ia gemar menulis sejak SMA hingga kini. “Saya aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional,” ucapnya.

Halimah juga menulis beberapa novel penting antara lain, The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi.

Sebagai penyair dan sastrawan, Halimah Munawir sangat dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritual,dan keadilan sosial.

( Anto Narasoma)