BeritaKesenianNasionalYogyakarta

Bulan Mei Diusulkan Jadi “Bulan Indonesia Menggambar”, 303 Pelukis Dukung Pengakuan Nasional

38
×

Bulan Mei Diusulkan Jadi “Bulan Indonesia Menggambar”, 303 Pelukis Dukung Pengakuan Nasional

Sebarkan artikel ini

Bulan Mei diusulkan sebagai Bulan Indonesia Menggambar oleh 303 pelukis nasional. Naskah akademik telah diajukan ke Kementerian Kebudayaan RI untuk pengakuan resmi

Duta Berita Nusantara | YOGYAKARTA

Bulan Mei tahun ini diusulkan sebagai “Bulan Indonesia Menggambar”. Usulan tersebut datang dari 303 pelukis yang tergabung dalam komunitas Indonesia Raya Menggambar dari Sabang hingga Merauke.

Mereka berharap momentum ini dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh pengakuan resmi secara nasional dari pemerintah.

Naskah akademik terkait usulan tersebut telah diajukan ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta.

Presiden Indonesia Raya Menggambar, Edo Pop, menegaskan bahwa pengakuan nasional sangat penting dalam mendukung perkembangan pendidikan seni, khususnya menggambar bagi generasi muda Indonesia.

“Pengakuan secara nasional bagi kegiatan menggambar ini merupakan bagian penting bagi masa depan ekosistem kebudayaan Indonesia,” ujar Edo Pop kepada media ini, Minggu (5/4/2026).

Menurut Edo, naskah akademik yang disusun oleh tim formatur Indonesia Menggambar 2026 menjelaskan bahwa aktivitas menggambar tidak hanya sebatas keterampilan teknis, tetapi juga menjadi sarana membangun pengetahuan dasar seni rupa.

“Menguasai keterampilan melukis sangat penting, karena melalui itu kita juga memahami praktik kebudayaan yang bersifat edukatif,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa ke depan, para praktisi seni menggambar diharapkan memiliki wawasan multidisiplin, termasuk psikologi, sejarah, filsafat, dan sosiologi.

Dalam kajian tersebut, praktik menggambar juga diposisikan sebagai medium penting dalam penguatan literasi masyarakat.

Edo turut mengajak para pelukis pemula untuk ikut menyemarakkan program nasional ini.

“Kita membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya para seniman yang memiliki minat dan kemampuan dalam menggambar,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kemajuan kebudayaan tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari praktik kolektif yang dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Laporan: Anto Narasoma, seniman dan jurnalis senior