BeritaLampung Utara

Dari Ruang Kelas Desa ke Gerakan Perubahan KKN ITERA 2026 Menyemai Harapan di Karang Sakti

80
×

Dari Ruang Kelas Desa ke Gerakan Perubahan KKN ITERA 2026 Menyemai Harapan di Karang Sakti

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Lampung Utara

Semangat pengabdian itu resmi dilepas pada awal Januari 2026. Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, membuka dan melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ITERA Tahun 2026 yang berlangsung sejak 8 Januari hingga 6 Februari 2026.

Pelepasan tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan penegasan komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan inovasi di tengah masyarakat.

Di antara kelompok yang diterjunkan ke berbagai wilayah, Kelompok 20 menjalankan pengabdian di Desa Karang Sakti, Kecamatan Muara Sungkai, Kabupaten Lampung Utara.

Desa yang tenang dan bersahaja itu menjadi ruang aktualisasi bagi sembilan mahasiswa: Achmad Fitrayuddin Abdullah selaku ketua, bersama Rezky Bagus Sanjaya, Bakti Selamat Telaumbanua, M. Daffa Al Ghani, Selvi Feprianti, Widya Dewi Puspita, Davina Salsabilla, Vanesa Arnelita Marbun, dan Fina Metriani. Mereka didampingi dosen pembimbing, Miftahul Irfan S.Mat., M.Mat., yang menekankan pentingnya pengabdian yang berdampak nyata.

Salah satu program unggulan yang dihadirkan adalah Bina Belajar, sebuah gerakan pendampingan akademik bagi siswa sekolah dasar. Program ini lahir dari pengamatan langsung di lapangan, di mana masih ditemukan anak-anak yang belum lancar membaca dan berhitung.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kelompok 20 berupaya menghadirkan pembelajaran tambahan yang tidak hanya menambah jam belajar, tetapi juga membangkitkan motivasi dan rasa percaya diri anak-anak.

Kegiatan Bina Belajar dilaksanakan secara bertahap di SD Negeri Karang Sakti dan juga di Posko KKN. Pada 14 dan 15 Januari, siswa kelas 1 dan 2 mendapatkan materi tentang pola hidup bersih dan sehat sebagai fondasi pembentukan karakter.

Pekan berikutnya, 21 dan 22 Januari, siswa kelas 3 dan 4 mendapatkan penguatan materi matematika. Sementara pada 28 dan 29 Januari, siswa kelas 5 dan 6 dibekali pemahaman tentang pentingnya public speaking, sebuah keterampilan yang jarang disentuh secara khusus di tingkat sekolah dasar namun penting untuk membangun kepercayaan diri.

Pendampingan kemudian dilanjutkan di posko KKN mulai 30 Januari hingga 4 Februari dengan fokus pada siswa kelas 6 sebagai persiapan menghadapi ujian TKA. Suasana belajar dibuat lebih santai, interaktif, dan komunikatif agar anak-anak merasa nyaman dan antusias.

Kehadiran mahasiswa di luar jam sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk lebih memahami materi yang belum dikuasai serta melatih kemampuan dasar mereka secara bertahap.

Tujuan dari program ini sederhana namun fundamental, yakni meningkatkan kemampuan dasar membaca dan berhitung, memperkuat penguasaan materi melalui jam tambahan di luar sekolah, serta menumbuhkan minat dan semangat belajar melalui metode pembelajaran yang menyenangkan.

Dampak yang diharapkan terlihat pada meningkatnya kelancaran membaca dan berhitung serta bertambahnya kepercayaan diri siswa untuk lebih aktif dan interaktif di kelas.

Selain sektor pendidikan, Kelompok 20 juga melaksanakan sejumlah program lainnya seperti pembuatan pupuk kompos, biopori ramah lingkungan, inovasi ECO krupang berbahan pelepah pisang, penyusunan peta administrasi dan peta rawan bencana desa, serta sosialisasi tentang obat-obatan.

Rangkaian program ini dirancang untuk menyentuh aspek lingkungan, ekonomi kreatif, tata kelola desa, dan kesehatan masyarakat secara terpadu.

Kepala Desa Karang Sakti, Achmad Wahyu Ruminto, menyambut baik kehadiran mahasiswa. Ia menyatakan harapannya agar mahasiswa dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi warga desa.

” Mari kita bersama-sama ikut serta menyukseskan dan membantu mahasiswa selama kegiatan berlangsung di desa Karang Sakti,” himbauannya kepada Masyarakat.

Ketua Kelompok 20, Achmad Fitrayuddin Abdullah, menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan masyarakat. Ia menegaskan bahwa mereka datang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa program kerja dan inovasi yang diharapkan dapat memberikan dampak positif.

” Harapan kami warga desa dapat membantu, mengarahkan, serta membimbing mahasiswa selama menjalankan kegiatan di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, dosen pembimbing Miftahul Irfan berpesan agar mahasiswa memanfaatkan momentum KKN untuk mengabdikan diri sepenuh hati kepada masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki.

” Pentingnya menjaga kekompakan, persaudaraan, dan nama baik institusi, serta memastikan setiap program kerja berjalan dengan baik sehingga memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat Desa Karang Sakti,”ungkapnya.

Di Karang Sakti, KKN tidak berhenti sebagai kewajiban akademik. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara ilmu dan realitas, antara kampus dan desa.

Dari ruang kelas sederhana hingga halaman rumah warga, dari diskusi ringan hingga inovasi lingkungan, pengabdian itu perlahan menyalakan cahaya. Sebuah cahaya kecil yang, bila dirawat bersama, dapat tumbuh menjadi perubahan yang berkelanjutan. (Rud/Dbn)