Denpasar,Bali | Duta Berita Nusantara
Hari Raya Suci Saraswati merupakan peringatan turunnya ilmu pengetahuan suci dalam ajaran Hindu. Hal tersebut disampaikan oleh Ida Pandita Mpu Yoga Ananta Purusa Daksa Manuaba saat dihubungi awak media.
Dijelaskan bahwa Hari Suci Saraswati jatuh pada Sabtu Umanis Wuku Watugunung, yang pada tahun 2026 bertepatan dengan Sabtu, 4 April 2026. Hari suci ini merupakan momentum pemujaan kepada Betari Saraswati atau Dewi Ilmu Pengetahuan.
Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai sarana upakara, baik tingkat sederhana (nista) maupun utama. Untuk upakara nista, meliputi suci, prasdaksina, ajuman, sesayut Saraswati, segara gunung, perangkatan putih kuning, wangian-wangian, serta daksina yang dihiasi di pelinggih Dewi Saraswati, lengkap dengan sarana pesucian.
Sementara itu, pada tingkat utama, sarana upakara menggunakan sanggah tutuan dengan sesajen seperti daksina ageng, sarwa empat, catur rebah, arda nareswari, penek bang dan penek kuning, serta daging binatang suci. Seluruh sesajen tersebut dipersembahkan di sanggah tutuan kepada Dewi Saraswati.
Adapun sarana pelengkap di bagian bawah sanggah tutuan terdiri dari bebangkit asoroh, olahan daging itik, sesayut tujuh jenis, prayascita luwih, hingga tumpeng guru dengan lauk daging itik putih berjambul.
Lebih lanjut dijelaskan, makna Hari Suci Saraswati adalah memohon anugerah kepada Dewi Saraswati agar diberikan kekuatan batin, pengetahuan, serta keterampilan yang unggul. Hal ini bertujuan untuk menyucikan tiga aspek kehidupan manusia, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat, sehingga tercapai kewibawaan serta kekuatan batin yang luhur.
Berdasarkan lontar Sundari Gama, pada Hari Suci Saraswati umat Hindu tidak diperkenankan menulis huruf, membaca buku, melantunkan kekawin, kidung, geguritan, maupun mendiskusikan ajaran rahasia sebagai bentuk penghormatan atas kemuliaan Dewi Saraswati.
Dewi Saraswati dilambangkan sebagai sosok Dewi yang membawa alat musik, genitri, pustaka suci, dan bunga teratai, serta duduk di atas angsa. Simbol-simbol tersebut memiliki makna mendalam, di antaranya alat musik sebagai lambang seni budaya, genitri sebagai simbol keabadian ilmu, pustaka sebagai sumber pengetahuan suci, teratai sebagai kesucian, dan angsa sebagai simbol kebijaksanaan dalam membedakan yang baik dan buruk.
Selain itu, angsa juga melambangkan penguasaan tiga dunia (Tri Loka), yakni Bhur, Bwah, dan Swah, karena mampu bergerak di darat, air, dan udara.
Ida Pandita Mpu Yoga Ananta Purusa Daksa Manuaba yang tinggal di Gria Agung Tranggana Manuaba Pejeng Gianyar berharap umat Hindu senantiasa memuja kebesaran Dewi Saraswati.
“Dengan pengetahuan, kita akan mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik, serta merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan,” tutupnya.














