BeritaPalembang

MEMBINA KESUCIAN HATI

3
×

MEMBINA KESUCIAN HATI

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

MEMBINA KESUCIAN HATI

Oleh Anto Narasoma

SEHEBAT apa pun kondisi seseorang, ketika Allah SWT menghendaki ia harus kembali ke tanah asal, ia “pasti” akan mati.

Fakta kematian sudah dijelaskan Allah SWT dalam QS Al-Ankabut : 57, “Kamu pasti akan mati, dan mereka pasti akan mati (pula)”.

Penjelasan di dalam Al-Quran itu tak bisa dibantah bahwa setiap kita akan pergi dari dunia fana ini disaat janji itu sudah tiba dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu alangkah baiknya selama menjelajahi progres kehidupan ini kita harus selalu bersikap dan berbuat baik kepada siapa pun.

Ada beberapa hal yang perlu kita perbuat untuk kebaikan diri sendiri. Apa itu? Yah, bagaimana kita dapat membangun akhlak yang baik dan tidak mencaci serta menjelek-jelekkan seseorang.

Andaikan kita tahu kejelekan seseorang, maka alangkah baiknya kita tutupi aibnya. Jangan kita ungkap kelemahan seseorang di tengah orang banyak.

Tidak bijak jika kita selalu memburuk-burukan teman seperjuangan kita. Apalagi dia sudah akrab dan seperti saudara sendiri. Sebab nilai dirinya sama dengan saudara kita.

Alangkah nistanya sikap kita yang selalu menjelek-jelekkan seseorang. Karena Allah SWT menciptakan seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri manusia.

Ada pertanyaan tersirat terkait masalah itu. Manusiakah kita ketika kita merasa menang dan puas hati tatkala kita menjelek-jelekkan sahabat kita yang tak pernah membalas kelakuan busuk kita?

Rasulullah SAW dalam hadis yang dikemukakan Bukhari dan Muslim, Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

Maka dengan kesadaran moral, saya berusaha untuk tidak menyakiti perasaan atau fisik seseorang. Apalagi mereka sudah seperti saudara, ia akan saya jaga dari hasut dan kebencian orang lain.

Memang, akhlak yang baik merupakan harta paling berharga yang akan kita bawa ke liang kubur.

Karena itu, secara psikologis menjernihkan watak manusia berarti dapat mengubah perilaku dan kebiasaan buruk kita sehari-hari.

Andaikan kita mampu untuk mencemerlangkan pola pikir serta respons emosional, akan memberi pengaruh positif bagi karakter dan akal sehat.

Dengan usaha keras untuk menjadi orang baik memang perlu melihat dan mempelajari diri sendiri. Sebab tak hanya menata moral dan akhlak yang baik, tapi dengan selalu mengingat kematian, kita akan dapat membangun pola dan bentuk akhlak yang baik.

Psikolog dan teoritikus ternama dunia — Lawrence Kohlberg selalu merumuskan teori dengan tahapan dan perkembangan moral.

Sebab merumuskan teori dengan tahapan moral yang kokoh, seseorang akan terhindar dari kebusukan hati.

Sebab keburukan perilaku yang dibiarkan mengendap lama akan mempengaruhi karakter dan watak baik seseorang.

Karena itu alangkah baiknya jika kita selalu ingat mati, maka kerusakan moral yang terjadi akan segera dapat terusir dari hati nurani kita.

Dalam rumusan psikologis, kebusukan hati akan dapat diatasi melalui enam tahapan yang terfokus pada keadilan dan ketinggian akhlak serta moral dan etika.

Memang, kebaikan hati seseorang tak perlu diperlihatkan secara gamblang dalam kehidupan kita. Biarkan kebaikan yang ada di dalam diri kita itu akan terlihat sendiri secara alami.

Seperti dikemukakan penyair sufi Fariduddin Attar dalam karyanya Mantiq at-Tayr bahwa untuk menjadi orang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kita sudah baik, tapi ada beberapa orang di belakang kita yang menyatakan bahwa diri kita itu sangat menyebalkan. Sebab yang menyatakan begitu hanya mereka yang hanya melihat ke dirinya sendiri –yang menyatakan dirinya lebih baik ketimbang diri kita.

Apakah kita harus marah dan meronta hebat sebagai protes ke dirinya? O, tak perlu !

Kalau dia jujur, secara pribadi, dia sendiri sangat memahami apa yang telah kita lakukan dalam pergaulan sebagai sahabatnya. Jadi biarkan saja dia menyadari itu.

Dalam tulisannya bertajuk Mantiq at-Tayr Fariduddin Attar menyatakan bahwa untuk tiba ke hadirat Allah SWT itu membutuhkan berbagai tantangan tajam, sehingga kesucian hatinya dapat terjaga dengan baik.

Dalam puisi yang cenderung menghamba kepada jalan kesucian hati menuju ke haribaan Tuhan, Fariduddin menyebutkan….

sudah berbilang waktu,

segala kata-kata dalam perilaku –kucuci dari satu penghambaan yang merangkai kalimat di antara cahaya-Mu

aku pun serpihan debu

yang bias ke dalam sajak setelah kalimat dalam kitab suci itu menjaga kebersihan hatiku –sebelum tumbang ke bumi

berkali-kali aku,

menghindari seribu wajah perempuan

yang membangkitkan

kata hati sebusuk bangkai

o, syahwat ini,

seperti teman seperjuangan yang pelan-pelan berbelok sebagai penghianat kesucian hatiku

haruskah ia tetap

di antara ruang-ruang perjalanan kakiku yang bersimpuh di lantai rumah-Mu, Tuhanku?

——–

Puisi itu sangat kuat untuk melawan kata hati yang mulai membusuk, sehingga ia menghadirkan kesadaran sepenuhnya untuk menjadi orang yang lebih berpikir bijak.

Saya sadar apa yang diungkap penyair sufi Fariduddin Attar itu mengajarkan saya untuk lebih bijak menghadapi dua lawan di dalam kehidupan ini.

Lawan pertama adalah diri sendiri. Diri ini pasti akan selalu melihat seperangkat jiwa orang lain yang ada kelebihan namun di antaranya terdapat ribuan kelemahan yang membusukkan hatinya.

Ini yang perlu menjadi perhatian khusus, sehingga pengaruh itulah yang membusukkan hati kita.

Jika ini terjadi kekeliruan kecil seseorang yang selalu disebut-sebut dan dibesar-besarkan dalam kancah pergaulan –melalui ucapan dan tulisan penuh kebencian dan kedengkian.

Saya juga menyadari, jangankan saya sebagai manusia dhoif, sedangkan Rasulullah SAW saja masih ada yang mencaci dan membencinya (tak perlu saya jelaskan siapa pembenci Rasulullah SAW tersebut).

Yang jelas, selama roda kehidupan ini masih terus berputar, hati busuk seseorang yang memiliki kebencian, kedengkian, dan kebusukan akan tetap ada.

Apalagi saya sadar sepenuhnya bahwa untuk menjadi orang baik itu dihadang oleh ribuan tantangan yang selalu dicari-cari celah kelemahan seseorang yang memiliki kejernihan hati.

Sedangkan sebaliknya, untuk menjadi orang yang busuk hati memang begitu gampang diperoleh.

Misalnya, orang lewat di depan kita, lalu kita caci maki dan kita tulis dengan kata-kata yang seolah diri kita itulah yang paling baik dan bersih hati, maka tulisan itu telah melukai hati orang lain. Ini yang perlu kita sadari sebagai manusia sejati yang selalu sujud di berbagai masjid.

Penulis adalah sastrawan dan jurnalis senior

Penulis: Anto/RobinEditor: Redaksi Dbn