BANTENBerita

Perkuat Benteng Umat: FSPP Banten, Kemenag, BNN, dan Kampus UMT Bersatu dalam “Jihad” Ekonomi dan Anti-Narkoba pada Raker III FSPP Banten

4
×

Perkuat Benteng Umat: FSPP Banten, Kemenag, BNN, dan Kampus UMT Bersatu dalam “Jihad” Ekonomi dan Anti-Narkoba pada Raker III FSPP Banten

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Tangerang, 4 Maret 2026

Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten sukses menggelar Rapat Kerja III di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Mengusung tema besar “Sinergi Pesantren dan Kampus dalam Membangun Ketahanan Pangan, Kedaulatan Ekonomi Umat dan Gerakan Bersama Memerangi Narkoba” , forum ini menjadi titik temu strategis antara kebijakan negara, penegakan hukum, dan akademisi untuk memberdayakan 43.000 pesantren di Indonesia.

Reorientasi Pesantren: Dari Pendidikan ke Pemberdayaan Ekonomi Wakil Menteri Agama, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, dalam paparannya menegaskan perlunya reorientasi peran pesantren. Ia menyoroti bahwa selama ini Direktorat Pondok Pesantren hanya berfokus pada fungsi pendidikan di bawah Ditjen Pendis, padahal UU No. 18 Tahun 2019 mengamanatkan tiga fungsi: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat .

“Ketahanan pangan dan ekonomi adalah prasyarat mutlak keamanan,” tegas Wamen Agama, merujuk pada tafsir Surah Quraisy yang mendahulukan “memberi makan” sebelum “memberi rasa aman”. Beliau mendorong pesantren untuk mengambil peran aktif dalam program strategis pemerintah seperti “Koperasi Merah Putih” dan pengelolaan “Kampung Nelayan” yang didanai negara namun dioperasionalkan oleh komunitas setempat, termasuk pesantren pesisir.

Banten Darurat Narkoba: Modus Baru Incar Lingkungan Pesantren Kepala BNN Provinsi Banten, Brigjen. Pol. Drs. Rohmad Nursahid, memaparkan fakta meresahkan mengenai kenaikan prevalensi pengguna narkoba menjadi 2,1% atau setara 4,1 juta jiwa secara nasional . Banten, dengan Bandara Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Merak, menjadi pintu masuk strategis penyelundupan narkoba jaringan internasional.

BNN memperingatkan adanya pergeseran modus operandi yang semakin halus dan menyasar komunitas religius. “Narkoba kini disusupkan dalam vape (rokok elektrik), makanan, hingga dikemas seolah-olah obat penambah stamina atau bahkan diklaim ‘halal’ oleh oknum tertentu untuk menipu para Kyai dan Santri,” ungkap Brigjen Rohmad . Sebagai respons, BNN menggencarkan program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) dan integrasi kurikulum anti-narkoba ke dalam mata pelajaran umum di sekolah dan pesantren.

Akademisi Tawarkan Solusi Konkret: RPL dan KKN Tematik Menyambut tantangan tersebut, Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, menawarkan solusi akademis yang pragmatis. UMT membuka program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan para pengasuh pesantren dan santri senior untuk mengonversi pengalaman mereka menjadi SKS, sehingga dapat menyelesaikan sarjana hanya dalam waktu 1,5 tahun.

“Sinergi ini tidak boleh berhenti pada seremonial. Mahasiswa kami melalui KKN akan turun langsung membantu manajemen ekonomi pesantren dan penanganan stunting di desa-desa binaan,” ujar Rektor UMT, menekankan pentingnya kolaborasi operasional antara kampus dan pesantren.