Oleh Anto Narasoma
Duta Berita Nusantara | Palembang
BEBERAPA kali berpuasa pada bulan-bulan Ramadan, banyak dari kita yang hanya memperoleh beratnya beban lapar dan haus saja. Bisa jadi termasuk saya pribadi. Sementara perolehan pahala, ibarat pepatah, jauh panggang dari api !
——-
Yang jadi pertanyaan, mengapa kesia-siaan itu terjadi? Tampaknya kita perlu berkenalan dengan diri kita sendiri. Sebab kesadaran paling disukai Allah SWT itu berawal dari diri kita sendiri.
Dalam hidup ini, kerap kali kita melihat besar kecilnya fisik orang lain. Bahkan sekecil apapun kesalahan orang lain, kita caci-maki di belakang yang bersangkutan.
Bahkan kita umbar keburukan orang ke masyarakat. Seolah-olah diri kita itu jauh lebih baik dari orang yang kita lecehkan.
Masya Allah, begitu burukkah orang yang kita ungkap segala kekurangannya itu? Apakah kita merasa bahwa akhak kita lebih baik dibanding orang tersebut?
Memang, Islam mengajarkan bahwa bulan Ramadan merupakan ruang besar untuk menempa akhlak diri kita –agar menjadi lebih baik dibanding masa-masa sebelumnya.
Namun kita lupa bahwa berpuasa hanya “alat” untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada di dalam diri kita. Sebab, untuk kita sadari bahwa manusia itu diciptakan dengan segala kekurangan.
Nabi Adam dan Siti Hawa diciptakan dalam kondisi telanjang tanpa dilengkapi perasaan malu sedikit pun. Namun setelah keduanya mengonsumsi buah khuldi, tiba-tiba akal dan pikirannya berfungsi dan segera menutupi batas-batas kelamin mereka.
Sebetulnya, keadaan itu harus menjadi cermin bagi kita bahwa manusia itu diciptakan dari segala kekurangan yang ada. Keadaan itu harus menjadi cermin paling jernih agar dapat menghadirkan bentuk kesadaran kita.
Dengan demikian, kita tidak akan memperburuk kekurangan orang lain yang memang tercipta dengan segala kekuarannya. Allah SWT hanya “menitipkan” akal dan kesadaran moral kita. Nah, kesadaran inilah yang perlu kita manfaatkan agar kita menjadi manusia yang lebih baik dalam menjaga hati, pikiran, dan ucapan kita (mulut).
Dengan berpuasa pada Ramadan, sesungguhnya untuk menanamkan kecerdasan spiritual manusia, agar segala perilaku kita terjaga dengan menghadirkan kesadaran berpuasa yang sesungguhnya.
Artinya, pola berpuasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi hakikatnya adalah bagaimana kita dapat menanamkan perilaku surgawi yang diridhoi Allah SWT.
Kemudian, apa yang harus kita lakukan saat kita berpuasa? Dari kajian diri yang pernah saya lakukan adalah, niat yang ikhlas.
Selain lapar dan haus, kita harus menjaga lisan dari kata-kata yang tidak baik dan dapat melukai perasaan orang lain. Kemudian kita perlu menjaga perilaku, pikiran, dan akhlak yang jernih dari tindakan sampah. Sebab perilaku ini akan menyakitkan perasaan orang lain. Bagi Allah SWT, dosa paling besar adalah melukai hati orang lain. Andaikan kita tidak meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, maka sebanyak apapun amal ibadah yang kita lakukan, kita tidak akan masuk surga.
Di dalam diri kita itu ada nilai paling sejuk dan sangat baik andaikan kita memanfaatkan untuk pergaulan sehari-hari. Apa itu? Itulah kesabaran jiwa kita.
Kesabaran jiwa kita dapat melunakkan kesombongan dan keangkuhan diri kita. Sebab, sombong dan angkuh yang ada di diri kita itu merupakan “alat” diri yang dapat menghancurkan perilaku baik manusia (akhlak).
Perlu kita sadari bahwa esensi perilaku manusia itu hanya kita yang dapat mengubahnya menjadi baik atau buruk.
Karena salat dengan cara menebalkan titik hitam di kening kita akan menjadi hiasan buruk andaikan sikap iri, dengki, angkuh dan sombong itu tetap kita pelihara.
Karena itu lapar harus kita berpuasa akan sia-sia karena kedengkian dan kesombongan yang membuat kita merasa lebih baik di banding orang lain itu, akan menghapus segala amalan selama kita berpuasa.
Dalam ayat 5 surah Al-Falaq itu sangat jelas diungkap Allah SWT tentang kedengkian, itu, sombong, dan angkuh. Maka untuk mengatasi kedengkian dan kebencian di diri kita itu dapat kita amalkan ayat 5 surat Al-Falaq.., _wa min syarri haasidin idzaa hasad_ yang artinya, *dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki*… (doa kepada Allah SWT).
Surat Al-Falaq itu merupakan firman Allah yang secara khusus mengajarkan perlindungan dari perbuatan buruk yang kerap kali melukai hati orang lain.
Surat ini merupakan upaya yang baik untuk melindungi dan dari penyakit hati seperti kedengkian, kesombongan, keangkuhan. Sebab sikap takabur seperti itu dapat dengan mudahnya terhasut oleh kata-kata busuk dari orang lain. Inilah yang merusak dan menelantarkan kita dari cita-cita luhur selama melaksanakan puasa Ramadan.
Penulis adalah sastrawan, seniman, dan jurnalis senior














