KesenianPalembang

TILAS-TILAS PERJUANGAN HIDUP UDO Z KARZI

77
×

TILAS-TILAS PERJUANGAN HIDUP UDO Z KARZI

Sebarkan artikel ini

Oleh Anto Narasoma

Palembang | Duta Berita Nusantara

SASTRA (puisi), begitu luas memberikan nilai bagi aspek persoalan apapun. Tak sekadar nilai keindahan (estetika) dalam seni kata-kata, tapi juga sejarah.

Mencermati kumpulan puisi Udo Z Karzi dalam himpunan 100 sajaknya yang ditulis dari 1987 hingga 2025, sangat menarik perhatian saya.

Sebab, dari tiap puisi yang diungkap memiliki nilai persepsi yang dalam, sehingga pola pikiran kita akan diajak melanglang buana ke sana-sini –untuk mencari arti dalam kaidah puisi tersebut.

Himpunan puisi Udo Z Karzi dalam antologi bertajuk Kesibukan Membuat Sejarah ini dibagi menjadi tiga ruang estetik, Tilas Perjalanan, Tilas Muasal, dan Tilas Negeri.

Dari masing-masing tilas –terdapat puisi unggulan yang menjadi tulang untuk memperkuat nilai-nilai pemaparan kedalaman puisi penyair Udo.

Seperti perjalanan yang berkaidah pada tilasan sejarah, ternyata penyair berusaha keras untuk menghadirkan segala masalah yang pernah dialaminya. Inilah suatu kekayaan estetika yang tidak gampang dilakukan tiap orang (penyair).

Namun sebagai penyair kreatif Udo Z Karzi dengan segenap kemampuannya berusaha menghadirkan bentuk-bentuk tema atau ide yang jelas.

Pada Tilas Perjalanan, penyair terkesan bingung menatap dirinya. Sebab, sebagai sesosok diri yang telah berkecimpung di dunia akademik (sekolah), ia belum memahami celah perjalanan yang harus ia tembus dalam reaksi perjalanan nasibnya sendiri.

Kebingungan Udo (teks) yang belum memahami harus bagaimana menyikapi masa depannya, ia ungkap lewat puisi bertajuk Damba 1..

tercenung aku pandang diriku

berpikir ! mencoba untuk mengerti

apa yang kuhendaki dalam hidup ini?

apa yang telah mulakukan selama ini?

berjuta damba bercokol dalam hati

“jadikan hidupmu berarti

bagimu, ibu-bapakmu, temanmu bagi siapa saja

ah, aku malu bicara banyak

tak perlu kulanjutkan

sadar, sekian tahun hidup

belum pernah berbuaf suatu apa

sekian tahun bersekolah

masih juga belum jadi orang: aku masih barang belum jadi. (1987)

Dari uraian puisi di atas, ada gambaran kebingungan yang menjadi landasan perjalanan hidup penyair. Apakah itu ungkapan jujur?

Penyair ternama Amerika Serikat Maya Angelou, mengatakan bahwa ungkapan Udo Z Karzi itu suatu kejujuran sikap yang patut menjadi landasan estetika.

Sebab, dari penapakan awal jejak perjalanannya di dalam dunia sastra puisi, kejujuran merupakan nilai terpenting untuk melahirkan ribuan karya lainnya.

Pada bait pertama, penyair mengutarakan kata hatinya atas “kebingungan” (teks) yang ia rasakan. .._tercenung aku pandang diriku_.., kalimat ini seolah ia mencari jati diri yang dalam –sembari menelaah lewat pikirannya,.._berpikir !_.

Meski ia sadar bahwa nilai akademik yang ia gali dari bangku sekolah, namun ia “kurang mengerti” harus ke mana ia arahkan langkah masa depannya.

Secara psikologis, pola kecerdasan dan reaksi positif pikiran Udo Z Karzi saat itu, tampaknya masih _blanc_. Padahal nilai karya yang ia tulis sebagai penyair terbilang bagus.

Dan memang, tidak semua orang memiliki tujuan yang jelas selama kondisi awal yang dialaminya.

Tentu saja, tujuan hidup dan minat pilihan yang kita jalani, dapat berkembang seiring waktu. Belajar di sekolah hanya menjadi ruang untuk mengeksplorasi pilihan –sehingga kita dapat menemukan apa yang disukai di masa mendatang nanti.

Pada ruang antologi  Tilas Perjalanan ini sangat jelas bagi penyair yang berada dalam masa-masa pencarian di antara “kesibukan” menentukan sejarah kehidupannya (kehidupan dan sastra).

Dari ruang Tilas Perjalanan ini, penyair juga memperlihatkan kepeduliannya pada dunia perkebunan kopi. Seperti puisi bertajuk Musim Kopi 1, 2, 3, 4, dan 5

Dengan pembahasan bahasa yang sederhana, penyair memperlihatkan nilai kebersahajaan yang dapat membuka pikiran pembaca tentang sikapnya sebagai petani kopi (teks).

Ini suatu ruang yang dilakukan Udo Z Karzi dalam menuliskan perjalanan sejarah seperti yang ia ungkap sebagai teks antologi Kesibukan Membuat Sejarah.

Tampaknya dia tidak mencari-cari kata indah dalam pemaparan puisi-puisinya. Namun pilihan kata yang kata yang tepat dan efektif dapat ia sampaikan majas puisi melalui makna dan emosi kata-kata.

Dari puisi pertama Musim Kopi(1), tampaknya Udo tidak menggunakan teknik kata-kata yang memiliki makna ganda atau konotatif seperti metapora, similie, dan personifikasi yang mencolok.

Namun tiap puisi yang ia paparkan merunut pada nilai estetika yang memberi kesan estetis. Seperti pada puisi Musim Kopi 1,.._yang kuingat kala musim kopi/ alang harum aroma kembangnya/ dan buah kopi yang sudah matang/ dari pohon-pohonnya_

Meski terkesan sederhana, namun pada baris kedua.._alang harum aroma kembangnya_ merupakan bentuk majas dengan teknik penggunaan kata-kata personifikasi yang cukup menarik.

Sebab Udo tidak berusaha menghadirkan kata-kata yang membuat pembaca harus mengerahkan daya pikirnya untuk memahami kata-kata yang tersamar.

Ini suatu “kelebihan” Udo yang memaparkan kalimat sederhana namun imajinasinya tetap berusaha membangkitkan gambaran perasaan yang ia sampaikan ke pikiran pembaca.

Secara estetika, unsur dasar yang ia paparka melalui kata-kata sederhana cukup untuk memperkuat isi sastra (puisi) yang ia tulis.

Bahkan dalam pemaparan lanjutan ke Musim Kopi 2, 3, 4, dan 5, penyair mampu menggunakan objek kata-kata sederhana yang mewakili makna lebih dalam dan kompleks.

Itu dapat kita lihat dari puisi Musim Kopi (3),… _aku hendak berkisah/ apa arti repong kopi/ bagi orang pekonku_ (bait pertama), dari bait awal secara estetis penyair berusaha meyakinkan pembaca agar isi puisinya dapat memenuhi ruang pikiran pembaca.

Seperti dikemukakan sastrawan Paulus Laratmase tulisan (puisi) bentuk seperti ini ditulis penyair untuk memberikan pemahaman secara filosofis agar pembaca terhubung dengan konteks isi puisi yang ditulisnya.

Karena itu penyair berusaha keras untuk menentukan tujuan yang lebih spesifik dalam penggunaan kata secara terukur.

Bahkan dalam puisi bertajuk Sepotong Senja pemaparan unsur puisinya sangat jauh antara judul dan isi. Mengapa begitu?

Inilah pemisahan antara nilai kata dalam koneksi sastra dan unsur spiritual. Artinya, satu kekayaan estetika pemghabungan sastra dan spiritualitas jiwanya.

…_seperti titian/ melewati lautan api/ menuju surga !_ yang ditulisnya di tahun 2018 sangat menggetarkan perasaan saya.

Apa isi dan makna bagi koneksi jiwa seseorang? Dari judul *Sepotong Senja*, jika dikaitkan dengan usia seseorang tentu saja menjelaskan tentang perjalanan panjang bahwa usia itu telah menapak di usia tua (senja).

Apakah secara spiritual kita sudah memahami tentang baik buruknya segala upaya yang kita lakukan selama ini?

Sebab, persepsi dan pokok pikiran kita digiring penulis (penyair) untuk memahami bahwa di usia tua kita sudah harus mengerti perilaku baik buruk yang kita lakukan adalah surga atau neraka.

Upaya Udo Z Karzi ini sangat konstan mengetengahkan antologi puisinya Kesibukan Membuat Sejarah yang berisi 100 sajak yang ditulisnya dari 1987 hingga 2025, patut kita apresiasi. Sebab perjuangannya dalam dunia sastra membutuhkan waktu yang begitu panjang.

Dari catatan dalam tilas lanjutan (Tilas Muasal) Udo tetap konsisten untuk selalu bekerja keras untuk mengembangkan nilai-nilai bentuk puisi sesuai dengan kemampuannya.

Agar pembaca tahu dan mengerti tentang kelebihan dan kekurangan Udo Z Karzi dalam melakukan unsur estetika dalam anotologi ini, ada baiknya pembaca dapat menelaah tiap puisi (sajak) yang ia himpun dalam antologi ini (*).

Penulis adalah seniman, penyair, dan jurnalis senior