Palembang | Duta Berita Nusantara
Pagi itu,suasana Palembang dipenuhi aroma bubur suro yang hangat. Warga berkumpul, duduk bersama dalam kebersamaan yang sederhana namun sarat makna. Usai sarapan, lantunan bacaan yasin dan tahlil menggema di pemakaman Sabokingking, menandai awal sebuah perjalanan spiritual dan budaya yang telah menjadi tradisi turun-temurun.
Sekitar pukul 08.30, rombongan mulai bergerak. Motor dan mobil beriringan dalam pawai menuju Kawah Tengkurep, salah satu kompleks makam Kesultanan Palembang Darussalam. Pawai ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah perayaan kebersamaan yang melibatkan ulama, umaro, keturunan Kesultanan, majelis taklim, majelis zikir, hingga anak-anak sekolah.
Semua lapisan masyarakat hadir, menjadikan ziarah ini sebagai ruang pertemuan antara sejarah, agama, dan budaya.
“Setiap tahun kita melaksanakan pawai ini bersama masyarakat. Tujuannya bukan hanya ziarah, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan akan Kesultanan Palembang Darussalam yang memiliki adat istiadat dan budaya besar,” ujar salah seorang panitia.
Ia menekankan bahwa generasi muda kini semakin jauh dari akar budaya leluhur. Banyak yang tidak lagi mengenal makanan khas Palembang, apalagi memahami tradisi Kesultanan. Karena itu, momen ziarah ini dijadikan sarana untuk mengangkat kembali seni, budaya, dan kuliner khas Palembang agar tidak hilang ditelan zaman.
“Dengan ziarah Kesultanan dan Auliya’ Palembang Darussalam, kita ingin generasi sekarang tahu bahwa leluhur kita memiliki budaya yang sangat besar,” tambahnya.
Ziarah dari Sabokingking ke Kawah Tengkurep bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengingatkan masyarakat bahwa sejarah bukan sekadar catatan, melainkan identitas yang harus dijaga. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi penanda bahwa Palembang memiliki warisan budaya yang layak dirawat dan diwariskan.
Dilaporkan oleh : Ali Goik (Seniman/Pemerhati Kebudayaan/Jurnalis)













