CERPEN
Oleh : Ki Bagus A.H.
Jurnalis/Penulis/Pelaku Giat Sosial Budaya
Malam di Kampung Minikow biasanya tenang.
Hanya suara jangkrik, radio tua, dan kartu gaplek yang dibanting ke meja.
Empat lelaki duduk di pos ronda.
Mang Okem.
Mang Ajuwon.
Mang Klepeh.
Mang Baronang.
Mereka bukan pejabat.
Mereka hanya penjaga malam yang tugasnya memastikan kampung tidak kemasukan pencuri.
Ironisnya, kadang pencuri tidak datang dari luar kampung.
Melainkan duduk rapi di balik meja siang hari.
Namun malam itu ada sesuatu yang baru.
Di tengah pos ronda berdiri sebuah meja gaplek yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Kayunya jati.
Catnya mengilap.
Kaki mejanya diukir kepala naga seperti meja-meja mahal di rumah pejabat.
Mang Klepeh mengusap permukaan meja.
“Baru ya ini?”
Mang Ajuwon mengangguk.
“Datang siang tadi.”
Mang Okem sudah duduk sambil mengocok kartu.
“Bagus juga. Pos ronda kita akhirnya naik kelas.”
Mereka mulai bermain.
Kartu dibanting.
Kopi diseruput.
Radio tua memutar dangdut koplo dengan suara sember.
Beberapa menit kemudian Mang Klepeh mengernyit.
“Dari mana duit beli beginian?”
Mang Okem tertawa.
“Katanya Mr.Retewew dapat rezeki.”
“Rezeki dari mana?”
Mang Okem mengangkat bahu.
“Mungkin pasang nomor.”
Mang Baronang tertawa kecil.
“Kalau dari judi, berarti uang haram.”
Mang Okem menyeringai.
“Kalau dari bantuan rakyat?”
Semua terdiam sejenak.
Mang Ajuwon berkata pelan.
“Beberapa bulan lalu ada uang warga dikumpulkan. Dua ribu perak.”
Mang Baronang mengetuk meja.
“Kalau cuma dua ribu, mana cukup buat beginian.”
Ia menatap ukiran naga di kaki meja.
“Jangan-jangan dari dana syurga.”
Mereka tertawa.
Namun tawa itu terdengar seperti seseorang yang sedang menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.
Meja yang Menghilang
Keesokan malamnya mereka kembali ronda.
Namun meja gaplek itu sudah tidak ada.
Mang Okem langsung berdiri.
“Dicuri?”
Mang Ajuwon menggeleng.
“Masa iya meja sebesar itu dicuri.”
Mang Klepeh tertawa.
“Siapa yang mau nyuri meja gaplek?”
Mang Baronang berkata santai.
“Bukan dicuri.”
“Tadi siang Mr.Retewew yang bawa lagi.”
Semua menoleh.
“Katanya meja itu bukan untuk pos ronda.”
Radio tua masih menyala.
Namun tak ada yang benar-benar mendengarnya.
Mang Okem bertanya pelan.
“Terus uang yang dua ribu perak itu?”
Tidak ada jawaban.
Mang Ajuwon memungut kartu gaplek yang jatuh.
“Kita ini cuma penjaga malam.”
Mang Klepeh menyambung dengan senyum miring.
“Bukan penjaga uang.”
Mereka tertawa lagi.
Tawa yang terdengar seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya, tetapi pura-pura tidak tahu.
Kabar yang Tidak Mengejutkan
Beberapa minggu kemudian kabar datang dari kota.
Beberapa pengurus dana syurga ditangkap karena menyelewengkan dana.
Kampung Minikow tidak terlalu kaget.
Karena sebenarnya semua orang sudah tahu.
Hanya saja mereka tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya.
Di pos ronda, empat sekawan kembali duduk.
Hujan turun pelan.
Mang Ajuwon memandang sudut ruangan tempat meja gaplek itu pernah berdiri.
Ia berkata pelan.
“Meja itu sebenarnya tidak pernah hilang.” ada kok.
“Dipakai setiap malam.”
Mang Okem bertanya.
“Untuk apa?”
Mang Ajuwon tersenyum pahit.
“Untuk main gaplek.”
Gerimis makin deras.
Radio tua masih memutar dangdut irama koplo
Namun tak seorang pun benar-benar mendengarnya.
Karena mereka akhirnya sadar sesuatu yang sederhana.
Siang hari uang syurga dipotong.
Malam hari uang itu berubah menjadi meja permainan.
Aroma uang baru yang dulu semerbak di halaman Kantor Dana syurga…
ternyata bukan aroma rezeki.
Melainkan bau samar dari sesuatu yang jauh lebih busuk.
Sesuatu yang tumbuh diam-diam di tangan para tuyul berdaki
Sesuatu yang tidak pernah tercatat di buku bantuan.
Namun selalu tercetak rapi di wajah orang-orang yang kehilangan haknya.
Dan di Kampung Minikow,
korupsi tidak selalu berbentuk miliaran rupiah.
Kadang ia hanya berbentuk sebuah meja gaplek.
Yang dibeli dari potongan uang perak
orang banyak.
# Cerita Pendek berjudul “Meja Gaplek Yang Tidak Pernah Hilang” ini sepenuhnya merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa yang terdapat di dalam cerita hanyalah hasil imajinasi penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, atau kejadian dengan individu maupun peristiwa nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan yang tidak disengaja














