Gambar ilustrasi
Palembang | Duta Berita Nusantara
“Bangunan Tua Itu Tidak Angker… Tapi Banyak Orang Takut Lewat di Depannya”
(Kisah Kampung Minikow – Episode 1)
Oleh : Ki Bagus A.H (Jurnalis/Pegiat Sosial Budaya)
Kampung Minikow punya banyak cerita. Sebagian lucu. Sebagian menyedihkan Dan sebagian lagi… terlalu aneh untuk dijelaskan.
Sore itu Mang Abi duduk di jerambah kayu di tengah danau buatan.
Tempat nongkrong paling damai di Minikow.
Di bawah pohon rindang yang akarnya hampir menyentuh air, Mang Abi duduk santai dengan peci dan sarung tidur kotak-kotak.
Di depannya, Mang Lem sedang menyeduh kopi hitam pekat.
“Jangan pakai gula,” kata Mang Abi.
Mang Lem tertawa kecil.
“Sejak kapan kau suka pahit, Bi?”
Mang Abi menyeruput kopi itu pelan.
“Sejak hidup makin manis buat orang lain.”
Mereka tertawa kecil.
Angin sore bertiup pelan, membawa aroma air danau.
Beberapa saat kemudian Mang Abi berkata pelan.
“Lem… denger berita tidak?”
Mang Lem menoleh.
“Berita apa?”
Mang Abi menghela napas.
“Ada sandal hilang sebulan.”
Mang Lem langsung duduk tegak.
“Terus?”
Mang Abi menatap ke arah jalan raya yang mulai sepi.
“Katanya… sandal itu tiba-tiba sudah berada di dalam bangunan tua.”
Mang Lem mengerutkan dahi.
“Bangunan tua yang mana?”
Mang Abi menunjuk ke arah jalan di ujung danau.
Bangunan tua besar berdiri di pinggir jalan,Gayanya seperti bangunan Eropa lama.
Pagarnya tinggi.
Lahannya luas.
Namun anehnya…
tidak ada yang benar-benar tahu siapa pemiliknya.
“Serius kau, Bi?” tanya Mang Lem.
Mang Abi mengangguk.
“Beberapa hari ini warga Minikow datang berduyun-duyun ke sana.”
“Ada sekitar sepuluh orang lebih,” kata Mang Lem.
“Iya.”
“Mereka mencari sandal itu.”
Mang Lem menelan ludah.
“Ketemu?”
Mang Abi diam sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Belum.”
Mang Lem menggaruk kepala.
“Tapi kenapa semua orang curiga sama
bangunan tua itu?”
Mang Abi tersenyum tipis.
“Karena katanya…”
Mang Lem langsung mendekat.
“Katanya apa?”
Mang Abi menatap danau yang mulai gelap.
“Bangunan tua itu milik orang kaya tapi nggak penting.”
Mang Lem makin penasaran.
“Orang kaya tapi nggak penting siapa?”
Mang Abi tertawa kecil.
“Pemain kesohor…”
Mang Lem menunggu.
“…tapi nggak mau tekor.”
“Hahahahaha!”
Tawa mereka pecah.
Suara tawa itu memantul di seluruh danau buatan.
Mang Lem sampai menepuk lututnya.
“dia nggak mau tekor!”
Mang Abi hanya menggeleng.
Namun dari kejauhan…
bangunan tua itu tetap berdiri.
Sepi.
Sunyi.
Dan anehnya…
tidak terasa angker.
Padahal banyak cerita berputar di sekelilingnya.
Di balik pagar besinya…
beberapa orang berbaju batik kelonan gaya Eropa berdiri rapi.
Diam.
Menunduk.
Seolah menjaga rahasia.
Seolah berkata lirih kepada dunia:
“Apakah salah dan dosaku… wahai pujangga?”
Mang Abi menatap matahari yang tenggelam.
Lalu berkata pelan kepada Mang Lem.
“Di Kampung Minikow, Lem…”
“Yang tidak terlihat menakutkan…”
“kadang justru yang paling menyimpan cerita.”
Dan malam pun turun perlahan.
Tanpa ada yang tahu…
bahwa dari jendela bangunan tua itu…
” Seseorang sedang memperhatikan Kampung Minikow ”
#Bersambung
#Episode 2
Catatan Penulis
Cerita dalam tulisan ini merupakan karya fiksi dan satire sosial. Apabila terdapat kemiripan nama, tempat, peristiwa, maupun tokoh, hal tersebut hanyalah ilustrasi dan kebetulan semata, tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada pihak mana pun.














