AgamaBALI

Ajaran Bhagavad Gita: Menjaga Alam adalah Tanggung Jawab Spiritual Manusia

7
×

Ajaran Bhagavad Gita: Menjaga Alam adalah Tanggung Jawab Spiritual Manusia

Sebarkan artikel ini

Bali | Duta Berita Nusantara

Menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari ajaran spiritual. Hal ini disampaikan Ketut Purniti, S.Ag., M.Pd.H., yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia dan alam sebagaimana tertuang dalam kitab suci Hindu.

Menjaga alam dan lingkungan hidup sejatinya merupakan bagian dari ajaran suci yang telah diwariskan dalam kitab-kitab Hindu. Hal tersebut disampaikan Ketut Purniti, S.Ag., M.Pd.H., seorang pemerhati spiritual yang aktif mengkaji Bhagavad Gita.

Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan alam. “Alam akan selalu menjaga kita jika kita mampu memelihara dan menjaganya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam Bhagavad-gītā terdapat ajaran tentang hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan. Salah satu sloka menyebutkan bahwa seluruh makhluk hidup bergantung pada makanan, makanan bergantung pada hujan, dan hujan terjadi karena adanya yadnya atau pengorbanan suci.

Makna tersebut menegaskan bahwa keseimbangan alam hanya akan terjaga jika manusia hidup sesuai dharma atau hukum Tuhan. Sebaliknya, kerusakan lingkungan terjadi ketika manusia tidak lagi hidup selaras dengan nilai-nilai spiritual.

Lebih lanjut, Ketut menjelaskan bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan dijaga dengan rasa syukur. Dalam ajaran tersebut, manusia diingatkan bahwa mengambil hasil alam tanpa kesadaran spiritual diibaratkan sebagai tindakan “mencuri”.

“Manusia bukanlah pemilik bumi, melainkan hanya sebagai pengelola. Tuhanlah pemilik sejati alam semesta,” jelasnya.

Tak hanya dalam Bhagavad Gita, ajaran serupa juga ditemukan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, yang menggambarkan alam sebagai manifestasi energi Tuhan. Dalam kisah Raja Pṛthu, bumi diibaratkan sebagai sapi yang akan memberikan hasil apabila diperlakukan dengan bijak.

Sebaliknya, jika manusia bersikap rakus dan merusak, maka alam akan kehilangan keseimbangannya dan tidak lagi memberikan hasil secara optimal.

Ajaran tersebut juga menekankan prinsip keberlanjutan, di mana manusia dianjurkan untuk mengambil sumber daya alam secukupnya sesuai kebutuhan, serta menghindari eksploitasi berlebihan.

Selain itu, alam juga dipandang sebagai guru spiritual. Unsur-unsur seperti bumi, air, udara, dan api mengajarkan manusia tentang kehidupan, sehingga harus dihormati dan dijaga.

Dari kedua kitab suci tersebut, terdapat beberapa prinsip utama yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak serakah, hidup dengan rasa syukur, tidak berlebihan, serta menjadikan menjaga alam sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan.

Di akhir penyampaiannya, Ketut mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Kita harus bersatu dan bergandengan tangan menjaga lingkungan sesuai ajaran kitab suci, agar kehidupan menjadi nyaman, harmonis, dan penuh kedamaian,” pungkasnya.