Duta Berita Nusantara |Gianyar
Perkembangan pariwisata berbasis organik terus dikembangkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Dengan dukungan program strategis serta pendanaan dari pemerintah pusat, Desa Guwang kini mulai dikenal sebagai salah satu desa wisata yang mengedepankan konsep alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal yang harmonis sesuai filosofi Tri Hita Karana.
Sekretaris Pokdarwis Desa Guwang, Anak Agung Gede Oka Widyana menjelaskan bahwa pengembangan potensi desa dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat dari tujuh banjar dinas yang ada di Desa Guwang. Bahkan, dua banjar di antaranya aktif berkolaborasi dalam kegiatan adat dan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Menurutnya, peran Pokdarwis tidak hanya sebagai pengelola destinasi, tetapi juga sebagai penggali potensi lokal yang mampu menghadirkan pengalaman wisata alami dan autentik bagi wisatawan.
“Kami ingin Desa Guwang berkembang bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai desa yang tetap menjaga budaya, alam, dan kehidupan masyarakatnya. Wisatawan yang datang kami harapkan bisa merasakan suasana alami dan kehidupan masyarakat Bali yang sesungguhnya,” ujar Anak Agung Gede Oka Widyana.
Salah satu destinasi unggulan yang menjadi daya tarik utama adalah Hidden Canyon Beji Guwang yang berada di aliran Sungai Wos. Destinasi ini menawarkan pengalaman menyusuri sungai dengan panorama tebing batu alami yang terbentuk unik menyerupai ukiran alam. Hidden Canyon memiliki tiga spot utama dengan panjang lintasan sekitar dua kilometer dan waktu tempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Sebelum dikenal luas seperti saat ini, kawasan tersebut oleh masyarakat setempat disebut Batu Kelet. Keindahan alam yang masih alami membuat destinasi ini banyak diminati wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa.
Selain wisata alam, Desa Guwang juga mulai mengembangkan sektor hunian wisata seperti homestay, guest house, hingga villa yang berdiri di kawasan persawahan. Awalnya, masyarakat hanya mempunyai dua kamar dari hunian rumah penduduk untuk tamu, namun kini mulai berkembang menjadi hunian wisata yang telah terverifikasi. Konsep yang ditawarkan tetap mempertahankan nuansa alami dan kehidupan masyarakat desa sehingga wisatawan dapat merasakan pengalaman tinggal yang menyatu dengan budaya lokal dan lingkungan sekitar.
Menurut Anak Agung Gede Oka Widyana, Desa Guwang memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan kawasan wisata populer seperti Ubud dan Sanur. Ditambah lagi dengan hamparan sawah yang masih asri dan alami, Desa Guwang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata organik. Saat ini masyarakat mulai memproduksi beras organik yang dikelola langsung oleh para petani lokal bersama tamu atau pihak yang memiliki lahan pertanian. Konsep pertanian organik di Bali dinilai memiliki nilai berbeda karena tidak hanya mengedepankan kesehatan, tetapi juga unsur spiritual dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
“Pertanian organik di Bali memiliki nilai spiritual yang kuat karena ada hubungan antara manusia, alam, dan energi kehidupan. Itu yang membuat konsep organik di Desa Guwang berbeda dengan daerah lain,” tambahnya.
Melalui pengembangan desa wisata berbasis organik ini, Pokdarwis Desa Guwang berharap wisatawan yang datang dapat memberikan pengalaman positif sekaligus umpan balik untuk pengembangan desa ke depan. Promosi wisata dilakukan secara alami melalui cerita dan pengalaman wisatawan yang datang, termasuk memperkenalkan produk beras organik khas Desa Guwang kepada masyarakat luas. Dengan konsep wisata alam, budaya, dan pertanian organik yang berpadu harmonis, Desa Guwang optimistis mampu berkembang menjadi salah satu desa pariwisata unggulan di Bali.














