LangkatTNI AD

Bahu-Membahu di Gebang: Ketika Seragam Hijau dan Kaos Oblong Melebur

7
×

Bahu-Membahu di Gebang: Ketika Seragam Hijau dan Kaos Oblong Melebur

Sebarkan artikel ini

Langkat| Duta Berita Nusantara

Di bawah komando taktis prajurit, personel TNI-Polri dan w arga desa melebur di bawah terik Langkat. Sebuah potret gotong royong yang membuktikan bahwa infrastruktur terbaik lahir dari rahim kebersamaan, bukan sekadar proyek negara.

Sejak fajar menyingsing di Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, riuh rendah suara cangkul dan deru mesin pengaduk semen sudah memecah kesunyian. Di bawah komando teknis Letda Inf M. Rezky, puluhan personel TNI, Polri, dan warga sipil berbagi tugas. Tidak ada sekat pangkat atau status sosial; yang ada hanya target agar jembatan desa segera berdiri tegak.

Pemandangan dalam program TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat ini menjadi potret kontras yang menarik di tengah isu renggangnya relasi sosial di beberapa tempat. Di Gebang, sinergi itu justru menebal.

“Kami memulai setiap pagi dengan arahan teknis yang presisi. Jembatan ini harus kokoh karena akan dilewati kendaraan pengangkut hasil bumi setiap hari. Keamanan adalah harga mati,” kata Letda Rezky di sela-sela kesibukannya.

Program TMMD, yang rutin digelar, kali ini membidik titik krusial di Langkat.  Wilayah yang mayoritas warganya menggantungkan hidup dari laut dan sawah ini seolah terlupakan dari akses mobilitas yang manusiawi. Selama bertahun-tahun, janji-janji pembangunan hanya mampir tanpa realisasi, hingga akhirnya gotong royong membuktikan taringnya.

Kolaborasi ini melahirkan kepuasan komunal. Warga desa tidak lagi memandang tentara sebagai sosok yang kaku, melainkan sebagai rekan kerja. Sebaliknya, prajurit TNI mendapatkan kembali marwahnya sebagai “tentara rakyat”.

Keberhasilan pembangunan jembatan ini memicu optimisme baru. Selain memangkas waktu tempuh antar dusun, jembatan ini menjadi bukti empiris: saat negara hadir melalui instrumennya dan masyarakat menyambutnya dengan gotong royong, ketertinggalan wilayah sedalam apa pun bisa dipangkas. Bagi warga Pasar Rawa, jembatan baru ini adalah simbol bahwa mereka tak lagi berjalan sendiri di pinggiran pembangunan.(red)