BeritaCERPENNasional

JALAN AMAN MENUJU ORANG DALAM

3
×

JALAN AMAN MENUJU ORANG DALAM

Sebarkan artikel ini

JALAN AMAN MENUJU ORANG DALAM

Hari ke 4

(Kitab Suci Saku Penjaga Gawang Korupsi)

Serial Cerpen DBN

Oleh: Ki Bagus Arfan Hasbullah                  ( Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara)

Pagi itu warung kopi Mang Ujang lebih ramai dari biasanya.

Mang Ebin datang tergesa-gesa sambil membawa koran.

“Waduh, Mang Robin!”

“Ada apa lagi, Bin?”

“Lagi-lagi berita korupsi.”

Mang Robin tidak terkejut.

Ia tetap tenang meniup kopi hitamnya.

Mang Ebin duduk lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Saya kadang bingung, Mang.”

“Bingung apa?”

“Katanya sudah banyak aturan. Sudah banyak pengawas. Sudah banyak penegak hukum. Tapi kenapa korupsi seperti tidak pernah habis?”

Mang Robin tersenyum.

“Karena korupsi itu bukan sekadar masalah aturan.”

“Lalu?”

“Masalah hati.”

Mang Ebin terdiam.

Mang Robin lalu merogoh kantong kemeja putihnya yang licin dan tersetrika rapi.

Dari sana keluar sebuah buku kecil.

Sampulnya sederhana.

Namun judulnya sangat mencolok.

KITAB SUCI SAKU PENJAGA GAWANG KORUPSI

Mang Ebin tertawa.

“Itu lagi… itu lagi…”

Mang Robin ikut tertawa.

“Jangan salah. Ini obat paten.”

“Obat paten apa?”

“Obat hama korupsi.”

Mang Ebin makin penasaran.

“Memangnya korupsi itu hama?”

Mang Robin mengangguk.

“Hama paling canggih.”

“Hama sawah?”

“Bukan.”

“Hama kebun?”

“Bukan.”

“Hama apa?”

Mang Robin memandang jauh ke arah jalan raya.

“Hama yang makan masa depan bangsa.”

Warung kopi mendadak terasa sunyi.

“Hama ini sudah menyebar ke mana-mana,” lanjut Mang Robin.

“Gaib ketika dicari.”

“Licin ketika diperiksa.”

“Licik ketika ditanya.”

“Kadang bersembunyi di balik kata-kata indah.”

Mang Ebin menyeruput kopinya perlahan.

“Menurut Mang Robin, kenapa bisa begitu?”

Mang Robin membuka kitab kecil itu.

Di halaman pertama tertulis:

INTEGRITAS

Halaman kedua:

KEJUJURAN

Halaman ketiga:

AMANAH

Halaman keempat:

JANGAN AMBIL YANG BUKAN HAKMU

Mang Ebin mengangguk.

“Bagus.”

Mang Robin lalu menutup buku itu.

“Sayangnya banyak yang menyimpan kitab ini di kantong.”

“Bukannya memang kitab saku?”

“Bukan itu maksud saya.”

Mang Ebin makin bingung.

Mang Robin tersenyum tipis.

“Kitabnya masuk kantong.”

“Isinya tidak masuk hati.”

Mereka tertawa kecil.

Namun tawa itu cepat menghilang.

Karena mereka tahu, kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan.

Di luar sana rakyat sedang berjuang.

Bangun sebelum matahari terbit.

Bekerja hingga peluh membasahi pakaian.

Mengangkat beban.

Menahan lelah.

Menghitung uang receh agar dapur tetap mengepul.

Akhir bulan terkulai.

Awal bulan menjerit karena kebutuhan datang tanpa permisi.

Sementara itu, di berbagai tempat, jabatan sering diperebutkan.

Janji-janji manis ditebar.

Kata-kata indah diperdengarkan.

Amanah diucapkan berulang-ulang.

Namun setelah kursi empuk berhasil diduduki, sebagian orang berubah.

Bukan karena kursinya.

Melainkan karena keserakahan yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya.

Mang Ebin kemudian bertanya pelan.

“Mang…”

“Ya?”

“Apakah yang korupsi itu merasa punya orang dalam?”

Mang Robin tersenyum.

“Mungkin.”

“Orang dalam siapa?”

Mang Robin menatap langit.

“Lupa bahwa di atas semua jabatan, ada pengawasan yang tidak pernah tidur.”

Mang Ebin terdiam.

Untuk pertama kalinya pagi itu ia tidak bercanda.

Mang Robin melanjutkan.

“Manusia bisa saja menghindari kamera.”

“Bisa saja menghindari auditor.”

“Bisa saja menghindari pemeriksaan.”

“Tapi tidak bisa menghindari akibat dari perbuatannya.”

Angin pagi berembus pelan.

Warung kopi kembali riuh.

Namun pikiran Mang Ebin tetap tertuju pada kitab kecil di tangan Mang Robin.

“Lalu kenapa judul ceritanya Jalan Aman Menuju Orang Dalam, Mang?”

Mang Robin tertawa.

Karena banyak orang sibuk mencari orang dalam untuk mempermudah urusan dunia.

Padahal yang lebih penting adalah memperbaiki diri agar tidak menjadi orang yang mengkhianati amanah.

Mang Ebin ikut tertawa.

“Jadi jalan amannya apa?”

Mang Robin menunjuk kitab kecil itu.

“Integritas.”

“Kejujuran.”

“Tanggung jawab.”

“Dan rasa malu ketika hendak mengambil yang bukan haknya.”

Mang Ebin mengangguk mantap.

Hari semakin siang.

Kopi tinggal ampas.

Warung mulai ramai.

Orang-orang kembali pada urusannya masing-masing.

Namun sebelum beranjak pulang, Mang Robin membuka halaman terakhir kitab itu.

Di sana hanya ada satu kalimat.

“Bangsa tidak kekurangan orang pintar. Bangsa hanya membutuhkan lebih banyak orang yang setia menjaga amanah.”

Mang Ebin membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu memasukkannya ke dalam hati.

Karena akhirnya ia mengerti.

Hama korupsi memang sulit dibasmi.

Tetapi setiap orang tetap bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari hama itu.

TAMAT

Pesan Mang Robin:

“Kalau Kitab Suci Saku Penjaga Gawang Korupsi hanya tersimpan di kantong kemeja, ia akan menjadi hiasan. Tetapi jika isinya hidup dalam perilaku, ia akan menjadi obat paten bagi setiap amanah yang dipercayakan.” 

#33DayIntegrityChallenge #AksiKita #LawanKorupsi #BiasakanYangBenar #JurnalisHebatBerintegritas

Penulis: Ki Bagus Editor: Redaksi Dbn