BeritaCERPENPalembang

PENJAGA GUDANG PURA-PURA TIDUR

3
×

PENJAGA GUDANG PURA-PURA TIDUR

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

#HARI 5

PENJAGA GUDANG PURA-PURA TIDUR

Oleh: Ki Bagus Arfan 

( Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara)

Jurnalis Hebat Berintegritas

Sore itu Mang Robin dan Mang Ebin duduk di gardu ronda sambil menikmati kopi hitam.

Di depan mereka berdiri sebuah gudang besar milik warga kampung.

Mang Ebin memandang gudang itu sambil menghela napas.

“Bin, kenapa melamun?” tanya Mang Robin.

Mang Ebin menunjuk ke arah gudang.

“Itu gudang rakyat, Mang. Isinya hasil kerja keras warga. Beras, bantuan, dan berbagai kebutuhan kampung.”

Mang Robin mengangguk.

“Terus kenapa?”

Mang Ebin tersenyum tipis.

“Aku heran. Gudangnya dijaga banyak orang. Ada penjaga pintu, penjaga jendela, penjaga pagar, bahkan penjaga kunci. Tapi isinya tetap berkurang setiap hari.”

Mang Robin tertawa kecil.

“Itu bukan penjaga, Bin.”

“Lalu?”

“Itu penghias seragam.”

Mang Ebin terkekeh.

Tak lama kemudian terlihat seseorang keluar dari gudang membawa satu karung.

Besoknya dua karung.

Lusa tiga karung.

Anehnya, para penjaga hanya melihat.

Tidak ada yang bertanya.

Tidak ada yang mencegah.

Tidak ada yang melapor.

Mang Ebin mengernyit.

“Mereka tidak lihat ya, Mang?”

Mang Robin menyeruput kopi.

“Lihat.”

“Kalau begitu kenapa diam?”

“Pura-pura tidak lihat.”

Mang Ebin makin bingung.

“Kenapa pura-pura?”

Mang Robin tersenyum.

“Karena ada yang takut kehilangan jabatan.”

“Ada yang takut kehilangan teman.”

“Ada yang takut kehilangan kenyamanan.”

“Dan ada yang merasa selama bukan dia yang mengambil, berarti dia tidak bersalah.”

Mang Ebin terdiam.

Beberapa hari kemudian gudang itu semakin kosong.

Warga mulai ribut.

Mereka mencari siapa yang harus bertanggung jawab.

“Akhirnya pencurinya tertangkap, Mang?” tanya Ebin.

Mang Robin menggeleng.

“Bukan cuma pencurinya yang dicari.”

“Lho?”

“Warga mulai bertanya, kenapa para penjaga yang digaji untuk mengawasi malah sibuk pura-pura tidur?”

Mang Ebin langsung menepuk pahanya.

“Nah itu dia!”

Mang Robin melanjutkan,

“Koruptor memang merusak karena keserakahannya.”

“Tapi kerusakan menjadi besar karena penjaga yang seharusnya meniup peluit justru menutup mata.”

Mang Ebin mengangguk pelan.

“Jadi yang salah bukan cuma yang mengambil?”

“Bukan.”

“Membiarkan yang salah tetap berlangsung padahal punya kewenangan untuk mencegahnya juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.”

Angin sore berembus pelan.

Mang Ebin memandang gudang yang mulai kosong itu.

“Berarti penjaga gudang harus selalu terjaga ya, Mang?”

Mang Robin tersenyum.

“Bukan cuma terjaga.”

“Tapi berani.”

“Karena amanah rakyat tidak hilang hanya oleh tangan yang mencuri.”

“Tetapi juga oleh penjaga yang pura-pura tidur.”

Mereka pun terdiam.

Sementara di kejauhan, suara rakyat terus terdengar menunggu para penjaga amanah benar-benar bangun dan menjalankan tugasnya.

Sudahkah para penjaga gudang rakyat benar-benar terjaga?

#33DayIntegrityChallenge

#HariKe5

#JurnalisHebatBerintegritas

#LawanKorupsi

#BiasakanYangBenar

#AksiKita

#IntegritasTanpaKompromi

#BeraniKarenaBenar

#Antikorupsi

#IndonesiaBerintegritas

Penulis: Ki Bagus Editor: Redaksi Dbn