Scroll untuk baca artikel
BeritaSerba SerbiSerial cerita viral DBN

Telunjuk Lurus, Kelingking Berkait

4
×

Telunjuk Lurus, Kelingking Berkait

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Telunjuk Lurus, Kelingking Berkait

Oleh: Shintalya Azis

“Jangan jadi orang munafik!”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut sang direktur di hadapan para peserta rapat. Suaranya keras, penuh emosi, seolah sedang menghakimi seseorang yang baru saja melakukan pengkhianatan besar terhadap perusahaan.

Semua mata akhirnya tertuju kepada seorang manager yang mencoba duduk dengan tenang di ujung meja rapat. Wajahnya memerah. Dia tidak merasa bersalah hanya karena ia menyarankan untuk tidak menempuh jalan pintas. Dan itu bukan suatu kekeliruan.

Perusahaan sedang menunggu izin impor tambahan bahan baku yang sangat dibutuhkan agar roda produksi tetap berjalan. Tanpa izin itu, operasional pabrik terancam terganggu. Target produksi bisa meleset. Laporan kinerja direktur pun ikut dipertaruhkan.

Sang manager telah mempelajari seluruh regulasi, berkonsultasi dengan instansi terkait, melengkapi setiap dokumen, dan menyusun langkah-langkah sesuai ketentuan pemerintah. Di hadapan rapat dengan direksi ia menjelaskan seluruh proses, termasuk risiko, waktu yang diperlukan, dan berbagai konsekuensinya.

“Saya kira, kita sebaiknya mengikuti mekanisme yang berlaku.” Katanya dengan tenang.

“Tidak ada jalan yang lebih cepat selain memenuhi seluruh persyaratan.”

Direktur menggeleng sinis. “Kalau semua mengikuti teori seperti itu, perusahaan ini tidak akan pernah maju.” Ruangan menjadi hening.

Lalu keluarlah kalimat yang menyesakkan.

“Dasar munafik!”

Manager itu terdiam. Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena menyadari bahwa kata munafik telah lama hilang bagi orang yang terlalu lama hidup dalam cara-cara yang salah.

Bagi sang direktur, mengurus perizinan selalu berarti mencari orang dalam, lewat pintu jalur belakang. Kasih saja “uang pelicin”, atau memanfaatkan kedekatan dengan pejabat tertentu.

Bertahun-tahun hal tersebut terbukti berhasil. Bila tidak cerdik, tidak akan bisa menyelesaikan urusan. Ia menganggap cara itu sebagai kecerdikan, bukan pelanggaran.

Maka ketika seseorang datang membawa kepatuhan terhadap aturan, justru itulah yang dianggap aneh. Kejujuran baginya sudah sulit ditemukan. Yang ada hanyalah sebagai kepura-puraan. Integritas dianggap sebagai suatu kebodohan dan kepatuhan dicurigai sebagai pencitraan.

Nurani seseorang yang terlalu lama hidup dengan penyimpangan, maka lambat laun ia akan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Yang bengkok terasa lurus. Yang lurus justru dianggap bengkok.

Ibarat ungkapan lama, “Telunjuk lurus, kelingking berkait.” Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada mereka yang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi diam-diam bersekutu dengan kepentingan yang bertentangan dengan ucapannya. Telunjuknya menunjuk ke arah kejujuran. Namun kelingkingnya diam-diam berkait dengan transaksi gelap.

Di satu sisi, mulut berkoar-koar menyerukan tata kelola yang baik. Menjadi penanggung jawab Kepatuhan. Tetapi di sisi lain, tangannya sibuk menjaga hubungan yang membuat aturan dapat dibeli.

Yang lebih ironis, yang benar justru dituduh munafik sedangkan mereka membiarkan kelingkingnya berkait dengan praktik-praktik yang menyimpang dimana mereka justru merasa dirinya paling memahami cara bekerja.

Inilah salah satu dampak paling berbahaya dari budaya korupsi. Ia bukan hanya merusak sistem, ia juga merusak kompas moral manusia. Ketika kebiasaan melanggar aturan berlangsung terlalu lama, kejujuran akan tampak asing. Orang yang berintegritas dianggap tidak mampu bekerja, terlalu idealis, bahkan dicurigai memiliki maksud tersembunyi.

Korupsi akhirnya tidak lagi sekadar kejahatan administratif. Tapi ia berubah menjadi cara berpikir, menjadi budaya dan menjadi ukuran keberhasilan.

Ketika itu terjadi, kata munafik tidak lagi diarahkan kepada pelaku kemunafikan, tetapi justru kepada mereka yang masih berusaha menjaga integritas.

Bagaimana pun, integritas tidak pernah diukur dari seberapa lantang seseorang berbicara tentang kejujuran. Ia juga tidak diukur dari seberapa banyak slogan antikorupsi yang diucapkan.

Integritas lahir saat ucapan, tindakan, dan hati berjalan pada garis yang sama. Karena telunjuk yang lurus tidak berarti apa-apa tatkala kelingkingnya diam-diam masih berkait dengan kepentingan yang mencederai hukum.

Palembang, 27 Juli 2026