Scroll untuk baca artikel
Berita

Tembang Batanghari Sembilan Terancam Kehilangan Jati Diri, Akademisi dan Budayawan Rumuskan Kaidah Langgam Baku

5
×

Tembang Batanghari Sembilan Terancam Kehilangan Jati Diri, Akademisi dan Budayawan Rumuskan Kaidah Langgam Baku

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, salah satu warisan budaya lisan masyarakat Melayu Sumatera Selatan, Tembang Batanghari Sembilan, menghadapi ancaman serius. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun itu mulai kehilangan penutur, belum memiliki kaidah langgam yang baku, serta masih minim dokumentasi ilmiah. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, identitas asli kesenian ini dikhawatirkan akan memudar bahkan hilang ditelan zaman.

Kekhawatiran tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan” yang digelar di Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (1/8/2026).

FGD yang dilaksanakan secara luring dan daring tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasi Wanda Lesmana, mahasiswa Program Doktor (S3) Peradaban Islam Konsentrasi Islam Melayu Nusantara, UIN Raden Fatah Palembang.

Kegiatan ini dihadiri Ketua Program Studi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang Dr. Mohammad Syawaludin, M.A., Prof. Dr. Duski Ibrahim, M.Ag. selaku promotor, Dr. Alimron, M.Ag. sebagai ko-promotor, serta sejumlah budayawan, akademisi, praktisi seni, dan penutur Tembang Batanghari Sembilan. Di antaranya Ribuan Nata, Vebri Al Lintani, Jimmy Delvian, Anwar Putra Bayu, Linny Oktovianny, Saudi Berlian, Ali Imron, Taufik Wijaya, dan Fekri Juliansyah.

Pelestarian Budaya Harus Beradaptasi dengan Zaman

Ketua Program Studi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Mohammad Syawaludin, M.A., menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak lagi dapat mengandalkan pewarisan secara lisan semata.

Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara akademisi, praktisi seni, pemerintah, dan masyarakat agar Tembang Batanghari Sembilan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.

Ia menilai forum ilmiah seperti FGD menjadi ruang strategis untuk merumuskan karakteristik dan kaidah langgam Tembang Batanghari Sembilan secara sistematis sehingga dapat menjadi rujukan akademik sekaligus pedoman bagi generasi muda.

“Selama ini banyak kekayaan budaya yang diwariskan secara lisan, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, hasil penelitian seperti ini sangat penting sebagai referensi akademik maupun upaya pelestarian budaya,” ujarnya.

Selain itu, Syawaludin menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital sebagai media pelestarian budaya. Menurutnya, platform digital seperti YouTube dan berbagai media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan Tembang Batanghari Sembilan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Ia berharap forum-forum ilmiah serupa terus dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak praktisi seni lokal agar upaya pelestarian tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga tumbuh di tengah masyarakat.

Sastra Lisan yang Memerlukan Dokumentasi

Sementara itu, Dr. Alimron, M.Ag., selaku ko-promotor, mengaku bangga karena penelitian disertasi tersebut mengangkat Tembang Batanghari Sembilan sebagai objek kajian ilmiah.

Menurutnya, kesenian tersebut merupakan salah satu identitas budaya Melayu Sumatera Selatan yang memiliki nilai seni, sastra, sejarah, hingga spiritualitas yang sangat tinggi. Namun, sebagai sastra lisan, dokumentasi mengenai tembang tersebut masih sangat terbatas.

“Sebenarnya banyak referensi yang dapat digali. Namun karena Tembang Batanghari Sembilan merupakan sastra lisan, data dan dokumentasinya tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara akademisi dan para praktisi seni agar warisan budaya ini dapat didokumentasikan sekaligus dilestarikan dengan baik,” katanya.

Ia mengingatkan, tanpa dokumentasi yang memadai, berbagai variasi langgam yang berkembang di masyarakat berpotensi berubah tanpa acuan yang jelas sehingga dapat mengikis keaslian Tembang Batanghari Sembilan dari generasi ke generasi.

Merumuskan Kaidah Langgam yang Baku

Dalam kesempatan tersebut, Wanda Lesmana menjelaskan bahwa penelitian disertasinya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi etnomusikologis.

Penelitian itu bertujuan merumuskan kaidah langgam Tembang Batanghari Sembilan yang sistematis, baku, dan normatif sebagai landasan pelestarian warisan budaya takbenda masyarakat Melayu Sumatera Selatan.

Menurut Wanda, penelitian tersebut dilatarbelakangi semakin kuatnya pengaruh modernisasi, globalisasi, dan komodifikasi budaya yang menyebabkan pemahaman terhadap bentuk asli Tembang Batanghari Sembilan mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda.

Selain itu, hingga kini belum terdapat rumusan akademik yang secara komprehensif menjelaskan kaidah langgam tembang tersebut sehingga setiap daerah maupun penutur memiliki interpretasi yang berbeda.

“Tembang Batanghari Sembilan merupakan seni tutur lisan Melayu yang berkembang di sepanjang Daerah Aliran Sungai Musi. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif etnomusikologi, sastra lisan, dan nilai-nilai Islam sebagai satu kesatuan ekspresi estetika dan spiritual,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dialektika antara pola melodi yang tetap dipertahankan sebagai identitas utama dengan berbagai variasi yang muncul mengikuti perkembangan zaman. Perubahan media pertunjukan dari ruang-ruang agraris dan kawasan sungai menuju festival budaya, media digital, hingga industri kreatif dinilai memperkaya ekspresi, namun juga berpotensi menggeser bentuk aslinya apabila tidak memiliki pedoman yang jelas.

Warisan Budaya Bernilai Dakwah

Wanda menambahkan, Tembang Batanghari Sembilan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga media dakwah kultural masyarakat Melayu. Syair-syair yang dibawakan mengandung nilai tauhid, akidah, akhlak, dan adab yang selaras dengan ajaran Islam serta menjadi bagian penting dari identitas peradaban Melayu.

Karena itu, penelitian tersebut juga merumuskan strategi pelestarian berbasis falsafah Melayu “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”, sehingga proses pewarisan budaya tidak hanya mempertahankan bentuk keseniannya, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Melalui penelitian ini, Wanda berharap Tembang Batanghari Sembilan tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga memiliki standar akademik yang dapat dijadikan rujukan dalam pendidikan, penelitian, dokumentasi, hingga proses regenerasi para penutur dan pelaku seni.

Dengan demikian, salah satu identitas penting masyarakat Melayu Sumatera Selatan tersebut diharapkan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.