Duta Berita Nusantara | Palembang
BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA #Seri 3
Oleh : Kibagus Arfan H
Senja telah benar-benar hilang.
Namun Rafan masih berdiri di hadapan Kirana.
Tatapannya belum beranjak dari cincin yang melingkar di jari manis perempuan itu.
Cincin yang sederhana.
Namun entah mengapa…
Benda kecil itu terasa seperti dinding tinggi yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.
Rafan menarik napas panjang.
“Kirana…”
Suaranya terdengar berat.
Kirana tidak menjawab.
Ia masih menundukkan wajah.
Jemarinya perlahan menggenggam cincin itu.
Seolah benda tersebut menyimpan sebuah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
“Apakah… kau sudah menikah?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Rafan.
Kirana terdiam.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Kemudian ia menggeleng pelan.
“Tidak.”
Rafan menatapnya.
“Lalu cincin itu…?”
Kirana mengangkat wajah.
Matanya berkaca-kaca.
“Cincin ini bukan tanda bahwa aku telah menjadi milik seseorang.”
Rafan mengernyit.
“Lalu apa?”
Kirana menarik napas.
“Ini adalah tanda dari sebuah janji.”
“Janji?”
Kirana mengangguk.
“Janji yang pernah kubuat dua puluh tahun lalu.”
Rafan membeku.
Dua puluh tahun.
Angka itu kembali menghantam ingatannya.
Masa ketika mereka masih terlalu muda untuk memahami arti sebuah perpisahan.
Masa ketika sebuah janji terasa begitu sederhana.
Namun ternyata…
Janji itu mampu bertahan lebih lama daripada usia mereka sendiri.
“Kepada siapa kau berjanji?”
Kirana menatap danau.
“Padamu.”
Rafan terdiam.
Angin malam bergerak perlahan.
Pohon trembesi di belakang mereka kembali bergoyang.
Rafan seakan kehilangan kemampuan untuk bernapas.
“Padaku?”
Kirana mengangguk.
“Dua puluh tahun lalu… sebelum kita dipisahkan.”
Rafan mencoba mengingat.
Potongan-potongan masa lalu berputar di kepalanya.
Sebuah sore.
Danau.
Pohon trembesi.
Dua anak muda yang pernah percaya bahwa dunia akan selalu memberi mereka kesempatan.
Namun dunia ternyata memiliki rencana lain.
“Aku tidak mengerti.”
Kirana tersenyum tipis.
“Memang seharusnya kau tidak mengerti.”
“Kenapa?”
“Karena saat itu… aku memilih pergi tanpa menjelaskan apa pun.”
Rafan menatapnya tajam.
“Kenapa, Kirana?”
Kirana menundukkan kepala.
Air mata jatuh di pipinya.
“Karena aku ingin menyelamatkanmu.”
Rafan menggeleng.
“Dari apa?”
Kirana tidak langsung menjawab.
Ia justru melepas cincin dari jarinya.
Cincin itu diletakkan di telapak tangannya.
“Ini diberikan kepadaku pada hari terakhir sebelum aku pergi.”
Rafan menatap cincin itu.
“Siapa yang memberikannya?”
Kirana menutup telapak tangannya.
“Seseorang yang membuatku harus memilih.”
“Memilih apa?”
Kirana menatap Rafan.
“Antara kembali kepadamu… atau membiarkanmu tetap hidup tanpa harus menanggung dosa dari kesalahan yang bukan milikmu.”
Rafan semakin bingung.
“Kesalahan apa?”
Kirana menangis.
“Kesalahan keluargaku.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu…
Rafan merasa bahwa dua puluh tahun ternyata bukan sekadar jarak waktu.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang sengaja disembunyikan.
“Kirana… katakan semuanya.”
Kirana menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena ada satu hal yang harus kau ketahui lebih dulu.”
Rafan menunggu.
Kirana mendekat satu langkah.
Kemudian berkata pelan…
“Orang yang membuatku pergi dulu…”
Ia berhenti.
Tatapannya berubah.
“…masih hidup.”
Rafan membeku.
Darahnya serasa berhenti mengalir.
“Siapa?”
Kirana tidak menjawab.
Ia hanya memasukkan kembali cincin itu ke jari manisnya.
Kemudian menatap jalan yang mulai gelap.
“Aku belum bisa menceritakannya malam ini.”
“Kirana!”
Perempuan itu berhenti melangkah.
Namun tidak berbalik.
“Kalau kau benar-benar ingin tahu kenapa aku pergi…”
Suaranya terdengar lirih.
“Datanglah besok.”
Rafan menatapnya.
“Ke mana?”
Kirana perlahan menoleh.
“Ke tempat terakhir kita bertemu dua puluh tahun lalu.”
Rafan terdiam.
Kirana kemudian berjalan meninggalkan tepian danau.
Langkahnya perlahan menghilang dalam gelap.
Rafan tetap berdiri di bawah pohon trembesi.
Sendirian.
Namun kali ini…
Ia tidak lagi hanya memiliki kenangan.
Ia memiliki sebuah pertanyaan.
Dan sebuah janji.
Dua puluh tahun yang lalu, Kirana pergi tanpa penjelasan.
Dua puluh tahun kemudian…
Ia kembali membawa sebuah cincin dan rahasia yang belum selesai.
Rafan menatap permukaan danau.
Lalu berbisik,
“Selama dua puluh tahun aku menunggumu dalam doa…”
Ia menarik napas.
“Kalau kali ini kau kembali untuk memberiku jawaban…”
Tatapannya mengarah ke tempat Kirana menghilang.
“Aku akan menunggu sampai semuanya terungkap.”
Di kejauhan…
Kirana berhenti sejenak.
Tangannya kembali menyentuh cincin di jari manisnya.
Air matanya jatuh.
Ia berbisik kepada dirinya sendiri.
“Maafkan aku, Rafan…”
“Besok kau akan mengetahui semuanya.”
Kirana kemudian melangkah pergi.
Sementara di bawah pohon trembesi…
Rafan masih berdiri.
Tidak mengetahui bahwa pertemuan mereka esok hari akan membuka sebuah rahasia yang selama dua puluh tahun sengaja dikubur.
Sebuah rahasia…
Yang mungkin membuat cinta mereka kembali bersatu.
Atau justru…
memisahkan mereka untuk kedua kalinya.
Bersambung…..













