Scroll untuk baca artikel
BeritaSerba SerbiSerial cerita viral DBN

ALAMAT PULANG

5
×

ALAMAT PULANG

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara| Jakarta

Negeri yang Tak Pernah Menghapus Nama Kita

Oleh: Nurul Jannah

Semakin jauh kaki berjalan, semakin aku mengerti bahwa tidak semua tempat yang indah mampu membuat hati ingin menetap.

Ada tempat yang membuat kita kagum, ada yang membuat kita nyaman, tetapi hanya sedikit yang membuat hati berkata: aku ingin pulang.

Barangkali karena pulang bukan perkara seberapa sempurna sebuah tempat.

Pulang adalah tentang sebuah negeri yang tetap kita rindukan bahkan setelah berkali-kali kita keluhkan; tempat yang kekurangannya kita hafal, tetapi namanya tetap membuat dada bergetar ketika disebut dari kejauhan.

Dan semakin bertambah usia, aku semakin percaya: manusia boleh mempunyai banyak tempat untuk singgah, tetapi hatinya selalu menyimpan satu alamat untuk kembali.

Alamat itu, bagiku, bernama Indonesia.

*******

Aku pernah ditanya Nina, sahabatku,

“Kalau boleh memilih lahir di negara mana saja, kamu akan pilih mana?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun ternyata, menjawabnya tidak sesederhana memilih sebuah tempat di peta.

Ada negeri yang keretanya datang nyaris tanpa terlambat. Ada kota dengan trotoar begitu nyaman hingga orang betah berjalan kaki berkilometer-kilometer. Ada tempat yang musim gugurnya memesona, musim seminya membuat orang rela menunggu bunga bermekaran, dan sungainya begitu jernih hingga dasar air terlihat.

Aku pernah menikmati sebagian dari semua itu.

Jadi, mau tinggal di sana selamanya?”

Pertanyaan Nina kali ini membuatku terdiam. Saat itulah aku mengerti: nyaman dan pulang adalah dua perkara yang berbeda.

Pulang mempunyai aroma. Kadang berupa bawang merah yang sedang ditumis dari dapur tetangga. Kadang nasi hangat yang baru dibuka dari penanak. Kadang aroma tanah yang menguar selepas hujan pertama.

Pulang juga mempunyai suara. Azan dari masjid yang bersahutan menjelang Magrib. Ibu-ibu yang memanggil anaknya masuk rumah. Pedagang yang lewat di depan rumah dengan nada khas yang dari tahun ke tahun nyaris tidak berubah. Motor dengan knalpot terlalu berisik. Bahkan ayam tetangga yang seolah merasa seluruh gang adalah wilayah kekuasaannya.

Dan tentu saja, suara orang-orang yang bertanya,

“Sudah makan?”

“Sudah makan?”

Pertanyaan sederhana yang begitu akrab di Indonesia. Sering kali, yang ingin ditanyakan bukan hanya apakah perut kita sudah terisi, melainkan apakah kita baik-baik saja.

Ia seperti cara sederhana untuk berkata: “Aku peduli kepadamu.”

Mungkin itulah sebabnya aku mencintai negeri ini dengan cara yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh logika.

*******

Indonesia kadang membuat kesal. Jalan macet. Antrean panjang. Cuaca panas. Berita kadang membuat dahi berkerut. Orang-orang dapat berdebat panjang mengenai perkara yang keesokan paginya bahkan mungkin sudah lupa mereka perdebatkan.

Tetapi lucunya, ketika berada jauh darinya, hal-hal yang dahulu kita keluhkan justru sering menjadi hal pertama yang kita rindukan.

Sepiring pecel bisa membuat mata berbinar. Suara bahasa Indonesia di negeri asing membuat kepala spontan menoleh. Melihat sambal di meja makan terasa seperti bertemu saudara. Dan ketika pesawat mulai turun menembus langit negeri sendiri, ada perasaan yang sulit diterangkan.

Bulan Agustus selalu membuat perasaan itu datang lebih kuat. Merah Putih muncul di mana-mana. Di pagar rumah mewah. Di warung kecil. Di becak. Di truk. Di gerobak pedagang.

Bahkan di ujung bambu depan rumah yang cat pagarnya mungkin telah mengelupas.

Aku menyukai pemandangan itu. Karena pada bulan ini, setidaknya selama beberapa pekan, kita seperti diingatkan kembali bahwa di tengah segala perbedaan, sesungguhnya kita tinggal di rumah yang sama.

Rumah bernama Indonesia.  Rumah yang luar biasa besar. Ribuan pulau. Ratusan bahasa daerah. Beragam wajah. Beragam makanan. Beragam adat dan kebiasaan. Bahkan untuk mengatakan makanan itu lezat saja, kita mempunyai begitu banyak kata.

Namun ajaibnya, ketika Indonesia Raya dimainkan, kita sama-sama tahu kapan harus berdiri. Ketika Merah Putih dinaikkan, ada jutaan mata yang memandang warna yang sama.

Dan, begitulah rumah bekerja: penghuninya boleh berbeda, tetapi mereka mengetahui ke mana harus kembali.

Namun sebuah rumah tidak cukup hanya mempunyai bendera di halaman.

Rumah harus membuat penghuninya merasa aman. Rumah harus menyediakan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dan bermimpi. Rumah harus membuat orang tua dapat menjalani masa tuanya dengan bermartabat. Rumah harus memberikan kesempatan kepada mereka yang bekerja keras untuk menikmati hasil jerih payahnya.

Dan rumah yang baik tidak membiarkan satu kamar berpesta sementara kamar lainnya menahan lapar.

Di situlah, menurutku, pekerjaan kemerdekaan kita belum selesai. Setiap generasi mendapat giliran membereskan rumah. Ada generasi yang membangun fondasinya dengan darah dan nyawa.

Ada yang memperkuat dinding. Ada yang memperbaiki atap yang bocor. Ada yang membuka jendela agar cahaya dan udara masuk.

Dan ada pula generasi yang harus mempunyai keberanian untuk menunjuk bagian yang rusak dan berkata,

“Bagian ini perlu kita perbaiki.”,

Mengatakan bahwa rumah kita perlu diperbaiki bukan berarti membencinya. Bukankah justru karena mencintainya, kita tidak tega membiarkannya rusak?.

Menjelang satu abad Indonesia pada 2045, aku sering membayangkan negeri ini. Dan, yang muncul di kepalaku bukan gedung-gedung menjulang atau deretan angka statistik. Aku justru membayangkan sebuah rumah sederhana pada pagi hari.

Seorang anak bangun dan berangkat tanpa takut sekolahnya roboh.

Ibunya menyiapkan sarapan tanpa cemas harga pangan melonjak di luar jangkauan.

Ayahnya berangkat bekerja dengan keyakinan bahwa jerih payahnya dihargai secara layak.

Di sebelah rumah tinggal tetangga yang berbeda agama, berbeda suku, bahkan mungkin berbeda pilihan. Tetapi ketika ada yang sakit, mereka tetap mengetuk pintu membawa makanan.

Aku membayangkan petani tidak merasa menjadi orang asing di tanah yang selama puluhan tahun digarapnya.

Guru tidak kehabisan tenaga hanya untuk memperjuangkan kehidupan yang layak.

Orang-orang pintar tidak harus pergi jauh karena merasa negerinya tidak menyediakan ruang untuk berkarya.

Orang kecil tidak perlu mengenal orang besar terlebih dahulu untuk memperoleh keadilan.

Dan seorang anak perempuan di pelosok negeri berani menggantungkan cita-citanya setinggi anak-anak yang tumbuh di kota besar.

Kalau semua itu terjadi, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk meneriakkan bahwa Indonesia telah maju. Rakyat akan merasakannya.

*******

Aku pun semakin mengerti bahwa mencintai negeri tidak harus selalu terdengar gagah.

Kadang bentuknya sangat sederhana.

Mengembalikan uang kembalian yang berlebih.

Tidak menyerobot antrean.

Tidak membuang sampah dari jendela mobil.

Membayar orang yang bekerja untuk kita dengan layak.

Tidak menyebarkan kabar sebelum memastikan kebenarannya.

Tidak merasa paling Indonesia hanya karena orang lain berbeda dengan kita.

Mengajari anak meminta maaf.

Menghormati pekerjaan yang sering dianggap kecil.

Mematikan lampu ketika tidak digunakan.

Membeli dagangan tetangga.

Menolong tanpa terlebih dahulu bertanya, “Kamu kelompok siapa?”

Kelihatannya kecil memang. Namun, bukankah watak sebuah bangsa pada akhirnya dibentuk oleh watak manusia-manusia yang tinggal di dalamnya?.

Republik tidak hanya dibangun di gedung pemerintahan.

Republik juga dibangun di meja makan, ruang kelas, pasar, kantor, trotoar, tempat ibadah, halaman rumah, dan di dalam hati kita sendiri.

*******

Tahun 2045 nanti, aku tidak tahu akan berada di mana.

Mungkin aku masih diberi kesempatan menyaksikan Merah Putih berkibar pada pagi 17 Agustus.

Mungkin rambutku telah seluruhnya memutih.

Mungkin langkahku tidak lagi secepat hari ini.

Atau mungkin namaku hanya tinggal dalam doa dan ingatan orang-orang yang pernah mengenalku.

Itu tidak terlalu menakutkanku.

Ada pertanyaan lain yang jauh lebih mengusik:

Pernahkah keberadaanku membuat rumah besar bernama Indonesia ini sedikit lebih baik?

Tidak perlu seluruh Indonesia.

Terlalu luas.

Mungkin cukup satu sudut kecil yang Allah percayakan kepadaku.

Satu mahasiswa yang menemukan keberanian karena pernah aku bimbing.

Satu pohon yang tumbuh karena pernah aku tanam.

Satu orang yang merasa berharga karena pernah aku dengarkan.

Satu keputusan yang aku ambil dengan benar, ketika sebenarnya jauh lebih mudah berkompromi.

Satu anak yang belajar bahwa berbeda bukan alasan untuk membenci.

Barangkali begitulah manusia biasa, mencintai negeri yang luar biasa besar.

Bukan dengan menyelamatkan semuanya, melainkan dengan menjaga agar bagian yang dipercayakan kepadanya tidak ikut rusak.

*******

Kelak ketika generasi 2045 mengambil alih rumah ini, aku tidak ingin menyerahkan kuncinya sambil sibuk menjelaskan betapa hebat generasiku.

Biarlah mereka sendiri yang menilai.

Aku hanya bisa berharap, ketika mereka membuka pintu, mereka menemukan rumah yang masih hangat.

Masih ada ruang untuk bermimpi.

Masih ada tempat untuk berbeda pendapat.

Masih ada kesempatan bagi siapa pun yang mau berusaha.

Masih ada keadilan yang tidak memilih nama.

Masih ada kemajuan yang tidak kehilangan belas kasih.

Dan jika mereka menemukan bagian yang belum selesai, semoga mereka tidak mengutuk kita terlalu keras.

Semoga mereka tetap memiliki nurani untuk menyatakan:

“Orang-orang sebelum kita memang belum menyelesaikan semuanya.”

Tetapi mereka meninggalkan cukup banyak kebaikan untuk kita lanjutkan.”

Bagiku, itu sudah sangat indah.

Maka di bulan Agustus ini, aku tidak ingin membuat janji yang terlalu tinggi. Aku hanya ingin belajar menjadi penghuni rumah yang baik.

Tidak mengotori lantainya lalu menyalahkan orang lain.

Tidak mengambil bagian lebih banyak lalu membiarkan saudara sendiri kekurangan.

Tidak membakar satu kamar hanya karena tidak menyukai penghuninya.

Dan ketika menemukan atap bocor, tidak sibuk bertengkar tentang siapa yang pertama membuat lubang, sementara air hujan terus masuk dan membasahi rumah kita bersama. Aku ingin ikut memperbaikinya. Walau sedikit. Sebisaku, semampuku. Selama Allah masih memberiku waktu.

Indonesia memang bukan negeri yang sempurna. Tetapi kesempurnaan tidak pernah menjadi syarat untuk mencintai rumah.

Kita mencintainya karena di sinilah sebagian besar kisah hidup kita ditulis.

Di sinilah, orang-orang yang kita sayangi tinggal. Di tanah inilah, doa-doa kita pernah dilangitkan. Di jalan-jalan inilah, kita pernah jatuh, bangkit, menangis, tertawa, kehilangan, dan menemukan harapan kembali.

Dan di tanah inilah kelak sebagian dari kita akan pulang untuk terakhir kali. Maka, sejauh apa pun kaki pernah berjalan, setinggi apa pun dunia membawa kita pergi, tetap ada satu nama yang kita tuliskan ketika orang bertanya dari mana kita berasal: Indonesia.

Maka pada 17 Agustus nanti, ketika Merah Putih perlahan naik menuju langit, mungkin aku tidak akan banyak berkata.

Aku hanya ingin berdiri. Memandangnya. Mengingat mereka yang dahulu menyerahkan hidup agar aku dapat berdiri sebagai manusia merdeka.

Lalu diam-diam berjanji: “Duhai Rumah, aku belum selesai mencintaimu. Maafkan, jika selama ini aku lebih sering menikmati daripada merawatmu. Maafkan, jika aku pernah mengeluh tanpa ikut memperbaiki.

Selama masih diberi umur, izinkan aku meninggalkan sedikit kebaikan di dalam dirimu. Karena kemerdekaan bukan hanya tentang berhasil memiliki sebuah negeri.

Kemerdekaan adalah perjuangan panjang agar negeri yang telah kita miliki tetap mempunyai alasan untuk dicintai, tetap pantas diwariskan, dan selalu terasa layak disebut PULANG.

Jakarta, 15 Agustus 2026