Scroll untuk baca artikel
Berita

Kurang Banyak

8
×

Kurang Banyak

Sebarkan artikel ini

Kurang Banyak

Oleh: Shintalya Azis

Sehari menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, kantor Mila berangsur-angsur landai dari berbagai pihak yang mengambil bantuan untuk merayakan HUT RI.

Mila menghela nafas, lega, setelah beberapa minggu ini, dirinya bahkan untuk menghirup nafas segarpun susah.

Proposal datang silih berganti. Ada yang meminta dukungan untuk perlombaan, kegiatan masyarakat, perlengkapan upacara, hingga konsumsi untuk berbagai acara.

Mila sudah terbiasa menghadapi permintaan seperti itu. Ia sadar, bekerja di bagian external Corporate Social Responsibility, berarti dirinya harus siap membantu perusahaan dalam merealisasikan program kepedulian kepada masyarakat.

Namun, kepedulian juga memiliki batas. Ada wilayah yang masuk dalam ring bantuan perusahaan, ada pula yang berada di luar cakupan. Salah satu kecamatan yang sebenarnya berada di luar ring perusahaan datang menghadap untuk meminta bantuan untuk mendukung persiapan HUT RI.

“Bu Mila, kami berharap perusahaan bisa membantu kegiatan persiapan HUT RI,” ujar seorang staf kecamatan.

Mila mendengarkan dengan tenang.

“Silakan diajukan melalui proposal. Nanti akan kami proses sesuai mekanisme dan kemampuan perusahaan.”

Proposal pun masuk.

Salah satu permintaan di dalamnya adalah seratus kotak snack untuk acara pengukuhan anggota Paskibra.

Mila mempelajari proposal tersebut, mempertimbangkan anggaran, ketentuan, serta batas kewenangan perusahaan. Setelah melalui proses yang berlaku, bantuan disetujui sesuai kemampuan dan peruntukannya: Seratus kotak snack.

Bukan seluruh kebutuhan acara.

Bukan pula uang tunai.

Bagi Mila, itu sudah cukup jelas. Bantuan adalah bentuk dukungan, bukan janji untuk menanggung seluruh kebutuhan. Perusahaan membantu karena ingin berbagi, bukan karena diwajibkan memenuhi seluruh kebutuhan.

Hari pengukuhan tiba.

Snack dipesan sesuai jumlah yang telah disetujui. Mila mengira persoalan selesai. Tetapi ternyata tidak.

Teleponnya berdering.

“Bu, ini bantuannya cuma segini?”

Nada suara di seberang terdengar meninggi.

Mila terdiam sesaat.

“Ya, Pak. Itu sesuai dengan yang sudah disetujui berdasarkan kemampuan perusahaan.”

“Kenapa tidak ditambah? Kebutuhannya banyak! Mengapa tidak dalam bentuk uang?”

Mila menarik napas.

Ia mencoba menjelaskan kembali bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan, bukan pemenuhan seluruh kebutuhan acara.

Tetapi penjelasan itu seolah tidak didengar.

Yang terdengar justru keluhan, kecaman, bahkan bentakan.

Mila menatap tajam ke layar teleponnya. Beberapa pertanyaan berputar di kepalanya.

Sejak kapan bantuan menjadi sesuatu yang boleh dituntut dengan kemarahan?

Sejenak ia menundukkan kepala dan mengambil nafas dalam-dalam. Dirinya bisa saja membalas. Ia bisa mengatakan bahwa pihak tersebut bahkan berada di luar ring bantuan perusahaan. Ia bisa mengingatkan bahwa perusahaan tidak pernah menjanjikan akan memenuhi seluruh kebutuhan. Ia juga bisa menjelaskan panjang lebar tentang kepatuhan, prosedur, anggaran, dan batas kewenangan.

Tetapi Mila memilih diam. Bukan karena ia tidak punya jawaban.

Justru karena terlalu banyak jawaban yang bisa diberikan.

Ia menyadari, ada kalanya seseorang meminta bukan karena kekurangan, melainkan karena merasa berhak mendapatkan lebih.

Ada pula orang yang ketika menerima sesuatu, matanya bukan melihat apa yang sudah diberikan, tetapi hanya melihat apa yang belum didapatkan.

Kurang banyak.

Dua kata itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada persoalan yang lebih besar. Tentang rasa syukur yang hilang, tentang adab yang terlupakan, tentang kebaikan yang dianggap kewajiban dan bahkan tentang permintaan yang perlahan berubah menjadi tekanan.

Mila kemudian teringat sebuah pelajaran sederhana yang pernah ia dapat sejak kecil. Ketika menerima sesuatu, ucapkan terima kasih.

Ketika tidak mendapatkan semua yang diinginkan, terimalah dengan lapang.

Dan ketika meminta, jangan pernah kehilangan adab.

Kini ia semakin memahami bahwa pendidikan formal memang dapat

membuat seseorang memiliki gelar, jabatan, dan pengetahuan. Tetapi pendidikan tidak selalu menjamin seseorang memiliki kebijaksanaan dalam bersikap.

Kecerdasan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang menempuh pendidikan. Ada kecerdasan emosional yang membuat seseorang mampu mengendalikan amarah.

Ada kecerdasan sosial yang membuat seseorang memahami posisi orang lain.

Dan ada satu hal yang jauh lebih sederhana yaitu adab. Adab lah yang seharusnya sudah ditanamkan bahkan sebelum seseorang mengenal bangku sekolah.

Mila memilih kembali bekerja. Ia tidak membatalkan kebaikan hanya karena ada orang yang tidak tahu cara menerimanya.

Ia juga tidak akan melanggar aturan hanya karena ada pihak yang memaksa. Baginya, compliance bukan penghalang untuk berbuat baik.

Compliance justru memastikan bahwa kebaikan diberikan dengan cara yang benar, kepada pihak yang tepat, dan dalam batas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mila menutup beberapa berkas proposal yang masih berada di mejanya.

Ia tersenyum kecil.

Barangkali memang benar. Tidak semua orang yang menerima bantuan akan mengucapkan terima kasih. Tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Tidak semua orang akan memahami bahwa bantuan adalah pemberian, bukan kewajiban.

Mila memilih untuk tetap bersabar. Ia tahu, yang sedang diuji bukan hanya kesabaran dirinya, melainkan orang yang meminta dan adab orang yang menerima.

Hari ini Mila belajar satu hal baru yaitu ketika rasa syukur hilang, sebanyak apa pun yang diberikan akan selalu terasa kurang banyak.

Palembang, 16 Agustus 2026