Duta Berita Nusantara | Palembang
BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA #Seri 4
Rahasia yang Dikubur Dua Puluh Tahun
Oleh : Kibagus Arfan H
Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan.
Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan danau ketika Rafan terbangun dari tidurnya.
Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata.
Kalimat Kirana terus berputar di kepalanya.
“Orang yang membuatku pergi dulu… masih hidup.”
Siapa?
Mengapa Kirana harus pergi?
Dan apa hubungannya dengan cincin yang selama dua puluh tahun tetap berada di jari perempuan itu?
Rafan bangkit dari tempat tidurnya.
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari laci meja.
Kotak yang sudah lama tidak pernah dibukanya.
Di dalamnya terdapat selembar foto lama.
Foto dua orang muda mudi yang berdiri di bawah pohon trembesi.
Rafan tersenyum tipis.
Kirana masih mengenakan rambut panjang yang dibiarkan tergerai.
Dan dirinya berdiri di sampingnya dengan wajah penuh keyakinan bahwa cinta mereka akan berlangsung selamanya.
Di balik foto itu terdapat tulisan tangan.
“Sampai kapan pun, aku akan menunggumu.”
Rafan mengusap tulisan tersebut dengan ibu jarinya.
“Dua puluh tahun, Kirana…”
Ia menghela napas.
“Dan ternyata aku masih menunggumu.”
Menjelang sore, Rafan kembali ke danau.
Tempat yang dijanjikan Kirana.
Pohon trembesi itu masih berdiri.
Batangnya semakin besar.
Beberapa cabangnya bahkan menjulur hampir menyentuh permukaan air.
Rafan berdiri di tempat yang sama seperti malam sebelumnya.
Menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Setengah jam.
Kirana belum datang.
Rafan mulai gelisah.
Namun ia tidak pergi.
Karena dua puluh tahun telah mengajarinya satu hal.
Jika seseorang pernah begitu berarti, menunggu bukanlah sesuatu yang berat.
Kemudian terdengar suara langkah dari belakang.
Rafan menoleh.
Kirana berdiri beberapa meter darinya.
Hari itu ia mengenakan pakaian sederhana berwarna putih.
Tidak ada senyum di wajahnya.
Hanya ketenangan yang terlihat terlalu dipaksakan.
“Kau datang.”
Rafan mengangguk.
“Kau yang memintaku datang.”
Kirana berjalan mendekat.
Mereka berdiri berhadapan.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Angin sore memainkan rambut Kirana.
Rafan menatap cincin di jari manisnya.
“Katakan.”
Kirana menarik napas panjang.
“Rafan… sebelum aku menjelaskan semuanya, aku ingin kau berjanji.”
“Janji apa?”
“Jangan membenci siapa pun setelah mendengar ceritaku.”
Rafan terdiam.
“Termasuk orang yang membuatmu pergi?”
Kirana mengangguk.
“Termasuk dia.”
Rafan menatap mata Kirana.
“Sulit menjanjikan sesuatu yang bahkan belum aku ketahui.”
“Aku tahu.”
Kirana menunduk.
“Tapi aku memintanya.”
Rafan akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Kirana memandang danau.
“Dua puluh tahun lalu, aku tidak pergi karena berhenti mencintaimu.”
Rafan terdiam.
“Aku pergi karena seseorang datang kepadaku.”
“Siapa?”
“Dia mengatakan bahwa jika aku tetap bersamamu, hidupmu akan hancur.”
Rafan mengerutkan kening.
“Ancaman?”
Kirana mengangguk perlahan.
“Bukan hanya kepadaku.”
Ia menatap Rafan.
“Kepadamu.”
Rafan terdiam.
“Apa yang dia tahu tentangku?”
Kirana mengusap cincin di jarinya.
“Dia tahu sesuatu tentang keluargamu.”
Rafan merasa dadanya tiba-tiba sesak.
“Keluargaku?”
“Ya.”
“Apa hubungannya keluargaku dengan kepergianmu?”
Kirana memejamkan mata.
“Karena dua puluh tahun lalu… keluarga kita sebenarnya pernah terlibat dalam sebuah peristiwa.”
“Peristiwa apa?”
Kirana belum sempat menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di kejauhan.
Keduanya menoleh.
Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari jalan menuju danau.
Seorang laki-laki turun dari dalamnya.
Kirana langsung pucat.
Rafan memperhatikan perubahan wajahnya.
“Kirana… siapa dia?”
Kirana tidak menjawab.
Laki-laki itu berjalan perlahan menuju mereka.
Semakin dekat.
Semakin jelas wajahnya.
Kirana mundur satu langkah.
Tangannya gemetar.
“Dia…”
Suara Kirana hampir tidak terdengar.
Rafan menatap laki-laki tersebut.
Kemudian kembali menatap Kirana.
“Dia siapa?”
Kirana akhirnya berkata,
“Orang yang membuatku meninggalkanmu.”
Rafan membeku.
Laki-laki itu berhenti beberapa meter dari mereka.
Tatapannya tertuju kepada Kirana.
Kemudian beralih kepada Rafan.
Ia tersenyum tipis.
“Sudah lama sekali.”
Rafan mengerutkan kening.
“Kita pernah bertemu?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Justru Kirana yang berkata dengan suara bergetar,
“Rafan…”
“Apa?”
“Dia adalah ayahku.”
Rafan terdiam.
Dunia seakan berhenti sesaat.
Ayah Kirana?
Laki-laki itu melangkah mendekat.
“Dan ada sesuatu yang harus kau ketahui.”
Rafan menatapnya tajam.
“Apa?”
Pria itu menghela napas panjang.
“Dua puluh tahun lalu, aku memang memisahkan kalian.”
Kirana menutup mata.
Air mata kembali jatuh.
Rafan mengepalkan tangannya.
“Kenapa?”
Pria itu menatap putrinya.
Kemudian menatap Rafan.
“Karena saat itu… aku percaya bahwa jika kalian tetap bersama, salah satu dari kalian akan kehilangan nyawa.”
Rafan membeku.
“Apa maksudmu?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan,
“Karena malam ketika kalian berpisah… bukan kebetulan.”
Kirana menangis.
“Ayah… cukup.”
Namun pria itu menggeleng.
“Tidak, Kirana.”
Ia menatap Rafan.
“Sudah waktunya dia tahu.”
Rafan maju selangkah.
“Tahu apa?”
Pria itu menatapnya dalam-dalam.
“Bahwa kecelakaan yang terjadi pada malam itu… sebenarnya bukan kecelakaan.”
Rafan terdiam.
Napasnya tercekat.
Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun…
sebuah potongan masa lalu yang selama ini terkubur mulai terbuka.
Rafan menatap Kirana.
“Kau tahu?”
Kirana mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak malam kita berpisah.”
Rafan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
Kirana menjawab lirih,
“Karena aku takut kau akan kembali mencari kebenaran.”
“Dan sekarang?”
Kirana menatapnya.
“Sekarang aku sadar…”
Ia menggenggam cincin di jarinya.
“…aku sudah terlalu lama menyimpan rahasia ini sendirian.”
Angin sore bertiup lebih kencang.
Daun-daun trembesi berguguran di sekitar mereka.
Pria tua itu kemudian berkata,
“Rafan… ada satu orang lagi yang harus kau temui.”
“Siapa?”
Ia menatap jalan di belakang Rafan.
“Orang yang sebenarnya berada di balik semua ini.”
Rafan membalikkan badan.
Namun tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah mobil tua yang perlahan meninggalkan tempat itu.
Kirana menatap mobil tersebut dengan wajah pucat.
“Dia sudah datang.”
Rafan menoleh.
“Siapa?”
Kirana menggenggam tangan Rafan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun.
Jarinya gemetar.
“Orang yang selama ini kami kira sudah meninggal.”
Rafan menatapnya.
“Siapa, Kirana?”
Kirana menatap mata Rafan.
Lalu berbisik,
“Orang yang malam itu seharusnya menjadi korban…”
Ia berhenti.
Air matanya jatuh.
“…ternyata adalah orang yang selama ini mengawasi kita.”
Di bawah pohon trembesi, Rafan dan Kirana berdiri dalam keheningan.
Dan untuk pertama kalinya…
Rafan menyadari bahwa kisah cinta mereka bukan hanya tentang perpisahan.
Ada sebuah rahasia besar yang telah menunggu selama dua puluh tahun.
Dan rahasia itu…
baru saja kembali pulang.
Bersambung…..













