Scroll untuk baca artikel
Berita

PATUNG BAGI PEMATUNG

7
×

PATUNG BAGI PEMATUNG

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Oleh Anto Narasoma

MEMBANGUN bentuk dalam permukaan seni patung membutuhkan nilai rasa (feel) yang kuat, sehingga corak yang dibentuk benar-benar tampil secara alami.

Karena itu tak heran apabila pematung sekelas dunia I Nyoman Nuarta, menyatakan bahwa untuk menghadirkan bentuk patung yang benar-benar mumpuni dalam tekstur dan bentuk alami, harus dikaji lewat unsur massa yang padat dan memliki unsur panjang, lebar, serta tinggi, sehingga mampu menempati ruang utuh sebagai karya yang indah.

Sebab, kata I Nyoman Nuarta, wujud padat material fisik, dapat memberikan bentuk yang menempat keutuhan sosok sebagai patung manusia, hewan, atau dalam bentuk apa pun.

Apa yang dikemukakan I Nyoman Nuarta itu merupakan corak atau bentuk unsur-unsur utama tiga dimensi yang mencakup, massa atau volume, ruang, dan bentuk.

Apalagi dari unsur tampilan patung didukung dengan tekstur utuh, serta garis dan warna sesuai aslinya, maka bentuk patung akan tampil sebagai karya yang sangat memukau siapapun.

Memang, seni patung meliputi unsur area atau rongga di sekitarnya. Sebab, bagi seorang pematung, ruang akan memberikan nuansa kedalaman interaksi antara patung dan lingkungan sekitarnya.

Keadaan ini akan memberikan nilai rasa dan unsur bentuk kasar, halus, licin, dan berpori. Ini harus dilengkapi pematung saat ia menciptakan karyanya, sehingga secara estetika dapat menciptakan nilai seni yang jempolan.

Tak berbeda dengan garapan seni lainnya, seorang pematung memang selalu masuk ke dalam aspek psikologi seni patung.

Dalam kaitan ini, aspek psikologi manusia berupa kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang begitu kental.

Landasan inilah yang membuat hasil karya patung begitu menawan saat setelah tercipta secara estetika.

Tidak seperti menulis puisi, menari, atau bernyanyi, seni membuat patung tidak hanya dilandasi ide-ide kreatif semata, namun secara esensi kedalaman progresnya, dilakukan secara katarsis, atau melepaskan beban tekanan jiwa.

Ekspresi

Patung diciptakan dengan beragam perasaan (feel of estetic) yang menyentuk fisiknya secara detail. Sebab, dari ada warna kemarahan, kesedihan, dan sebentuk bahasa tubuh, sangat mempengaruhinya.

Bagi seniman, membuat patung adalah melakukan prinsif kekaryaan. Namun ia juga berusaha keras untuk melepaskan beban ketegangan sehari-sehari, selama mengendapkan ide dasarnya

Bisa jadi, selama pematung merancang karyanya untuk dijadikan patung, penggunaan elemen visual dapat meredakan tekanan batin.

Memang, sebagai seniman, biasanya seorang pematung tetap kokoh pada ide dan gagasannya ketika menyelesaikan karyanya.

Seperti dikemukakan penatung asal Swiss, Arberto Giacometti, dalam kesendirian, seorang seniman patung akan menumpahkan segala kemampuan dan kepekaannya untuk membentuk karya yang sesuai ide dan gagasannya.

Karena itu, dari tiap lekuk dan visualisasi bentuk akan tercipta sesuai dengan ide dan gagasan secara alami. Maka tak heran andaikan sebentuk patung manusia yang diciptakannya akan tampil sesuai bentuk aslinya.

Dalam konteks ekapresi yang diungkap pematung dalam karyanya, ia selalu memperhatikan sisi tekstur –berupa kasar halusnya bentuk, licin atau memiliki pori-pori dari sudut dasar, sehingga karya yang diciptakan benar-benar membentuk rupa seperti yang digagasnya.

Bagi seniman patung, konsep dasar ciptaannya mengacu pada garis awal yang membentuk kontur luar. Dengan demikian karya yang digarapnya dapat membentuk silhuet dan mengarahkan pandangan mata penikmat.

Dalam kaitan itu, sudut pandang yang diciptakan pematung saat menyelesaikan karyanya memiliki corak plane pada bidang datar atau bentuk lengkungan yang menarik gairah pandangan seseorang.

Inilah struktur bentuk patung yang tercipta sesuai reaksi psikologis seorang pematung yang sangat mendalami tiap bentuk dalam visual karyanya.

Penulis adalah seniman, penyair, dan jurnalistik senior

Palembang, 1 September 2026