Duta Berita Nusantara | Muara Enim
Bersama Menjaga Integritas
Oleh: Shintalya Azis
“Integritas tidak boleh berhenti sebagai adagium tentang berjalan lurus. Ia harus menjadi keberanian untuk memastikan orang-orang yang berjalan bersama kita tidak kehilangan arah.”
Pada acara wisuda Universitas Indonesia semester genap di Balairung, 22 Agustus 2026 lalu, ada satu pesan Rektor kepada para wisudawan yang terus terngiang di telinga saya:
“Jaga orang-orang yang berjalan bersamamu.”
Sebuah pesan yang sekilas sederhana. Namun semakin direnungkan, semakin terasa bahwa pesan itu berbicara jauh lebih dalam tentang integritas.
Dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Ada teman yang percaya kepada kita. Ada rekan yang mengikuti keputusan kita. Ada orang-orang di sekitar yang menjadikan sikap kita sebagai teladan. Dan ada pula keluarga yang menggantungkan harapan pada pilihan-pilihan yang kita ambil.
Karena itu, ketika suatu hari datang godaan untuk bersinggungan dengan pelanggaran, yang perlu dipikirkan bukan hanya apakah kita mampu mempertahankan integritas diri.
Kita juga harus berpikir apakah kita akan membiarkan orang-orang yang selama ini berjalan bersama kita kehilangan arah?
Tentu saja tidak.
Integritas bukan sekadar kemampuan diri untuk menolak melakukan kesalahan. Integritas juga berarti keberanian untuk mencegah orang lain melakukan kesalahan ketika kita memiliki kesempatan untuk mengingatkan.
Dibutuhkan keberanian untuk berkata, “Jangan,” ketika semua orang berkata, “Tidak apa-apa.”
Dibutuhkan keberanian untuk mengatakan, “Itu tidak benar,” ketika sesuatu yang salah mulai dianggap biasa.
Dibutuhkan juga keberanian untuk tegar melangkah di jalan yang benar. Walaupun banyak hambatan di jalan yang membuat langkah kita menjadi lebih lambat, bahkan mungkin membuat kita berjalan sendirian.
Satu orang yang memilih diam ketika melihat kesalahan dapat membuat kesalahan itu terus berulang. Lambat laun hal tersebut berubah menjadi kebiasaan. Dan akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Tetapi satu orang yang berani menjaga integritas dapat menghentikan rantai itu.
Ia mungkin tidak menyelamatkan dunia. Namun ia bisa menyelamatkan satu orang.
Dan satu orang yang terselamatkan dari sebuah kesalahan, mungkin kelak dapat menyelamatkan orang lain.
Begitulah seterusnya. Mulai dari diri sendiri dan terus bergulir membuat dampak positif pada lingkungan yang lebih besar.
Para wisudawan hari itu mungkin membawa pulang ijazah dan gelar.
Tetapi sesungguhnya, yang jauh lebih penting adalah nilai yang mereka bawa setelah meninggalkan kampus dan memasuki kehidupan nyata.
Ke mana pun kaki melangkah. Di mana pun jiwa ditempatkan. Spirit sebagai garda depan penjaga integritas harus terus dinyalakan.
Dimana pun, nyala api integritas harus terus dijaga:
Di ruangan kantor pemerintahan.
Di dalam ruang rapat rumah perwakilan rakyat.
Di tengah persaingan dunia usaha.
Di tengah masyarakat.
Di mana pun aspek-aspek kehidupan menempatkan kita.
Ingat!
Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun oleh orang-orang pintar.
Indonesia membutuhkan orang-orang yang ketika diberi kekuasaan, tetap memiliki nurani.
Ketika diberi kesempatan, tidak menyalahgunakan amanah. Dan ketika melihat orang lain mulai menyimpang, ia memilih untuk menariknya kembali, bukan ikut berjalan bersamanya menuju kesalahan.
Terkadang korupsi berjamaah lahir bukan karena semua orang jahat, tetapi karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.
Oleh karenanya, menjaga integritas bukan hanya tentang seberapa lurus langkah kita.
Lebih dari itu, integritas adalah tentang menjaga orang-orang yang berjalan bersama kita agar tetap berada di jalan yang benar.
Mungkin, suatu hari nanti, ketika langkah mereka mulai goyah, suara kitalah yang mereka butuhkan untuk mengingatkan:
“Jangan teruskan. Kita masih bisa kembali.”
Maka jangan hanya menjadi orang baik. Jadilah orang yang membuat orang-orang di sekitarmu tetap berani menjadi baik.
Integritas tidak berhenti pada diri sendiri. Saat satu orang berani menjaga integritas, mungkin ia sedang menyalakan cahaya bagi banyak orang yang berjalan bersamanya.
“ Fiat justitia ruat caelum.”
Keadilan harus ditegakkan, sekalipun langit runtuh.
Muara Enim, 3 September 2026













