Scroll untuk baca artikel
BeritaCERPENSerba SerbiSerial cerita viral DBN

KEPULAN ASAP, BAYANG-BAYANG AZAB ” Ketika Keserakahan Membakar Negeri “

32
×

KEPULAN ASAP, BAYANG-BAYANG AZAB ” Ketika Keserakahan Membakar Negeri “

Sebarkan artikel ini

KEPULAN ASAP, BAYANG-BAYANG AZAB

Ketika Keserakahan Membakar Negeri

Oleh: Kibagus Arfan Hasbullah

Pagi itu, matahari sebenarnya sudah terbit.

Hanya saja, warga Kota Jerebu tidak bisa melihatnya.

Langit tertutup kepulan asap. Udara terasa berat. Mata perih. Tenggorokan kering. Anak-anak batuk. Orang tua memilih tinggal di dalam rumah.

Tetapi masalahnya…

udara tidak pernah meminta izin sebelum masuk ke paru-paru.

Di depan sebuah rumah sederhana, Seorang Laki-laki , Nama nya Masgus berdiri sambil mengenakan masker.

Ia menatap langit.

“Katanya udara kita sedang tidak sehat,” katanya.

Istrinya menjawab dari dalam rumah.

“Bukan tidak sehat, Bang.”

“Terus?”

“Katanya sudah berbahaya.”

Masgus terdiam.

Ia melihat anaknya yang sedang batuk.

“Kalau begini terus, kita harus bagaimana?”

Istrinya menjawab pelan.

“Berdoa.”

“Selain itu?”

“berobat.”

Masgus kembali menatap langit.

Asap bergerak perlahan di atas atap rumah mereka.

Seolah-olah ada tangan raksasa yang sengaja menutup matahari.

—

Di sebuah gedung pemerintahan Kota Jerebu yang megah, udara berbeda.

Dingin.

Bersih.

Nyaman.

AC bekerja tanpa mengenal kata lelah.

Di atas meja tersedia kopi, air mineral dan makanan ringan.

Sementara di luar sana, masyarakat menghirup asap.

Rapat penanganan karhutla dimulai.

Di layar proyektor terpampang tulisan besar:

RAPAT STRATEGIS PERCEPATAN PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KARHUTLA

Ketua rapat berdiri.

“Bapak-Ibu, kita harus bergerak cepat.”

Semua mengangguk.

“Pencegahan harus dilakukan sejak dini.”

Anggukan kembali terdengar.

“Deteksi dini harus diperkuat.”

Anggukan semakin kompak.

“Pengawasan harus diperketat.”

Semua mengangguk lagi.

Kemudian seorang staf bertanya:

“Pak, bagaimana dengan anggarannya?”

Ruangan mendadak hening.

Ketua rapat tersenyum.

“Nah.”

Semua menatap.

“Itu yang paling penting.”

—

Di luar sana, asap semakin tebal.

Di dalam ruang rapat, angka-angka semakin panjang.

Ada anggaran pencegahan.

Ada anggaran patroli.

Ada anggaran sosialisasi.

Ada anggaran pemantauan.

Ada anggaran peralatan.

Ada anggaran penanganan.

Ada pula anggaran pemulihan.

Pokoknya hampir semuanya ada.

Yang belum jelas hanya satu:

“ HASILNYA..!!! “

—

Suatu malam, Pak Angso, pejabat yang bertanggung jawab atas program penanganan asap, pulang ke rumah.

Ia membuka televisi.

Berita menampilkan gambar Kota Jerebu yang diselimuti asap.

Presenter mengatakan:

“Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan.”

Pak Angso mengernyit.

“Wah.”

Istrinya datang membawa teh.

“Kenapa?”

“Udara lagi jelek.”

“Terus?”

“Pemerintah sedang bekerja.”

Istrinya tersenyum.

“Baguslah.”

Telepon Pak Angso berdering.

“Pak?”

“Ya?”

“Laporan anggaran sudah selesai.”

“Bagaimana?”

“Serapannya hampir maksimal.”

Pak Angso tersenyum puas.

“Bagus.”

Telepon ditutup.

Ia kembali menonton televisi.

Di layar, seorang anak sedang dibawa ibunya ke rumah sakit karena sesak napas.

Pak Angso menghela napas.

“Kasihan.”

Istrinya memandang televisi.

“Pak.”

“Ya?”

“Kalau anggaran pencegahan sudah besar, kenapa anak-anak masih sakit?”

Pak Angso terdiam.

Kemudian ia menjawab:

“Jangan bertanya yang sulit-sulit.”

—

Beberapa hari kemudian, laporan kualitas udara Kota Jerebu kembali menjadi perhatian.

Angka partikulat halus melonjak ke tingkat yang mengkhawatirkan.

Bagi alat pemantau, angka itu adalah data.

Bagi pemerintah, angka itu adalah bahan evaluasi.

Bagi rumah sakit, angka itu berubah menjadi pasien.

Bagi keluarga, angka itu berubah menjadi bahaya

Bagi anak-anak, angka itu berubah menjadi batuk.

Dan bagi sebagian pejabat…

angka itu berubah menjadi rapat baru.

—

“Bagaimana solusinya?” tanya Ketua Rapat Nomor Dua.

“Tambah patroli.”

“Bagus.”

“Tambah sosialisasi.”

“Bagus.”

“Tambah spanduk.”

“Bagus.”

“Tambah baliho.”

“Bagus.”

“Tambah rapat.”

Ketua rapat tersenyum puas.

“Luar biasa.”

Seorang pegawai muda yang baru pertama mengikuti rapat memberanikan diri bertanya.

“Pak, boleh saya bertanya?”

“Silakan.”

“Kalau semua program ditambah, apakah asapnya akan berkurang?”

Ketua rapat menatapnya.

“Anak muda.”

“Ya, Pak.”

“Kamu terlalu banyak membaca.”

—

Malam semakin gelap.

Di sebuah lahan yang jauh dari pusat kota, seorang lelaki berdiri di antara pepohonan.

Namanya tidak penting.

Wajahnya tertutup.

Tangannya memegang telepon.

Ia memandang api kecil yang mulai menjalar.

“Sedikit saja,” katanya.

“Besok juga hilang.”

Ia tidak tahu bahwa api tidak pernah pandai menjaga rahasia.

Api membesar.

Asap naik.

Angin membawa asap menuju Kota Jerebu.

Dan jauh di sana…

seorang anak mulai batuk.

—

Di rumah sakit, antrean pasien bisa semakin panjang.

Seorang dokter melihat daftar pasien.

“ISPA lagi?”

Perawat mengangguk.

“Banyak sekali.”

“Anak-anak?”

“Banyak.”

“Lansia?”

“Banyak.”

Dokter menarik napas panjang.

“Semoga asap segera hilang.”

Perawat menatapnya.

“Dok.”

“Ya?”

“Yang hilang jangan cuma asap.”

Dokter menoleh.

“Apa?”

“Keserakahan juga.”

—

Malam itu, Pak Angso kembali mengadakan rapat.

Ia berdiri di depan peserta.

“Saudara-saudara.”

Semua menatap.

“Kita tidak boleh menyalahkan siapa pun.”

Kepala-kepala mengangguk.

“Kita harus mencari solusi.”

Kepala-kepala kembali mengangguk.

“Dan kita harus memastikan anggaran berjalan.”

Anggukan terakhir terdengar paling cepat.

Tiba-tiba…

lampu mati.

Ruangan gelap.

Proyektor padam.

AC berhenti.

Untuk pertama kalinya, orang-orang di dalam ruangan itu merasakan udara yang sebenarnya.

Panas.

Pengap.

Berat.

Kemudian terdengar suara batuk.

Bukan dari luar.

Dri dalam ruangan.

Pak Angso menyalakan senter telepon.

Cahaya kecil menerangi wajah-wajah yang mulai panik.

Lalu terdengar suara.

“Sekarang Bapak tahu rasanya?”

Semua terdiam.

“Siapa itu?”

Tidak ada jawaban.

Suara itu kembali terdengar.

“Rakyat sudah menghirup asap berhari-hari.”

Pak Angso berdiri.

“Siapa kamu?”

“Saya suara dari luar jendela.”

Jendela tiba-tiba terbuka.

Asap masuk.

Ruangan menjadi kelabu.

Pak Angso batuk.

Matanya perih.

Ia mencoba membuka pintu.

Tidak bisa.

Di dinding, muncul tulisan yang sebelumnya tidak ada:

ANGGARAN BOLEH DITUTUP.

LAPORAN BOLEH DIJILID.

TETAPI ASAP TIDAK BISA DIPERINTAHKAN UNTUK BERBOHONG.

Pak Angso gemetar.

“Siapa yang melakukan ini?”

Suara itu menjawab:

“Kalian sendiri.”

 

Pagi harinya, Pak Angso terbangun.

Ia berada di rumah.

Ternyata semua itu hanya mimpi.

Ia mengusap wajah.

“Syukurlah.”

Ia bangun dan berjalan menuju jendela.

Namun ketika tirai dibuka…

langit masih kelabu.

Asap masih ada.

Teleponnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk:

“Pak, kualitas udara masih berbahaya.”

Pesan kedua:

“Pasien ISPA kembali bertambah.”

Pesan ketiga:

“Masyarakat mempertanyakan efektivitas program.”

Pak Angso duduk.

Untuk pertama kalinya ia tidak membuka laporan.

Ia tidak membuka proposal.

Ia tidak membuka dokumen anggaran.

Ia hanya melihat keluar jendela.

Dan ia menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira asap hanya datang dari hutan.

Ternyata ada asap lain.

Asap keserakahan.

Ia tidak terlihat di alat pemantau.

Tidak tercatat dalam indeks kualitas udara.

Tidak masuk laporan kebakaran.

Tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang.

Karena ketika keserakahan membakar sesuatu…

yang terbakar bukan hanya lahan.

Yang terbakar adalah kepercayaan rakyat.

—

Di sebuah sudut Kota Jerebu, Masgus  kembali berdiri di depan rumah.

Ia melihat anaknya memakai masker.

“Pak.”

“Ya?”

“Kenapa langit kita selalu abu-abu?”

Masgus terdiam.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anak kecil bahwa ada api yang terlihat dan ada api yang tersembunyi.

Ia hanya berkata:

“Karena ada orang yang lupa.”

“Lupa apa?”

“Lupa bahwa bumi bukan miliknya sendiri.”

Anaknya kembali bertanya.

“Kalau orang itu ketahuan?”

Masgus memandang langit.

“Semoga hukum menemukan jalannya.”

“Kalau tidak?”

Masgus menghela napas.

“Doakan agar nuraninya menemukan jalan lebih dulu.”

—

Malam kembali turun.

Api masih menyala di tempat lain.

Asap kembali naik.

Dan di balik kepulan itu, mereka yang merasa aman mulai bersembunyi.

Mereka bersembunyi di balik laporan.

Bersembunyi di balik angka.

Bersembunyi di balik rapat.

Bersembunyi di balik jabatan.

Bersembunyi di balik tanda tangan.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa mereka hindari:

jejak.

Api meninggalkan abu.

Asap meninggalkan penyakit.

Korupsi meninggalkan kerugian.

Dan keserakahan meninggalkan penderitaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Mungkin hukum belum mengetuk pintu hari ini.

Mungkin kamera belum menemukan wajahnya.

Mungkin namanya belum disebut.

Tetapi setiap api mempunyai saksi.

Setiap anggaran mempunyai jejak.

Setiap keputusan mempunyai akibat.

Dan setiap keserakahan…

mempunyai hari ketika ia harus berhadapan dengan pertanggungjawaban.

Karena itu, sebelum asap menjadi terlalu pekat…

sebelum rumah sakit semakin penuh…

sebelum anak-anak kehilangan hak untuk menghirup udara bersih…

dan sebelum uang rakyat berubah menjadi angka tanpa makna…

ingatlah:

KEPULAN ASAP BOLEH MENUTUPI WAJAH.

TETAPI TIDAK SELAMANYA MENUTUPI KEBENARAN.

Dan di antara langit yang menghitam serta hutan yang terbakar…

bayang-bayang azab mulai berjalan pelan.

Bukan karena langit sedang marah.

Tetapi karena manusia sedang diuji:

apakah ia memilih keserakahan… atau menyelamatkan kehidupan?

TAMAT

Catatan: Cerpen satire ini merupakan karya fiksi. Tokoh, dialog, dan kejadian dramatik di dalam cerita adalah rekaan. Isu yang menjadi inspirasi berasal dari pemberitaan mengenai karhutla, kualitas udara, dampak kesehatan, pencegahan, serta pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan bencana.

Bionarasi Penulis 

Kibagus Arfan Hasbullah

Pimpinan Umum/Redaksi Media Pers Online Duta Berita Nusantara

Badan Pengawas Nusantara Hijau Bersatu Indonesia

Pegiat Kontrol Sosial Bidang Sosial & Budaya

Pegiat Antikorupsi

Penulis Cerpen Antikorupsi Rekor MURI 2026

Penulis: Robin/ TimsusEditor: Redaksi Dbn