Scroll untuk baca artikel
AgamaBerita

Menembus Batas, Mengukir Sejarah: Kisah Perjalanan Radtria Alkaf Menjadi Kepala KUA Perempuan Pertama di Sumatera Selatan

10
×

Menembus Batas, Mengukir Sejarah: Kisah Perjalanan Radtria Alkaf Menjadi Kepala KUA Perempuan Pertama di Sumatera Selatan

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Di sudut ruang kerja yang baru, di balik meja yang kini memikul tanggung jawab besar, Radtria Alkaf merenungkan kembali jalan hidup yang membawanya sampai ke titik ini. Perjalanan yang ia tempuh bukanlah garis lurus yang mulus, melainkan sebuah labirin penuh liku. Mulai dari bilik-bilik pesantren di tanah Minang, ruang kuliah di ibu kota, hingga perjalanan malam di atas bus membawa bayi mungil menuju tanah perantauan.

Kini, perempuan kelahiran Batuhampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 3 April 1992 ini resmi berdiri di garis depan sejarah. Dilantik oleh Kepala Kanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan pada Kamis (5/11/2026), Radtria mengemban amanah baru sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tiga Dihaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan di instansi pemerintah, melainkan sebuah terobosan kultural. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang memegang tampuk kepemimpinan KUA di Provinsi Sumatera Selatan.

Jejak langkah Radtria dibentuk oleh tempaan disiplin dan nilai-nilai keagamaan yang mengakar kuat sejak masa kecilnya. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara pasangan M. Alkaf (almarhum) dan Nurteti, hari-harinya di masa remaja dihabiskan menimba ilmu di Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, Bukittinggi. Selama tujuh tahun, deretan kitab kuning dan kedisiplinan pesantren membentuk karakternya menjadi pribadi yang tangguh.

Merantau ke Jakarta untuk mendalami ilmu Tafsir Hadis di UIN Syarif Hidayatullah, hingga mengabdikan diri sebagai guru honorer di Pesantren Al-Manaar Batuhampar saat pandemi melanda, adalah babak-babak di mana ia belajar bahwa hidup selalu menuntut ketulusan untuk beradaptasi. Bahkan, gelar Magister Pendidikan yang diraihnya dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada akhir 2025 lalu menjadi bukti bahwa semangat belajarnya tidak pernah padam oleh waktu maupun keadaan.

Ujian Hidup dan Pelukan Hangat untuk Bayi 48 Hari

Jika ditanya kapan titik paling menguji dalam hidupnya, Radtria mungkin akan mengenang tahun 2024 hingga 2025. Di usianya yang menginjak 32 tahun, di tengah gelombang persaingan seleksi CPNS yang ketat dengan generasi yang lebih muda, ia mengambil keputusan berani.

Jalannya tidak instan. Sempat terjegal di tahap administrasi awal, ia bangkit melalui jalur sanggah. Ujian itu kian berlipat ganda ketika tahapan seleksi harus ia lalui dalam kondisi berbadan dua, berdampingan dengan kewajiban merampungkan naskah tesis S-2.

Skenario paling emosional hadir ketika ia dinyatakan lulus dan harus meninggalkan tanah kelahirannya menuju OKU Selatan. Di dalam bus malam yang membelah jalanan panjang menuju perantauan, ia mendekap erat buah hatinya yang baru berusia 48 hari. Menjadi abdi negara di tempat baru, mengurus bayi seorang diri, serta membagi waktu sebagai seorang ibu dan istri adalah ujian ketahanan mental tertinggi yang berhasil ia lewati dengan kepala tegak.

Membawa Wajah Baru Pelayanan Keagamaan

Kini, di balik seragam dinasnya, Radtria siap membuktikan bahwa kepemimpinan di era modern tidak lagi dibatasi oleh gender, melainkan oleh integritas, empati, dan kapasitas kerja. Kepala Kankemenag OKU Selatan, Ikral, menyampaikan apresiasi mendalam atas torehan sejarah tersebut, menegaskan bahwa pintu pengabdian terbuka setara bagi siapa saja yang memiliki kompetensi.

Bagi Radtria sendiri, amanah besar di KUA Tiga Dihaji ini disikapinya dengan kerendahan hati. “Awalnya sempat ada keraguan di hati saya. Jabatan Kepala KUA memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar di tengah masyarakat. Namun saya sadar, amanah ini adalah ruang belajar untuk bertumbuh, menghadirkan pelayanan yang humanis, dan memberikan kontribusi nyata,” ungkapnya penuh keyakinan.

Kisah Radtria Alkaf adalah cermin tentang keteguhan seorang perempuan yang menolak menyerah pada keadaan. Dari gendongan bayi di bus malam hingga kursi pimpinan KUA di Bumi Serasan Seandanan, ia membuktikan bahwa batas-batas tradisi dapat diruntuhkan dengan ketulusan niat, kerja keras, dan doa yang tidak pernah putus.

(Depi Nopriyanti)