Palembang|DBN.com
Di Lawang Borotan Benteng Kuto Besak, Selasa Malam (29/7), Sanggar Seni Dinda Bestari mempersembahkan pertunjukan seni yang tak biasa dan tak terlupakan. Bertajuk “Lihat Aku”, acara ini menghadirkan perpaduan indah antara kesenian tradisional Sumatera Selatan dan ekspresi kreatif anak-anak disabilitas dari Kota Palembang.
Didukung oleh dana Indonesiana, LPDP, Kementerian Kebudayaan, serta pemerintah provinsi dan kota, Sanggar Dinda Bestari menunjukkan bahwa seni adalah ruang milik semua orang tanpa pengecualian.
Kolaborasi Penuh Makna
Sekitar 50 anak penyandang disabilitas dari SLB A, SLB Negeri Pembina, SLB Karya Ibu, dan YPAC Palembang tampil bersama 20 seniman kontemporer dan tradisional. Tarian, musik, nyanyian, bahkan teater dibawakan dengan semangat yang menyala—dengan pesan yang menggugah: Kami ada. Kami mampu.
Ketua Yayasan Dinda Bestari, Nurdin, menjelaskan bahwa pertunjukan ini bukan sekadar pagelaran, tetapi juga ruang ekspresi dan pembentukan rasa percaya diri. “Anak-anak disabilitas perlu merasa diterima dan dihargai, dan seni memberi mereka cara untuk berbicara kepada dunia,” ujarnya.
Sambutan Pemerintah yang Hangat
Wali Kota Palembang yang diwakili oleh Asisten II Ir. Isnaini Madani, M.T., M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menegaskan, tajuk “Lihat Aku” bukan hanya permintaan untuk dipandang, melainkan pernyataan keberadaan dan harapan. “Mereka adalah bagian dari warisan budaya bangsa,” katanya.
Pandji Tjahjanto, S.Hut., M.Si. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan menyuarakan dukungan penuh dengan harapan sanggar-sanggar lain mengikuti langkah inklusif Dinda Bestari, meski juga menekankan pentingnya kemandirian komunitas seni ke depan.
Seni yang Menyatukan
Pagelaran ini bukan hanya penampilan artistik. Ia adalah simbol keberagaman, empati, dan komitmen untuk membuka ruang yang adil bagi semua anak bangsa. Di bawah sorot lampu Benteng Kuto Besak, anak-anak difabel menyatakan diri mereka sebagai penjaga seni, warisan, dan harapan.(Ali G)