Scroll untuk baca artikel
BeritaCerita BersambungCERPENSerial cerita viral DBN

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

8
×

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Oleh : Kibagus Arfan Hasbullah

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA #Seri 2

Suara yang Kembali Bersama Senja

Langkah itu berhenti.

Begitu dekat.

Rafan mampu mendengar helaan napas seseorang di belakangnya.

Namun ia belum berani berbalik.

Ada ketakutan yang selama ini tak pernah ia rasakan.

Bukan takut kehilangan.

Melainkan takut jika harapan yang dipelihara selama dua puluh tahun ternyata hanyalah bayangan yang diciptakan oleh rindunya sendiri.

Angin sore kembali memainkan dedaunan trembesi.

Satu daun melayang perlahan…

Lalu jatuh tepat di antara kedua kaki mereka.

Seolah pohon tua itu masih mengenali dua hati yang pernah berjanji di bawah rindangnya.

Keheningan terasa begitu panjang.

Hingga akhirnya…

Sebuah suara lirih memecah senja.

“Kau masih datang ke sini…”

Tubuh Rafan menegang.

Suara itu…

Tak pernah berubah.

Lembut.

Hangat.

Dan selalu mampu membuat dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar.

Perlahan…

Ia membalikkan badan.

Di bawah semburat jingga yang memantul di permukaan danau, berdiri seorang perempuan.

Gaun kremnya bergoyang pelan diterpa angin.

Rambut panjangnya terurai.

Wajahnya masih samar karena cahaya matahari berada tepat di belakangnya.

Namun…

Rafan mengenali satu hal yang tak mungkin salah.

Lesung pipi kecil yang muncul bersama senyumnya.

Bibir Rafan bergetar.

“…Kirana?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan.

Air matanya jatuh satu demi satu.

Tanpa suara.

Tanpa isak.

Rafan melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin dekat.

Semakin jelas wajah yang selama ini hanya hidup dalam doa.

Namun…

Langkahnya kembali terhenti.

Tatapannya jatuh pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Kirana.

Dadanya mendadak terasa sesak.

Seluruh keberanian yang baru saja tumbuh runtuh dalam sekejap.

Kirana mengikuti arah pandangan Rafan.

Perlahan…

Ia menundukkan wajahnya.

Menggenggam cincin itu.

Lalu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Andai kau tahu… cincin ini adalah alasan mengapa aku tak pernah berani kembali…”

Rafan membeku.

Ia ingin bertanya.

Namun tak satu kata pun sanggup keluar dari bibirnya.

Senja kembali tenggelam.

Danau kembali tenang.

Sementara pohon trembesi tetap berdiri menjadi saksi.

Bahwa cinta…

Tak selalu hilang karena berhenti mencintai.

Kadang…

Ia menghilang karena terlalu banyak pengorbanan yang tak pernah sempat diceritakan.

Bersambung…..