Duta Berita Nusantara | Palembang
Berawal dari Palembang pada 1999, SWINRYU membawa semangat kemandirian, persaudaraan, dan kehormatan dalam pengembangan seni bela diri Indonesia.
Di tengah berkembangnya berbagai aliran seni bela diri dari berbagai negara, sebuah sistem bela diri yang mengusung identitas Indonesia tumbuh dari Lembak, Palembang, Sumatera Selatan. Namanya SWINRYU, singkatan dari Satria Wiralaga Indonesia.
SWINRYU diperkenalkan oleh pendirinya, Grand Master Dede Suwino, S.T., sebagai ryuha independen, yakni aliran atau sistem bela diri mandiri yang dikembangkan dengan identitas, filosofi, kurikulum, dan teknik tersendiri.
Dalam wawancara eksklusif bersama Duta Berita Nusantara (DBN) di Markas Besar SWINRYU, Lembak, Palembang, Grand Master Dede Suwino menceritakan perjalanan panjang membangun sistem bela diri tersebut sejak 1999 hingga upaya memperluas pengenalannya ke tingkat internasional.
Bagi Dede, SWINRYU bukan sekadar latihan fisik atau keterampilan mempertahankan diri. Lebih dari itu, SWINRYU merupakan wujud perjuangan untuk membangun identitas, karakter, dan kebanggaan terhadap karya anak bangsa.
Berawal dari Lembak, Meneguhkan Identitas Sendiri
Ketika ditanya mengenai hakikat SWINRYU, Grand Master Dede menegaskan bahwa sistem yang dikembangkannya bukan merupakan cabang dari perguruan bela diri lain.
“SWINRYU itu bukan cabang dari perguruan lain. SWINRYU adalah ryuha sendiri. Artinya, sistem bela diri mandiri yang mempunyai kurikulum, filosofi, dan teknik sendiri. Singkatannya Satria Wiralaga. Filosofinya sederhana: ‘Ada Tapi Tiada, Tiada Tapi Ada’. Kita berdiri sejak 1999, dari Lembak, Palembang ini,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya identitas dalam perjalanan SWINRYU. Sejak awal, Dede berupaya membangun sistem yang memiliki karakter tersendiri sekaligus menjadikannya sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam perkembangan seni bela diri.
Perjalanan yang dimulai pada 1999 tentu bukan proses singkat. Dibutuhkan konsistensi, dedikasi, dan keyakinan untuk mempertahankan sebuah gagasan hingga berkembang menjadi sistem latihan yang memiliki identitas sendiri.
Tahun 2022, Momentum Kebangkitan SWINRYU
Setelah bertahun-tahun membangun SWINRYU, Dede menyebut 2022 sebagai salah satu momentum penting dalam perjalanan perguruannya.
Pada tahun tersebut, Markas Besar SWINRYU di Lembak, Palembang, menerima kunjungan Brahma Guru Henri Hendarto, sosok yang disebut Dede sebagai sahabat, saudara, sekaligus figur panutan.
Dede menegaskan bahwa hubungan keduanya dibangun atas dasar persahabatan dan persaudaraan, bukan hubungan guru dan murid.
“Betul, 1999 kita berjuang dalam diam. Titik baliknya adalah tahun 2022. Saat itu Markas Besar kami kedatangan seorang sahabat, saudara, sekaligus figur panutan kami, Brahma Guru Henri Hendarto,” tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan makna kunjungan tersebut bagi perjalanan SWINRYU.
“Saya tegaskan, beliau bukan guru saya. Beliau adalah sahabat dan saudara. Kehadiran beliau ke Lembak, Palembang, itu adalah sebuah pengakuan persahabatan antarp en diri. Seorang figur legenda datang mengakui lahirnya sebuah RYUHA baru dari Indonesia. Dari situ kami mendapat semangat baru untuk go international,” ujarnya.
Bagi Dede, pertemuan tersebut menjadi dorongan moral untuk semakin percaya diri memperkenalkan SWINRYU ke lingkungan yang lebih luas, tanpa kehilangan jati diri dan akar kelahirannya di Palembang.
Mengembangkan Jaringan hingga Internasional
Dalam wawancara tersebut, Grand Master Dede juga memaparkan sejumlah bentuk pengakuan dan hubungan internasional yang menurutnya telah diterima SWINRYU.
Ia menyebut pengakuan dari ASAMCO Italia pada 2025, serta perhatian dari Museum Kungfu di Wonosobo dan sejumlah pihak yang disebut berasal dari Yunani, Aljazair, serta Amerika Serikat.
Menurut Dede, perkembangan tersebut menjadi penyemangat bagi SWINRYU untuk memperluas jaringan sekaligus memperkenalkan sistem bela diri yang dikembangkannya dari Palembang.
“Alhamdulillah. Karena kita adalah RYUHA independen, penghargaan itu datang sebagai pengakuan, bukan sebagai cabang. Tahun 2025 kita mendapat recognition dari ASAMCO Italia, organisasi besar Eropa. Kemudian Museum Kungfu di Wonosobo, dan saudara-saudara kita di Yunani, Aljazair, Amerika. Mereka mengakui SWINRYU sebagai Tactical Self Defense yang orisinal dari Palembang,” jelasnya.
Klaim pengakuan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan yang disampaikan pendiri SWINRYU. Untuk memperkuat dokumentasi sejarah dan kredibilitas internasionalnya, bentuk pengakuan, nama lembaga, serta ruang lingkup penghargaan tersebut perlu didukung dokumen atau konfirmasi dari pihak terkait.
Terlepas dari proses verifikasi itu, upaya membangun sistem bela diri dengan identitas mandiri menunjukkan adanya semangat untuk berkarya dan memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Tactical, Honor, Brotherhood, Respect
Bagi Grand Master Dede, pengembangan SWINRYU tidak berhenti pada teknik bela diri. Ada nilai-nilai yang ingin terus dipertahankan sebagai fondasi pembentukan karakter para anggotanya.
Ia menekankan empat prinsip yang menjadi pesan penting bagi generasi muda, yaitu Tactical, Honor, Brotherhood, dan Respect.
Prinsip tersebut mencerminkan pentingnya kemampuan bertindak secara tepat, menjaga kehormatan, memperkuat persaudaraan, serta menghormati sesama.
Ketika ditanya mengenai pesan untuk generasi muda, Dede menyampaikan keyakinannya bahwa anak bangsa tidak perlu merasa rendah diri untuk menghasilkan karya sendiri.
“Jangan malu jadi asli. Kita dari Lembak bisa menciptakan sistem sendiri yang diakui dunia. SWINRYU ini milik Indonesia. Tactical, Honor, Brotherhood, Respect. Itu yang kita jaga,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar generasi muda berani mengembangkan potensi, membangun disiplin, dan menghasilkan karya yang berakar pada identitas bangsa.
Dari Palembang, Membawa Semangat Karya Anak Bangsa
Wawancara eksklusif tersebut ditutup dengan sesi foto bersama di Markas Besar SWINRYU, dengan lambang kebanggaan berupa Serigala Wiralaga dan Naga Emas.
Kedua simbol tersebut menjadi identitas visual yang merepresentasikan semangat dan kebanggaan komunitas SWINRYU.
Perjalanan SWINRYU sejak 1999 memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan yang tumbuh di daerah dapat dikembangkan melalui ketekunan, keyakinan, dan komitmen terhadap identitasnya sendiri.
Tantangan selanjutnya adalah memastikan pengembangan sistem latihan, pembinaan anggota, dokumentasi sejarah, serta pengakuan dari berbagai pihak berjalan secara konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Lembak, Palembang, SWINRYU membawa pesan bahwa karya anak bangsa layak dikembangkan, diperkenalkan, dan diuji melalui proses yang terbuka.
Sebab, kebanggaan terhadap Indonesia tidak hanya diwujudkan dengan mengagumi karya bangsa lain, tetapi juga dengan keberanian menciptakan karya sendiri, menjaganya dengan integritas, dan membuktikan manfaatnya bagi masyarakat.












