Scroll untuk baca artikel
CERPENSerial cerita viral DBN

DUA CANGKIR RINDU

4
×

DUA CANGKIR RINDU

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

DUA CANGKIR RINDU

Oleh: Nurul Jannah

“Bang, maaf, tinggal dua puluh menit lagi. Setelah itu aku temani.”

Akbar berdiri di ambang pintu kamar. Di layar laptop Anisa, beberapa mahasiswa masih menunggu penjelasan.

“Dari tadi kamu bilang sebentar.”

“Ini kelas pengganti. Aku sudah cerita kemarin, kan?”

Akbar menghela napas.

“Iya. Lanjutkan saja.”

Pintu tertutup. Anisa kembali menatap layar, tetapi pikirannya tak lagi utuh di ruang kelas.

Seusai mengajar, ia menemukan Akbar duduk sendirian di ruang keluarga.

“Abang mau bicara apa tadi?”

“Tidak jadi. Aku cuma heran. Untuk mahasiswa, kamu selalu punya waktu. Untukku, harus menunggu.”

Anisa duduk di sampingnya.

“Abang tahu aku punya tanggung jawab.”

“Aku tahu. Tapi lihat istri teman-temanku. Mereka bisa membagi waktu.”

Anisa menatap suaminya.

“Kenapa harus membandingkan aku dengan mereka?”

“Aku cuma memberi contoh.”

Anisa terdiam.

Ia mengambil dua cangkir teh dari dapur. Satu diletakkan di hadapan Akbar, tetapi lelaki itu tak menyentuhnya.

Di luar, hujan masih mengguyur Kota Bogor.

—

Dua puluh tahun sebelumnya.

“Kalau nanti kita tua, aku ingin tetap minum teh bersamamu setiap sore,” kata Akbar.

“Kalau aku keriput?”

“Aku pun demikian.”

“Kalau aku cerewet?”

“Aku dengarkan.”

“Kalau aku marah?”

“Aku peluk sampai kamu lupa kenapa marah.”

Anisa tertawa.

Mereka baru menikah dan tinggal di rumah kontrakan kecil. Perabot belum lengkap, sepeda motor sering mogok, dan dua cangkir di dapur berbeda warna.

Suatu malam, genting bocor. Air menetes tepat di atas meja makan.

“Wah, Nis! Rumah kita punya air terjun!”

Akbar bergegas mengambil ember.

“Maaf, Sayang. Belum bisa memberimu rumah yang bagus.”

Mereka tertawa bersama sampai lupa bahwa hujan belum reda.

—

Jumat, pukul 22.17.

Anisa memandangi dua cangkir teh yang mulai dingin.

Ia membuka ponsel.

Bang, aku rindu kita yang dulu.

Dihapus.

Bang, aku capek kalau kita terus bertengkar.

Dihapus pula.

Akhirnya, ponsel diletakkan di samping foto pernikahan mereka.

Akbar adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Ia bekerja keras dan selalu memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Namun, tekanan pekerjaan terkadang membuatnya mudah tersinggung. Ia terbiasa mengambil keputusan cepat, tetapi sulit menerima ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Beberapa hari sebelumnya, Anisa terlambat satu jam dari janji makan malam karena bimbingan mahasiswa.

“Aku sudah menunggu,” kata Akbar.

“Maaf, Bang. Tadi revisinya cukup banyak.”

“Selalu mahasiswa.”

“Aku sudah mengirim pesan kalau pulang agak telat.”

“Aku baca.”

Akbar menghela napas.

“Kadang aku merasa kamu sudah tidak membutuhkan aku.”

Anisa terdiam.

“Aku cuma ingin istriku selalu ada untukku.”

“Aku juga ingin selalu bersama Abang. Tapi aku juga punya tanggung jawab pekerjaan.”

“Kamu selalu punya jawaban.”

Anisa berhenti bicara.

Sejak itu, ia semakin berhati-hati memilih kata.

—

Sabtu, pukul 06.40.

Akbar duduk di teras setelah hujan semalaman.

Anisa datang membawa selimut.

“Pakai ini, Bang.”

Akbar menerimanya.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

“Aku tahu.”

Anisa mengambil kotak kecil dari lemari. Di dalamnya tersimpan foto pernikahan dan sepucuk surat.

Anisa menyodorkan kotak kecil itu kepada Akbar.

Akbar membuka kotak tersebut dan membaca tulisan tangannya sendiri, dua puluh tahun silam.

Untuk Anisa, sang belahan jiwa tercinta.

Kalau dunia membuatmu lelah, bersandarlah kepadaku. Aku tidak berjanji hidup kita selalu mudah, tetapi aku berjanji tidak akan membiarkanmu merasa sendirian.

“Aku bahkan lupa pernah menulis ini,” kata Akbar.

“Aku tidak.”

Anisa menatap halaman yang masih basah.

“Dulu, kalau aku cerita panjang, Abang mendengarkan. Sekarang aku baru mulai bicara, Abang sudah bilang aku membantah.”

“Aku lagi banyak pikiran.”

“Aku tahu. Aku siap mendengarkan. Tapi aku juga ingin didengarkan.”

Akbar melipat surat itu dan menyerahkannya kembali kepada Anisa.

—

Malam itu.

Akbar menemukan koper kecil terbuka di atas ranjang.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah Ibu. Beberapa hari saja.”

Akbar menatapnya tak percaya.

“Aku hanya perlu menenangkan diri.”

“Dari suamimu sendiri?”

Anisa menghentikan lipatan pakaiannya.

“Aku tidak ingin bertengkar ….”

“Justru itulah masalahmu, Nis.”

“Karena setiap aku menjelaskan, Abang bilang aku membantah.”

“Aku hanya ingin dihargai sebagai suami!”

“Aku menghargai Abang.”

“Kalau menghargai, kenapa aku selalu mendapat sisa waktumu?”

Anisa menarik napas.

“Abang tidak mendapat sisa waktuku. Kita hampir setiap hari bersama.”

“Kamu memang duduk di sebelahku, tapi pikiranmu di pekerjaan.”

Anisa tersenyum getir.

“Aku tidak pernah melarangmu bekerja,” lanjut Akbar. “Aku bangga kamu mengajar. Tapi aku juga rindu keberadaanmu, perhatianmu.”

“Lalu kenapa tiba-tiba suka membandingkan aku dengan perempuan lain?”

“Aku hanya ingin kamu mengerti!”

Akbar memalingkan wajah.

“Aku bekerja keras membangun rumah ini supaya kamu nyaman.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang masih kurang?”

Anisa menatapnya lama.

“Bang, ingat rumah kontrakan kita dulu?”

Akbar mengerutkan kening.

“Kenapa membicarakan itu?”

“Atapnya bocor. Motornya sering mogok. Kita bahkan tidak punya cangkir yang sepasang.”

“Lalu?”

“Waktu itu aku bahagia sekali.”

Akbar terdiam.

Anisa melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.

“Sekarang rumah kita bagus. Tidak ada lagi ember di bawah genting bocor. Tapi aku justru sering menangis di kamar mandi supaya Abang tidak mendengar.”

Akbar tersentak.

“Jadi selama ini aku membuatmu tidak bahagia?”

“Aku tidak bilang begitu.”

Anisa menggeleng.

Akbar berjalan mendekati jendela.

“Kadang aku merasa kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi.”

Anisa mendekat.

“Bang, aku membutuhkan Abang. Tapi bukan berarti aku harus berhenti menjadi diriku sendiri, kan?”

“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja!”

“Memang tidak. Tapi Abang sering membuatku merasa bersalah.”

Akbar berbalik.

“Lalu bagaimana dengan perasaanku?”

Anisa menahan tangis.

“Aku ingin menjaga perasaan Abang. Tapi siapa yang menjaga perasaanku kalau setiap kali aku menjelaskan, Abang menyebutku membantah?”

Kamar itu mendadak sunyi.

Akbar memandangi koper di atas ranjang.

“Aku hanya ingin kamu memikirkan keputusanmu.”

“Aku sudah memikirkannya.”

Akbar menatapnya.

“Jadi kamu benar-benar memilih pergi?”

“Beberapa hari saja. Aku hanya ingin sedikit menenangkan diri di rumah Ibu.”

Akbar mendekat dan meraih tangannya.

Anisa memandangi jemari suaminya. Jemari yang dahulu menggenggam tangannya ketika mereka mengucapkan janji pernikahan.

Ia menarik tangannya perlahan.

Akbar terpaku.

“Anisa …. Kamu sudah tidak sayang kepadaku?”

Air mata Anisa akhirnya jatuh.

“Kalau aku sudah tidak sayang, aku tidak akan merasa sesedih ini.”

“Lalu kenapa harus pergi?”

Anisa mengusap pipinya.

“Karena aku takut suatu hari nanti aku tidak lagi bisa menangis. Aku takut hatiku sudah terlalu lelah untuk merasakan apa-apa.”

Akbar kehilangan kata-kata.

“Aku tidak ingin kehilangan Abang,” lanjut Anisa. “Tapi aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri.”

Ia menutup koper.

Akbar duduk di tepi ranjang.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu punya jawaban itu hanya mampu menunduk.

—

Keesokan paginya.

 

Anisa berdiri di depan pintu. Akbar telah menunggu sejak subuh. Semalaman ia hampir tidak tidur.

Biasanya, sebelum bepergian, Anisa selalu mencium tangannya, mengingatkan jadwal makan, lalu bertanya apakah ada yang ingin dititipkan.

Pagi itu, Anisa hanya berkata, “Jaga kesehatan, Bang.”

“Nis ….”

Anisa menoleh.

“Aku boleh mengantarmu?”

“Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri.”

“Kapan aku boleh menjemputmu?”

“Nanti kita bicarakan.”

Anisa melangkah, lalu berhenti.

“Bang ….”

“Iya?”

“Aku tidak pergi karena berhenti mencintaimu. Aku hanya ingin punya me time agar bisa menyegarkan kembali seluruh rasa cintaku kepada Abang.”

Akbar menelan ludah.

“Maafkan aku, Nis.”

Anisa tersenyum dengan mata basah.

Akbar ingin memeluknya, tetapi ia menahan diri.

“Jaga diri baik-baik, ya.”

Anisa mengangguk.

Mobil itu perlahan meninggalkan halaman.

Akbar masih berdiri di depan pintu ketika kendaraan Anisa menghilang di tikungan.

Ia menoleh ke ruang makan.

Dua cangkir teh semalam masih berada di sana.

Akbar mengambil cangkir putih milik Anisa. Di bibir cangkir itu masih tertinggal bekas lipstik yang samar.

Ia mengusapnya dengan ibu jari.

Lalu duduk.

Baru pagi itu Akbar memahami bahwa Anisa tidak pernah meminta hidup yang sempurna. Ia hanya ingin tetap merasa dicintai di rumah yang mereka bangun bersama.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, Akbar menangis tanpa ada Anisa yang datang bertanya mengapa.

—

Malam ketiga.

Akbar menelepon.

“Assalamu’alaikum, Nis.”

“Wa’alaikumussalam, Bang.”

“Kamu sudah makan?”

“Sudah. Abang?”

“Sudah.”

Hening sejenak.

“Nis, aku mau minta maaf. Selama ini, kalau kamu menjelaskan sesuatu, aku sering merasa sedang disalahkan.”

“Aku kadang bicara saat sedang kesal.”

“Iya. Tapi aku terlalu sering memotong pembicaraanmu.”

Anisa mengusap matanya.

“Aku rindu Abang.”

“Aku juga. Rumah ini sepi sekali.”

“Biasanya Abang juga sendiri kalau aku sedang bekerja.”

“Beda, Nis. Biasanya aku tahu kamu ada.”

Tangis Anisa pecah.

“Tapi aku takut semuanya terulang.”

“Aku mau belajar. Aku ingin kamu tetap mengajar. Aku tahu kamu bahagia melakukannya. Kita cari cara supaya tetap punya waktu berdua.”

Anisa tersenyum dalam tangis.

“Kalau Abang mulai keras kepala?”

“Ingatkan.”

“Memangnya mau mendengar?”

Akbar tertawa kecil.

“Aku sedang latihan, Nisa cantik ….”

—

Dua minggu kemudian.

Akbar datang menemui Anisa dengan membawa dua cangkir lama.

“Untuk apa dibawa?” tanya Anisa.

“Mau mengajakmu minum teh.”

“Di sini banyak cangkir, Bang.”

“Tapi bukan cangkir kita.”

Anisa tertawa.

Mereka berbicara lama. Tentang pekerjaan, rasa lelah, waktu bersama, dan kebiasaan yang perlu diperbaiki.

Ketika Anisa bercerita, Akbar sempat hendak menyela. Namun, ia menahan diri.

“Abang kenapa?”

“Tidak apa-apa. Lanjutkan. Aku mau dengar sampai selesai.”

Anisa tersenyum.

Menjelang sore, Akbar mengulurkan tangan.

“Nis, kalau kamu sudah siap, kita coba lagi, ya?”

“Aku mau, Bang. Tapi kalau nanti ada perbedaan pendapat, kita bicara baik-baik, ya.”

Akbar tersenyum.

“Berarti kita sama-sama harus berubah.”

“Iya. Jangan cuma aku.”

—

Tiga minggu kemudian.

Hujan kembali turun di Kota Bogor.

Anisa telah kembali tinggal bersama Akbar. Mereka masih sesekali berbeda pendapat, tetapi mulai membiasakan diri menyelesaikan percakapan tanpa perlu meninggikan suara.

Sore itu, Akbar datang ke teras membawa dua cangkir teh.

“Untuk Nona Anisa,” katanya sambil membungkuk.

Anisa tertawa.

“Pelayannya sudah tua.”

“Memang. Tapi masih tampan.”

“Menurut siapa?”

“Menurut perempuan yang membuatnya jatuh cinta dua puluh tahun lalu.”

“Kalau sekarang?”

“Sekarang juga. Malah tambah sayang.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang sudah lebih banyak bersabar menghadapinya.”

Anisa menyenggol lengan Akbar dengan jahil.

“Abang harus banyak bersabar menghadapi aku, ya.”

“Hmm. Perfect, kita cocok.”

“Cocok untuk saling menguji kesabaran?”

Akbar tertawa.

“Juga cocok untuk saling menemani sampai tua.”

—

Suatu sore, Anisa menyandarkan kepala di bahu Akbar.

“Bang, kalau nanti aku sudah keriput, Abang masih mau minum teh denganku?”

“Tentu saja, Sayang.”

“Kalau aku cerewet?”

“Aku dengarkan.”

“Kalau aku menangis?”

Akbar menoleh.

“Aku tanya dulu kenapa. Habis itu kupeluk erat.”

Anisa tersenyum. Matanya mulai basah.

“Kenapa menangis?”

“Aku cuma senang mendengar Abang memanggilku Sayang lagi.”

Akbar merangkulnya.

“Maaf, ya, Nis.”

Anisa menggenggam tangan suaminya.

“Bang, aku tidak takut menjadi tua. Aku cuma takut kita terlalu sibuk sampai lupa menikmati waktu menua bersama.”

Akbar mengecup punggung tangannya.

“Mulai sekarang, kita harus lebih sering minum teh berdua.”

“Setiap sore?”

“Kalau bisa.”

“Kalau Abang sibuk?”

“Kita cari waktu lain.”

“Kalau aku mengajar?”

“Aku tunggu kelasnya selesai.”

Anisa tertawa.

“Tumben sabar.”

“Sedang latihan.”

Di meja, teh mereka mulai dingin.

“Bang, tehnya sudah dingin.”

Akbar segera berdiri.

“Biar kuhangatkan.”

“Tidak usah. Aku saja.”

“Duduklah. Biar aku yang urus.”

Anisa memperhatikan suaminya berjalan menuju dapur.

Dua puluh tahun lalu, lelaki itu sering membuatkan teh hangat untuk mereka berdua di rumah kontrakan yang atapnya bocor.

Sore ini, ia kembali membuatkan teh hangat.

Ketika Akbar datang membawa dua cangkir teh hangat, Anisa menggeser kursinya agar lelaki itu duduk lebih dekat.

“Bang ….”

“Iya, Sayang?”

“Terima kasih sudah mau memahami aku.”

Akbar menggenggam tangannya.

“Terima kasih sudah memberiku kesempatan.”

Di luar, hujan belum reda.

Anisa menyandarkan kepala di bahu Akbar. Lelaki itu merapikan selimut di pangkuannya.

“Dingin, Nis?”

“Sedikit.”

“Mau masuk?”

Anisa menggeleng.

“Sebentar lagi, Bang. Aku masih ingin duduk di sini.”

Akbar tersenyum.

“Baik. Aku temani.”

Anisa memejamkan mata. Setelah sekian lama, ia kembali merasa nyaman bersandar di bahu lelaki yang dicintainya.

Di meja, dua cangkir teh mengepulkan uap tipis.

Dan sore itu, tak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.

Cukup duduk berdekatan, mendengarkan hujan, dan menikmati waktu yang masih Allah berikan untuk saling mencintai.

Jakarta, 17 Oktober 2026

CERPEN

Duta Berita Nusantara | Palembang MAK ANI Oleh…

Serba Serbi

Duta Berita Nusantara | Jakarta JODOH Oleh: Nurul…