Scroll untuk baca artikel
BeritaJakarta

EKONOMI HIJAU ” Ketika Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdamai dengan Alam “

8
×

EKONOMI HIJAU ” Ketika Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdamai dengan Alam “

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

EKONOMI HIJAU

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdamai dengan Alam

Oleh: Nurul Jannah

Apa artinya negara semakin kaya jika tanahnya semakin miskin, sungainya semakin keruh, dan udara yang dihirup rakyatnya semakin sulit dipercaya?

Kita begitu bangga ketika ekonomi tumbuh, investasi meningkat, pabrik bertambah, dan pembangunan terus bergerak. Angka-angka itu diumumkan sebagai tanda kemajuan. Namun, pernahkah kita menghitung berapa banyak pohon yang hilang, air yang tercemar, dan tanah yang kehilangan kesuburan demi mengejar pertumbuhan tersebut?

Jangan-jangan kita sedang merayakan keuntungan hari ini sambil mewariskan kerugian kepada anak cucu.

Di tengah kegelisahan itulah hadir sebuah gagasan yang semakin penting: Ekonomi Hijau atau Green Economy. Sebuah cara membangun kesejahteraan tanpa menghabiskan kekayaan alam yang menopang kehidupan.

Gagasan ini mengajak kita mengubah cara berpikir, dari mengambil sebanyak-banyaknya menjadi memanfaatkan secukupnya, mengelola sebaik-baiknya, dan memulihkan apa yang telah rusak.

Apa Itu Ekonomi Hijau?

Ekonomi hijau adalah pendekatan pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial sekaligus mengurangi risiko lingkungan serta kelangkaan sumber daya alam. Konsep ini dikenal melalui tiga prinsip utama, yaitu rendah karbon, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan inklusif secara sosial.

Rendah karbon berarti kegiatan ekonomi berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Efisiensi sumber daya berarti energi, air, bahan baku, dan lahan dimanfaatkan dengan bijaksana. Sementara itu, inklusivitas sosial berarti manfaat pembangunan harus dirasakan secara lebih adil, termasuk oleh petani, nelayan, pekerja, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Bayangkan sebuah pabrik yang mampu meningkatkan produksi sambil menghemat listrik, menggunakan kembali air proses, dan mengurangi limbah.

Bayangkan pula petani yang berhasil meningkatkan hasil panen tanpa terus memperberat kerusakan tanah. Itulah gambaran ekonomi hijau. Kemajuan yang tidak harus dibayar dengan kehancuran lingkungan.

Mengapa Harus Hijau?

Alam memiliki kemampuan untuk menyediakan sumber daya sekaligus menyerap sebagian dampak kegiatan kita. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika pengambilan sumber daya dan pencemaran melampaui kemampuan alam untuk pulih, kerusakan mulai menumpuk dan akhirnya memengaruhi kehidupan serta perekonomian.

Seorang petani dapat kehilangan penghasilan ketika tanahnya rusak dan air irigasi berkurang. Pedagang kecil dapat kehilangan pelanggan ketika banjir menggenangi tempat usahanya. Nelayan dapat menghadapi biaya perjalanan yang semakin besar ketika ekosistem pesisir dan laut mengalami penurunan kualitas.

Kerusakan lingkungan ternyata bukan hanya persoalan pepohonan, satwa, atau pemandangan alam. Ia dapat menjelma menjadi harga pangan yang meningkat, biaya kesehatan yang membengkak, kehilangan pekerjaan, dan beban hidup yang semakin berat.

Ketika alam rusak, tagihannya tidak selalu datang kepada pihak yang merusaknya. Sering kali, justru masyarakat paling rentan yang harus membayarnya.

Itulah alasan ekonomi hijau menjadi penting. Karena pembangunan membutuhkan fondasi lingkungan yang sehat agar kesejahteraan dapat bertahan.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Ekonomi hijau bukan hanya urusan pemerintah atau perusahaan besar. Perubahan memerlukan keterlibatan berbagai pihak dengan tanggung jawab yang berbeda.

Pemerintah berperan menetapkan kebijakan, menyediakan insentif, mengembangkan infrastruktur, dan mengawasi kepatuhan lingkungan. Dunia usaha bertanggung jawab memperbaiki proses produksi, mengendalikan pencemaran, meningkatkan efisiensi, serta memastikan pekerja dan masyarakat tidak menanggung risiko yang tidak semestinya.

Perguruan tinggi dapat mengembangkan teknologi, penelitian, dan inovasi yang dapat diterapkan. Petani, pelaku UMKM, komunitas, serta rumah tangga juga memiliki peran melalui pilihan produksi dan konsumsi sehari-hari.

Bayangkan jika satu kampus mulai mengelola sampah organiknya menjadi kompos, menggunakan peralatan hemat energi, mengurangi makanan terbuang, dan memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan yang sesuai. Langkah tersebut dapat menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan.

Ekonomi hijau akan bergerak lebih cepat ketika kepedulian tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berubah menjadi kebiasaan dan keputusan.

Di Mana Diterapkan?

Ekonomi hijau dapat diterapkan hampir di seluruh sektor kehidupan. Berikut beberapa contoh yang dekat dengan kondisi Indonesia.

1. Pertanian: Tanah yang Kembali Bernapas

Di sebuah desa, petani terbiasa membakar sisa jerami setelah panen karena dianggap sebagai cara paling cepat membersihkan lahan. Padahal, jerami dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau bahan pembenah tanah melalui pengolahan yang tepat. Pemanfaatan tersebut dapat mengurangi pembakaran terbuka sekaligus membantu mengembalikan bahan organik ke lahan.

Bayangkan perubahan yang terjadi ketika petani mulai mengelola sisa panen, menggunakan pupuk secara lebih tepat, menerapkan pengendalian hama terpadu, dan menjaga kelembapan tanah. Biaya tertentu dapat ditekan, kesehatan tanah lebih terpelihara, dan ketergantungan pada input eksternal berpotensi berkurang.

Ekonomi hijau mengingatkan bahwa tanah bukan mesin yang boleh terus dipaksa menghasilkan tanpa pernah dirawat.

2. Sampah: Dari Beban Menjadi Berkah

Setiap hari, rumah tangga menghasilkan sisa makanan, plastik, kertas, dan berbagai material lain. Ketika semuanya dicampur, nilai material yang masih dapat dimanfaatkan sering hilang dan pengolahannya menjadi lebih sulit. Sebaliknya, pemilahan sejak sumber membuka peluang pengomposan, daur ulang, dan pengurangan residu.

Di lingkungan permukiman, bank sampah dapat membantu warga mengumpulkan material yang masih bernilai ekonomi. Sisa makanan dan sampah kebun dapat diolah menjadi kompos melalui sistem yang dikelola dengan benar. Pelaku usaha daur ulang juga dapat memperoleh bahan baku yang lebih bersih dan mudah diproses.

Namun, ekonomi hijau tidak berhenti pada menjual sampah. Langkah terpenting tetap mengurangi timbulan sejak awal, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan memperpanjang masa pakai produk.

Sampah mengajarkan satu pelajaran berharga: apa yang kita buang sering mencerminkan bagaimana kita menghargai sumber daya.

3. Industri: Untung Tanpa Mencemari

Sebuah industri menggunakan air dalam jumlah besar untuk kegiatan produksinya. Selama bertahun-tahun, perusahaan hanya berfokus pada ketersediaan air baku dan pengolahan air limbah. Setelah melakukan evaluasi, perusahaan menemukan peluang mengurangi kebocoran, memperbaiki proses pencucian, serta menggunakan kembali air yang telah diolah untuk kebutuhan yang memenuhi persyaratan teknis.

Hasilnya, kebutuhan air baku berpotensi menurun dan biaya operasional dapat lebih terkendali. Beban pengolahan air limbah pun dapat berkurang apabila perubahan proses dilakukan dengan tepat.

Pendekatan serupa dapat diterapkan pada penggunaan energi, bahan baku, dan kemasan. Melalui Life Cycle Assessment (LCA), perusahaan juga dapat menilai dampak lingkungan produknya sepanjang siklus hidup, sehingga perbaikan dilakukan berdasarkan data.

Industri yang cerdas bukan hanya pandai menghasilkan produk, tetapi juga pandai mengurangi sumber daya yang terbuang.

4. Energi: Mengubah Cara Kita Menyalakan Kehidupan

Listrik membantu rumah sakit bekerja, sekolah belajar, dan industri berproduksi. Namun, pembangkitan energi dari bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca dan dapat menimbulkan dampak lingkungan lainnya. Karena itu, transisi energi menjadi bagian penting dari ekonomi hijau.

Pemasangan panel surya pada bangunan yang sesuai, penggunaan mesin hemat energi, perbaikan sistem pendingin, serta pengaturan konsumsi listrik merupakan contoh langkah yang dapat dilakukan. Efektivitasnya perlu dihitung berdasarkan kondisi teknis, biaya, dan kebutuhan pengguna.

Transisi energi juga harus memperhatikan pekerja serta masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor energi konvensional. Perubahan yang berkelanjutan bukan hanya mengganti teknologi, tetapi juga memastikan adanya kesempatan ekonomi yang adil.

Energi masa depan tidak cukup hanya lebih bersih. Ia juga harus dapat diakses dan memberi manfaat bagi kehidupan.

5. Transportasi: Bergerak Tanpa Membebani

Kemacetan, konsumsi bahan bakar, dan emisi kendaraan merupakan tantangan kota-kota besar. Ekonomi hijau mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih baik, perjalanan yang lebih efisien, kendaraan rendah emisi, serta fasilitas berjalan kaki dan bersepeda yang aman.

Mobil listrik dapat menjadi bagian dari solusi, terutama ketika sumber listrik semakin bersih dan penggunaan kendaraan dilakukan secara efisien. Namun, dampak lingkungan kendaraan juga perlu dilihat dari produksi baterai, sumber energi, penggunaan, hingga pengelolaan pada akhir masa pakainya.

Artinya, mengganti kendaraan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan transportasi. Mengurangi perjalanan yang tidak perlu dan meningkatkan kualitas transportasi publik juga sangat penting.

Kapan Harus Dimulai?

Jawabannya tentu saja, sekarang.

Tidak perlu menunggu seluruh teknologi menjadi murah atau semua pihak memiliki pemahaman yang sempurna. Perubahan dapat dimulai dengan memetakan penggunaan sumber daya, menemukan pemborosan terbesar, lalu menetapkan tindakan yang realistis.

Sebuah sekolah dapat memulai dengan audit sederhana terhadap listrik, air, dan sampah. Sebuah restoran dapat menghitung makanan yang terbuang setiap hari. Sebuah perusahaan dapat meninjau kembali konsumsi energi per unit produk, sementara petani dapat mengevaluasi kebutuhan pupuk dan air berdasarkan kondisi lahannya.

Yang penting, setiap langkah memiliki ukuran keberhasilan. Tanpa pengukuran, kita sulit mengetahui apakah kegiatan benar-benar memberikan manfaat atau hanya terlihat baik di atas kertas.

Menunda perubahan berarti membiarkan biaya kerusakan terus bertambah.

Bagaimana Mewujudkannya?

Ada lima langkah praktis yang dapat diterapkan oleh individu, komunitas, maupun perusahaan.

Pertama, kenali jejak lingkungan. Hitung penggunaan air, energi, bahan baku, dan jumlah limbah yang dihasilkan. Data awal membantu menentukan persoalan yang paling mendesak.

Kedua, kurangi pemborosan dari sumbernya. Perbaiki proses yang tidak efisien, hindari konsumsi berlebihan, dan gunakan sumber daya sesuai kebutuhan.

Ketiga, manfaatkan kembali material yang masih bernilai. Terapkan prinsip ekonomi sirkuler melalui penggunaan ulang, perbaikan, pengomposan, dan daur ulang yang sesuai.

Keempat, libatkan masyarakat dan pekerja. Perubahan yang mengabaikan kebutuhan serta kemampuan mereka akan sulit bertahan dalam jangka panjang.

Kelima, ukur dan perbaiki hasilnya. Gunakan indikator seperti penurunan konsumsi energi, penghematan air, pengurangan emisi, penurunan timbulan limbah, serta manfaat ekonomi dan sosial.

Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara konsisten. Sebuah program tidak menjadi hijau hanya karena menggunakan nama yang menarik atau memasang gambar pepohonan pada laporan tahunannya.

Hijau harus terlihat dalam tindakan, terbaca dalam data, dan terasa manfaatnya bagi kehidupan.

Jangan Wariskan Luka

Suatu hari, anak-anak kita akan membaca kisah tentang pembangunan pada masa ini.

Mereka akan melihat gedung yang kita bangun, jalan yang kita bentangkan, teknologi yang kita ciptakan, dan kekayaan yang berhasil kita kumpulkan. Namun, mereka juga akan hidup bersama kondisi tanah, air, udara, dan iklim yang diwariskan oleh keputusan kita.

Bayangkan seorang anak berdiri di tepi sungai yang dahulu menjadi tempat bermain kakek-neneknya. Ia bertanya mengapa airnya keruh dan ikan-ikannya menghilang.

Betapa menyedihkan jika jawaban yang tersisa hanyalah bahwa generasi sebelumnya terlalu sibuk mengejar pertumbuhan hingga lupa menjaga sumber kehidupan.

Ekonomi hijau menawarkan kesempatan untuk menulis kisah yang berbeda. Kisah tentang pertanian yang menjaga tanah, industri yang bertanggung jawab, energi yang lebih bersih, kota yang lebih nyaman, dan kesejahteraan yang tidak dibangun di atas penderitaan lingkungan.

Kita tidak harus memilih antara ekonomi yang maju dan alam yang lestari. Tantangannya adalah merancang pembangunan agar keduanya saling menguatkan.

Sebab kekayaan terbesar sebuah bangsa bukan hanya yang tersimpan di bank, terkubur di dalam tanah, atau tercatat dalam angka pertumbuhan. Kekayaan itu juga berada pada sungai yang tetap mengalir jernih, tanah yang terus menghasilkan pangan, dan udara yang aman dihirup anak-anaknya.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang berhasil membangun segalanya, kecuali masa depan.

Jakarta, 5 November 2026

—

TENTANG PENULIS

Nurul Jannah adalah dosen Sekolah Vokasi IPB University, pemerhati lingkungan, penulis, dan auditor lingkungan hidup. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral di Hiroshima University, Jepang.

Bidang keahliannya meliputi audit lingkungan, Life Cycle Assessment (LCA), PROPER, Corporate Social Responsibility (CSR), serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Melalui karya ilmiah, buku, dan tulisan populer, ia berupaya menghadirkan isu lingkungan dengan bahasa yang ringan, menyentuh, dan mudah dipahami. Baginya, menjaga bumi merupakan wujud cinta dan kepedulian terhadap kehidupan serta generasi mendatang.