Duta Berita Nusantara | Palembang
Oleh: Shintalya Azis
Setiap manusia memiliki keinginan. Ingin hidup berkecukupan. Ingin memiliki rumah yang nyaman. Ingin berharta yang banyak. Ingin dihormati. Ingin kaya dan lain sebagainya.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Keinginan untuk meraih yang diinginkan, yang diimpikan, merupakan fitrah manusia yang mendorongnya untuk terus berusaha mewujudkan.
Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada impian yang tertunda, bahkan ada yang tidak pernah terwujud. Dan yang lebih berat bukanlah ketika keinginan tidak tercapai, melainkan ketika kebutuhan dasar pun sulit dipenuhi.
Ketika uang belanja tidak cukup, ketika anak membutuhkan biaya sekolah, orang tua membutuhkan obat, sementara penghasilan tak mampu menutup semuanya. Dalam keadaan seperti itu, rasa kecewa berubah menjadi putus asa. Sebagian orang mulai menyalahkan nasib, keadaan, bahkan Tuhan.
Lalu muncul kesempatan untuk melakukan korupsi yang tampaknya dapat mengatasi semua permasalahan. Tentu saja ini salah besar. Apapun dalihnya, jawabannya tetap tidak. Sangat disayangkan bila ini dianggap sebagai solusi. Korupsi tetaplah korupsi, bukan solusi.
Orang yang menolak korupsi bukan berarti tidak memahami penderitaan. Justru karena mengerti bahwa dibalik korupsi ada perjalanan panjang memindahkan penderitaan dari satu orang kepada banyak orang. Korupsi mungkin mampu mengatasi masalah seseorang untuk sementara waktu, tetapi pada saat yang sama menciptakan masalah yang jauh lebih besar bagi orang lain.
Uang yang dikorupsi bukanlah uang yang tidak bertuan. Di balik setiap rupiah yang dicuri, ada hak masyarakat yang hilang. Ada jalan yang tak selesai dibangun, ada sekolah yang kekurangan fasilitas, ada pelayanan kesehatan yang memburuk, bahkan ada masa depan anak-anak yang ikut dirampas.
Oleh karenanya, daripada melakukan korupsi sebagai solusi, lebih baik menerima kenyataan dan tidak menyerah mencari jalan keluar yang masih berada dalam koridor yang benar. Fokus pada apa yang masih bisa diusahakan, bukan meratapi apa yang belum dimiliki.
Jangan sampai kekecewaan berubah menjadi pembenaran atas tindakan yang salah. Ketika keinginan belum tercapai, belajarlah membedakan antara kebutuhan dan keinginan gaya hidup. Tingkatkan keterampilan, dan jangan malu mencari pekerjaan tambahan yang halal. Jadilah petarung kehidupan yang tangguh berintegritas.
Orang yang tangguh bukanlah orang yang tidak pernah kecewa, melainkan orang yang mampu mengubah kekecewaan menjadi energi untuk terus berjuang tanpa kehilangan nilai-nilai moralnya.
Keberhasilannya tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dikumpulkannya, melainkan dari jalan mana harta tersebut diperoleh.
Apakah melalui jalan haram yang mungkin terlihat menyelesaikan masalah hari ini, tetapi tidak menghadirkan ketenangan. Atau sebaliknya, dari jalan yang halal, meskipun sedikit, namun membawa keberkahan yang sering kali tidak dapat diukur hanya dengan angka.
Yang lebih penting, rawat integritas setiap hari. Integritas bukan hanya milik mereka yang hidup berkecukupan. Justru nilainya paling tinggi ketika dipertahankan dalam kondisi serba kekurangan dan sedang dalam kesulitan. Kesulitan sering kali menjadi ujian tentang seberapa kuat seseorang mempertahankan kejujuran.
Manusia yang benar-benar kaya bukanlah mereka yang memiliki segalanya, tetapi mereka yang tetap mampu berkata, “Tidak,” kepada korupsi, sekalipun hidup sedang dalam kekurangan.
Tentang Penulis
Shintalya Azis adalah seorang profesional yang berkarier di perusahaan asing. Lahir dan besar di Palembang, ia memiliki ketertarikan yang kuat pada dunia literasi dan gemar menuangkan gagasan melalui tulisan.
Karya-karyanya banyak mengangkat tema kehidupan, budaya, nilai-nilai kemanusiaan, serta kisah-kisah sederhana yang sarat makna dan inspirasi. Melalui tulisan, ia berharap dapat mengajak pembaca untuk merenungkan berbagai persoalan kehidupan, menumbuhkan optimisme, serta memperkuat nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari.













