Duta Berita Nusantara | Palembang
Episode 4
“Ruang Arsip yang Bernafas”
Oleh : Ki Bagus A.H
Langkah kaki dari lantai dua semakin jelas.
Tok… tok… tok…
Mang Lem menggenggam senter lebih erat.
“Bi… dia makin dekat…”
Mang Abi tetap diam. Matanya tidak lepas dari tangga tua yang gelap itu.
Lampu di atas berkedip pelan.
Nyala… redup… nyala lagi.
Bayangan seseorang mulai terlihat di ujung tangga.
Namun anehnya…
setiap kali disorot senter
bayangan itu seakan menipis… lalu hilang.
Mang Lem berbisik gemetar.
“Bi… ini bukan orang biasa…”
Mang Abi menjawab pelan.
“Memang dari awal… tempat ini tidak pernah ‘biasa’.”
Tiba-tiba…
Langkah itu berhenti.
Sunyi.
Lalu terdengar suara berat dari atas.
“Masih juga ada yang naik…”
Mang Lem langsung menelan ludah.
“Bi… dia tahu kita…”
Mang Abi melangkah pelan ke anak tangga pertama.
Kreeeettt…
Tangga tua itu berbunyi panjang.
“Kalau memang tidak ingin diketahui…”
kata Mang Abi pelan,
“kenapa lampunya selalu menyala?”
Hening.
Lalu suara itu menjawab lirih.
“Karena yang di dalam… tidak pernah benar-benar padam.”
Angin dingin turun dari atas.
Membawa bau kertas lama… dan sesuatu yang lembab.
Perlahan…
Mang Abi mulai naik.
Mang Lem terpaksa mengikuti dari belakang.
Setiap langkah terasa berat.
Seolah tangga itu…
tidak ingin mereka sampai ke atas.
Saat mereka sampai di tengah—
Lampu tiba-tiba padam total.
Gelap.
Hanya senter Mang Lem yang menyala.
Dan di ujung tangga…
muncul cahaya kecil.
Lampu minyak.
Cahaya itu bergerak perlahan.
Seolah ada yang membawanya.
Namun sosoknya tidak terlihat jelas.
Mang Lem berbisik cepat.
“Bi… itu lagi…”
Mang Abi menatap tajam.
“Yang kemarin…”
Mereka sampai di lantai dua.
Lorong panjang terbentang.
Dindingnya penuh rak tua.
Berisi map-map yang sudah menguning.
Sebagian jatuh ke lantai.
Sebagian terbuka.
Dan anehnya…
beberapa lembar kertas seperti bergerak sendiri.
Sreeeek…
Seolah ada yang membaliknya.
Mang Lem mundur sedikit.
“Bi… itu kertas gerak sendiri…”
Mang Abi tidak menjawab.
Matanya tertuju pada satu pintu di ujung lorong.
Di atasnya tertulis samar:
“RUANG ARSIP UTAMA”
Pintu itu sedikit terbuka.
Dari dalamnya keluar cahaya lampu minyak tadi.
Dan suara…
bisikan-bisikan pelan.
Seperti banyak orang berbicara bersamaan.
Namun tidak jelas.
Mang Lem hampir berbisik panik.
“Bi… di dalam itu ada siapa banyak banget…”
Mang Abi menjawab pelan.
“Atau…”
“…cuma satu… tapi suaranya tidak sendiri.”
Tiba-tiba…
Brak!
Salah satu rak jatuh sendiri.
Map-map berserakan ke lantai.
Beberapa terbuka.
Dan dari dalamnya…
terlihat lembaran-lembaran dengan tulisan tangan.
Nama-nama.
Tanggal-tanggal.
Catatan-catatan yang tidak lengkap.
Mang Lem tanpa sadar menyorotkan senter ke salah satu lembar.
Lalu ia terdiam.
“Bi…”
“Iya?”
“Ini tulisan baru…”
Mang Abi langsung menoleh.
“Baru?”
Mang Lem mengangguk pelan.
“Tinta nya belum kering…”
Hening.
Padahal bangunan itu sudah lama kosong.
Tiba-tiba…
dari dalam ruang arsip—
suara itu kembali terdengar.
Lebih dekat.
Lebih pelan.
Seolah tepat di depan pintu.
“Kalau kalian masuk…”
“…jangan kaget kalau menemukan nama sendiri.”
Mang Lem langsung mundur.
“Bi… kita balik aja Bi…”
Namun Mang Abi justru melangkah maju.
Tangannya perlahan menyentuh pintu tua itu.
Pintu berderit pelan.
Kriiieeettt…
Cahaya dari dalam menyinari wajah Mang Abi.
Mang Lem menahan napas.
Dan saat pintu itu terbuka sedikit lebih lebar—
terlihat…
tumpukan arsip yang sangat banyak.
Tak berujung.
Seperti lorong panjang tanpa akhir.
Dan di tengah ruangan…
ada meja tua.
Dengan satu kursi.
Yang…
bergerak pelan sendiri.
Seolah baru saja diduduki.
Mang Lem berbisik hampir tak bersuara.
“Bi…”
“Iya…”
“Itu kursi…”
Mang Abi menatap lurus ke dalam.
“…masih hangat.”
Lampu minyak tiba-tiba padam.
Gelap total.
Dan dari dalam ruang arsip—
terdengar satu kalimat terakhir.
“Sudah lama… kami menunggu yang berikutnya.”
Senter Mang Lem berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu…
mati.
Bersambung…
Masih berani masuk lebih dalam ke bangunan tua Kampung Minikow?
Atau… cukup sampai di pintu saja?
Ikuti kelanjutan kisahnya hanya di dutaberitanusantara.com
Karena tidak semua yang tercatat… ingin ditemukan.
Catatan Penulis
Cerita ini merupakan karya fiksi dan satire sosial. Apabila terdapat kemiripan nama, tempat, tokoh, maupun peristiwa, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk merujuk pada pihak mana pun.














