BeritaCerita BersambungCERPENKontrol SosialNasionalPalembangSerba SerbiSerial cerita viral DBN

“Gandik Yang Dipermainkan”

187
×

“Gandik Yang Dipermainkan”

Sebarkan artikel ini

“Gandik yang Dipermainkan”

(Cerita Mang Abi & Mang Lem )

Oleh : Ki Bagus A.H (Jurnalis/Pegiat Sosial dan Budaya)

Malam di Kota Minikow terasa seperti biasa,angin sepoi-sepoi menambah suasana agak dingin dan agak panas.

Lampu jalan menyala satu per satu, kendaraan lalu-lalang tanpa henti, dan suara kota tetap hidup seolah tidak ada yang terjadi.

Tapi di sudut warung kopi kecil, suasana berbeda.

Mang Abi duduk diam. Tidak seperti biasanya.

Di depannya, kopi hitam sudah dingin.

Mang Lem datang, langkahnya pelan. Wajahnya serius.

“Bi… kau tau kan?” katanya tanpa basa-basi.

Mang Abi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke jalan.

“Tau…” dengan muka kesal.

“Sekarang uwong-uwong jugo tau.”

Mang Lem duduk. Menghela napas panjang.

“Ini bukan lagi soal lucu, Bi…”

Mang Abi mengangguk pelan.

“Memang dari awal ini dak pernah lucu, Lem.”

Hening.

Beberapa detik terasa panjang.

“Gandik itu…” Mang Lem mulai bicara lagi,

“…dipake ke Lanang(laki-laki). Tebalik pulok.”

Mang Abi tersenyum tipis. Bukan senyum senang.

“Bukan cuma salah pake ” katanya pelan,

“…ini sudah salah paham.”

Mang Lem menatap ke bawah.

“Tapi yang bikin aku heran…” katanya,

“yang buat acara ini siapo nian sebenarnyo?”

“Panitia nyo?” potong Mang Abi.

Mang Lem mengangguk.

” Ho…ohhhhh” suara yang nyaris tak terdengar.

Mang Abi bersandar, menarik napas panjang.

“Kato uwong-uwong itu…”

“…dari Kepala Penghulu Corong Langgar.”

Mang Lem tertawa kecil. Tapi pahit.

“Penghulu… tapi dak paham yang dipimpinnyo.”

Mang Abi langsung menoleh.

“Bukan dak paham, Lem…”

Suaranya mulai berubah.

“…tapi mungkin dak peduli.”

Sunyi.

Angin malam mulai terasa dingin.

“Duitnyo dari mano?” lanjut Mang Abi.

“Acara sebesak itu… pasti ado anggarannyo.”

Mang Lem diam.

“Tapi hasilnyo?” sambung Mang Abi.

“Budaya jadi bahan mainan.”

Mang Lem menunduk.

“Ini yang bahayo…” kata Mang Abi.

Mang Lem nengok.

“Kenapo?”

Mang Abi menatap tajam.

“Karena ini bukan lagi soal salah pake…”

Ia berhenti sejenak.

“…ini soal mental.”

Mang Lem terdiam.

“Alih-alih nak bikin event…” lanjut Mang Abi,

“…katonyo biar viral,asak viral konten nyo,…Dem Laaaaaa”

Mang Lem pelan menyambung,

“…malah kebablasan.”

Mang Abi mengangguk.

“Kebablasan sampe dak tau lagi mana yang patut… mana yang idak.”

Suasana semakin berat.

“Aset budaya Palembang Darussalam itu bukan properti panggung…” kata Mang Abi tegas.

“Itu marwah.”

Mang Lem menelan ludah.

“Jadi menurut awak ini apo, Bi…?”

Mang Abi tidak ragu.

“Kalau simbol kehormatan perempuan dipakai sembarangan…”

“…dibalik lagi…”

Ia menatap lurus ke depan.

“…itu bukan lagi kelalaian.”

Mang Lem menahan napas.

Mang Abi melanjutkan—

“…itu penghinaan.” dengan gaya berdiri diatas Bangku kebesaran nya.

Sunyi.

Suara motor odong-odong lewat pulok, Orang-orang tetap sibuk.

Tapi di meja kecil itu, suasana terasa jauh lebih berat dari hiruk-pikuk kota.

“Yang lebih parah…” kata Mang Abi lagi,

“…ini terjadi di depan Wakil Wali Langit beserta pejabat dan staf  Kota Minikow.”

Mang Lem menggeleng pelan.

“Tapi dak ado yang besuaro…”

Mang Abi tersenyum tipis.

“Itulah masalahnyo.”

Hening panjang.

Mang Lem akhirnya bicara lagi.

“Kalu dibiarke, Bi…?”

Mang Abi duduk ngepor perlahan.

“Kalau hari ini budaya dijadikan bahan konten…”

“…besok identitas jadi bahan lelucon.”

Mang Lem diam.

Mang Abi melangkah pergi. Pelan.

Lalu berhenti.

“Lem…”

“Iyo?”

Mang Abi menoleh sedikit. Suaranya kini lebih pelan.

“Besok kito tunggu penjelasan dari Kepala Penghulu Corong Langgar samo Kepala Adat Zaman Bingen…”

Mang Lem mengangguk pelan.

Mang Abi melanjutkan

“…caknyo mereka yang paling tau asal usul event ini.”

Hening.

Angin malam tiba-tiba berhembus lebih kencang.

Mang Lem menatap jalan yang mulai sepi.

“Kalu… dak ado penjelasan, Bi?”

Mang Abi tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap jauh ke ujung jalan yang gelap.

Beberapa detik… terasa lama.

Lalu pelan ia berkata

“Bearti… bukan cuma gandik yang terbalik, Lem…”

Mang Lem menoleh cepat.

“Maksud kau?”

Mang Abi tidak menjawab.

Ia melangkah pergi.

Langkahnya perlahan… lalu menghilang di gelap malam.

Dan sebelum benar-benar sunyi

terdengar satu kalimat terakhir…

“…kge awak tau ceritonyo jugo.”

Sunyi.

Lampu jalan tetap menyala.

Kota tetap berjalan seperti biasa.

Tapi malam itu…

seolah ada sesuatu yang mulai terbuka

dan sesuatu yang lain… justru disembunyikan.

Tamat… atau baru dimulai?

Catatan Penulis

Cerita ini merupakan karya fiksi yang dikemas dalam bentuk satire sosial. Segala nama, tokoh, tempat, dan peristiwa yang disebutkan merupakan hasil imajinasi penulis.

Apabila terdapat kemiripan dengan kejadian nyata, hal tersebut semata-mata merupakan refleksi dari dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.

Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga, memahami, dan menghormati nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas yang tidak ternilai harganya.(Bersambung…)