Duta Berita Nusantara | Palembang
# HARI 3
HAK YANG BUKAN MILIK KITA
Oleh: Ki Bagus Arfan
Malam itu Ebin mendengar kabar yang membuatnya bersemangat.
Katanya akan ada tambahan kuota bantuan sosial untuk masyarakat.
Kabar itu cepat menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya.
Di warung kopi, di teras rumah, bahkan di grup percakapan warga.
Ebin mulai berpikir.
“Apa saya bisa ikut mendaftar?”
Padahal ia sadar, kehidupannya tidak seberat sebagian warga lain.
Ia masih bekerja di sebuah perusahaan.
Memiliki rumah yang layak untuk ditempati.
Sepeda motor untuk berangkat kerja.
Istrinya juga memiliki kendaraan sendiri untuk beraktivitas.
Kebutuhan pokok keluarganya masih dapat terpenuhi dari hasil kerja yang ada.
Namun sebuah kalimat terus berputar di kepalanya.
“Kalau ada kesempatan, kenapa tidak dicoba?”
Keesokan harinya, Ebin menemui Pak RT Yono.
Dengan santai ia meminta agar namanya dimasukkan sebagai penerima bantuan.
Pak RT Yono mendengarkan dengan tenang.
Lalu bertanya,
“Ebin, menurut kamu bantuan itu untuk siapa?”
Ebin terdiam sejenak.
“Ya… untuk warga yang membutuhkan, Pak.”
Pak RT mengangguk pelan.
“Kalau begitu, coba lihat lagi keadaan kita dan keadaan tetangga-tetangga kita.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa berat.
Pak RT tidak marah.
Tidak menuduh.
Tidak mempermalukan.
Beliau hanya mengajak Ebin melihat kenyataan.
Di ujung gang masih ada keluarga yang kadang bingung membeli beras untuk esok hari.
Masih ada orang tua yang harus memilih antara membeli obat atau memenuhi kebutuhan dapur.
Masih ada warga yang benar-benar berharap bantuan itu datang.
Pak RT kemudian berkata,
“Ebin, kita memang sama-sama merasakan beratnya hidup. Tapi selama kita masih bisa bekerja, masih memiliki penghasilan, dan masih mampu memenuhi kebutuhan keluarga, saya rasa masih ada orang lain yang lebih membutuhkan bantuan itu.”
Ebin terdiam.
Untuk pertama kalinya ia melihat persoalan itu dari sudut pandang yang berbeda.
Malam itu ia banyak berpikir.
Ia mulai menyadari bahwa persoalannya bukan tentang ada atau tidaknya kesempatan.
Tetapi tentang apakah bantuan itu memang menjadi haknya.
Keesokan harinya Ebin kembali menemui Pak RT.
Dengan senyum kecil ia berkata,
“Pak, nama saya tidak usah dimasukkan.”
Pak RT tersenyum.
“Yakin, Bin?”
Ebin mengangguk.
“Iya, Pak. Berikan saja kepada yang lebih membutuhkan.”
Saat pulang ke rumah, langkah Ebin terasa lebih ringan.
Ia tidak membawa bantuan apa pun.
Tetapi ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Yaitu ketenangan karena telah memilih yang benar.
Hari itu Ebin belajar satu hal.
” Tidak semua yang bisa kita ambil adalah hak kita “
Dan integritas sering kali diuji bukan ketika kita kekurangan.
Tetapi ketika kita memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita.
Pesan Integritas Hari Ini
“Hak orang lain tidak akan pernah menjadi berkah bagi kita.”
Jurnalis Hebat Berintegritas
33 Hari Menanam Integritas
Seumur Hidup Menjaga Amanah
Kesempatan tidak selalu harus diambil.
Kadang, keputusan terbaik adalah memberikan ruang bagi mereka yang lebih membutuhkan.
Karena integritas bukan hanya tentang mematuhi aturan.
Integritas adalah kemampuan membedakan antara apa yang bisa kita ambil dan apa yang memang menjadi hak kita.
#33dayintegritychallenge
#AksiKita
#LawanKorupsi
#BiasakanYangBenar
#JurnalisHebatBerintegritas














