Scroll untuk baca artikel
Berita

HARGA SEBUAH PAGI

4
×

HARGA SEBUAH PAGI

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Bogor

HARGA SEBUAH PAGI

Oleh: Nurul Jannah

Yang Kita Anggap Biasa, Sedang Diperjuangkan Orang Lain

Pukul 04.47.

Alarm berbunyi. Niken meraba ponsel di sisi bantal, mematikannya, lalu menarik selimut hingga ke dada.

“Ya Allah… sudah pagi lagi.”

Ia lelah. Bahkan sebelum kakinya menyentuh lantai, Niken sudah merasa kalah oleh hari yang belum dimulai. Dalam kepalanya, rutinitas berbaris seperti antrean panjang yang tak pernah selesai.

_Bangun._

_Mandi._

_Menyiapkan sarapan._

Berangkat.

Macet.

Bekerja.

Pulang.

Tidur.

Besok, mengulang semuanya lagi.

Dari balik jendela, langit perlahan berubah warna. Semburat jingga menyentuh ujung atap. Burung-burung mulai bersuara. Udara pagi menyelinap melalui celah jendela.

Niken tidak melihatnya.Baginya, pagi bukan lagi keajaiban. Hanya penanda bahwa seluruh kewajiban harus dimulai kembali.

*******

Pada jam yang hampir sama, beberapa kilometer dari rumah Niken, Bagaskara duduk sendiri di kursi plastik di depan ruang ICU.

Ia tidak tidur semalaman. Di balik pintu itu, perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang sedang berjuang mempertahankan napas.

Sejak pukul dua dini hari, Bagaskara mondar-mandir dari kursi menuju pintu ICU, lalu kembali lagi.

Dokter tadi hanya berkata,

“Kita lihat perkembangannya sampai pagi.”

Kalimat itu singkat. Namun sejak mendengarnya, Bagaskara berkali-kali menatap jam.

04.12.

04.31.

04.47.

05.03.

Ia menunggu pagi bukan untuk bekerja atau mengejar rapat. Ia hanya menginginkan satu hal: ketika matahari terbit, perempuan yang dicintainya masih bernapas.

Sesekali Bagaskara berdiri di depan pintu ICU. Tangannya terkatup. Bibirnya terus berdoa.

“Ya Allah… jangan pagi ini.”

Air matanya jatuh.

“Aku masih ingin pulang bersamanya.”

Pagi itu Bagaskara memahami, bagi sebagian orang, pagi bukan rutinitas. Pagi adalah kesempatan membuka mata dan mendapati orang yang dicintai masih ada.

*******

Di rumah lain, Bu Bejo duduk di sisi tempat tidur anaknya.Termometer masih menunjukkan demam tinggi. Semalaman ia mengompres dahi kecil itu.

Matanya merah. Punggungnya pegal. Namun ia tidak berani tidur. Setiap beberapa menit, tangannya menyentuh dada anaknya.

Naik.

Turun.

Naik.

Turun.

Gerakan kecil itu menjadi pemandangan paling menenangkan sekaligus paling menakutkan bagi Bu Bejo. Selama dada kecil itu masih bergerak, harapan masih ada.

Pagi itu, Bu Bejo tidak meminta banyak kepada Allah. Ketika nyawa orang yang dicintai sedang diperjuangkan, banyak hal yang sebelumnya terasa penting, mendadak kehilangan harganya.

Menjelang subuh, ia menggenggam tangan anaknya erat-erat. Dikecupnya jari-jari kecil itu satu per satu. Air matanya jatuh. Dengan bibir bergetar, ia berdoa,

“Ya Allah… pagi ini aku tidak meminta apa-apa. Izinkan saja anakku membuka matanya.”

Hanya itu.

Satu pagi lagi. Satu kali lagi melihat mata itu terbuka. Satu kesempatan lagi mendengar suara kecil memanggil, “Ibu….”

Pagi itu Bu Bejo betul-betul menyadari bahwa seluruh kekayaan dunia tak berarti apa-apa dibanding satu napas dari orang yang ia cintai.

*******

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana, Pak Bakri membuka tirai.

Cahaya pertama masuk perlahan dan jatuh lembut di lantai. Pak Bakri berdiri cukup lama di depan jendela, membiarkan hangat matahari menyentuh wajahnya.

Kemarin, dokter mengatakan penyakitnya semakin sulit dikendalikan. Tak seorang pun mampu mengatakan berapa banyak matahari terbit yang masih tersisa baginya.

Namun pagi itu, Pak Bakri tersenyum. Karena, hari baru masih datang, dan ia masih ada untuk menyambutnya.

Ia membuka jendela, menghirup udara dalam-dalam, lalu menyeduh teh dan duduk di kursi tua dekat jendela.

Hanya secangkir teh hangat, udara segar, suara burung, dan cahaya yang perlahan memenuhi ruangan.

Hal-hal sederhana yang selama puluhan tahun nyaris tak pernah ia pikirkan. Namun ketika waktu mungkin tak lagi panjang, yang sederhana justru terasa paling berharga.

Pak Bakri menggenggam cangkir dengan kedua tangannya. Uap tipis menyentuh wajahnya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu berbisik,

“Alhamdulillah… masih diberi pagi.”

Saat itulah ia memahami, kemewahan hidup tidak selalu tentang apa yang mampu dimiliki. Kadang, secangkir teh, satu tarikan napas, dan kesempatan menyaksikan matahari terbit jauh lebih mahal daripada apa pun.

******

Begitulah hidup.

Pada waktu yang hampir sama, empat orang menyambut pagi dengan harga yang berbeda.

Niken mengeluhkan datangnya hari. Bagaskara takut kehilangan. Bu Bejo menunggu sepasang mata kecil kembali terbuka. Pak Bakri mensyukuri cahaya yang masih sempat ia saksikan.

Satu pagi. Satu matahari. Satu langit. Namun bagi setiap hati, harganya tak pernah sama.

Apa yang kita keluhkan karena datang setiap hari, barangkali sedang diperjuangkan orang lain agar datang sekali lagi.

Kita kesal ketika alarm berbunyi. Di depan ICU, Bagaskara berharap istrinya masih sempat mendengarnya esok pagi.

Kita malas bangun dari tempat tidur. Di ruang rehabilitasi, ada orang yang berbulan-bulan berjuang hanya untuk kembali berdiri

Kita mengeluh harus bekerja. Di rumah lain, seorang ayah merapikan map lamaran, berharap hari itu satu pintu rezeki terbuka.

Kita jengkel mendengar anak-anak ribut. Di rumah yang sunyi, ada pasangan yang bertahun-tahun merindukan suara kecil memanggil, “Ayah… Ibu….”

Kita merasa terganggu ketika orang tua berkali-kali menelepon. Di kamar lain, ada anak yang masih menyimpan nomor ibunya, meski tahu nomor itu tak akan pernah lagi menghubunginya.

Yang kita anggap gangguan, boleh jadi adalah kerinduan yang mati-matian ingin dimiliki kembali oleh orang lain.

*******

Pukul 05.52.

Alarm Niken berbunyi lagi. Kali ini ia bangun.

Ia berjalan menuju jendela dan membuka tirai. Cahaya pagi menerobos masuk.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Niken benar-benar memandang pagi. Langit mulai benderang. Daun-daun bergerak pelan disentuh angin.

Entah mengapa, hatinya terasa berbeda. Tiba-tiba ia merasa bersyukur. Masih diberi satu hari lagi adalah sebuah anugerah besar.

Ia tidak tahu Bagaskara sedang menunggu penuh harap di depan ICU. Ia tidak mengenal Bu Bejo yang semalaman menjaga anaknya. Ia pun tak pernah bertemu Pak Bakri yang tidak tahu berapa banyak matahari terbit masih tersisa baginya.

Namun tanpa saling mengenal, pagi mengajarkan mereka hal yang sama: apa yang terasa biasa bagi kita, mungkin sedang diperjuangkan orang lain dengan seluruh doa yang dimilikinya.

Maka jika pagi ini kita membuka mata, jangan buru-buru menyebutnya biasa.

Lihatlah siapa yang masih ada di dekat kita. Mungkin ada pesan yang perlu dibalas, maaf yang harus disampaikan, atau pelukan yang masih sempat diberikan.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sebuah keberadaan.

Sebab suatu hari nanti, akan datang satu pagi yang tak pernah kita lihat.

Alarm tetap berbunyi. Matahari tetap terbit. Jalanan tetap ramai. Orang-orang tetap bekerja.

Dunia tetap berjalan: hanya kita yang tidak lagi bangun bersamanya.

Jangan terlalu sibuk mengejar hidup yang kita inginkan hingga lupa mensyukuri hidup yang masih kita miliki.

Maka pagi ini, jangan hanya bertanya,

“Apa yang harus aku kerjakan hari ini?”

Tanyakan pula,

“Untuk apa Allah masih memberiku hari ini?”

Sebab pagi yang kita sambut dengan keluhan, boleh jadi adalah pagi yang semalam dimohon orang lain dengan air mata.

Tariklah napas. Pandang langit. Tatap orang-orang yang masih kita cintai. Lalu bisikkan perlahan,

“Alhamdulillah… masih diberi pagi.”

Sebab pada akhirnya, harga sebuah pagi bukanlah matahari yang kembali terbit, melainkan anugerah tak ternilai: kita masih ada untuk menyaksikannya.

Bogor, 14 September 2026