Scroll untuk baca artikel
Berita

Kalatidha dalam Jagorama: Merawat Akal Sehat di Tengah Zaman Edan

3
×

Kalatidha dalam Jagorama: Merawat Akal Sehat di Tengah Zaman Edan

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Kota Batu

Kalatidha dalam Jagorama: Merawat Akal Sehat di Tengah Zaman Edan

Oleh: Aethera Aditi

Di luar, angin malam Kota Batu menusuk tulang. Namun, di dalam Gedung Juang DHC 45, Rabu malam (28/10), ada jenis kegilaan lain yang sedang diperiksa dengan mata telanjang. Peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda tidak dirayakan dengan seremoni kaku, baris-berbaris yang menguras stamina, atau orasi berapi-api yang mendadak hilang ditelan malam. Forum Jagorama (Jagongan Rabu Malam) Session 6 memilih jalan yang lebih menohok: mengajak orang-orang duduk bersila, menatap cermin zamannya sendiri lewat mahakarya pujangga Jawa, R. Ng. Ranggawarsita, Serat Kalatidha.

Latar belakangnya sederhana, namun mengusik nalar: Menyibak Serat Kalatidha, Merawat Eling lan Waspada. Di ruangan itu, para pinisepuh, budayawan, hingga aktivis muda melebur dalam lingkaran yang tak berjarak. Sebuah forum gayeng yang sekaligus menjadi tempat mengadili realitas.

Malam dibuka dengan alunan merdu metrum Sinom dari Serat Kalatidha yang dibawakan Sanggar Budaya Darma Pertiwi. Syair itu mengalun tajam, merambat di dinding-dinding Gedung Juang, menyeret siapa saja yang hadir untuk menyadari satu kenyataan yang absurd: bahwasanya apa yang ditulis Ranggawarsita berabad-abad lalu nyatanya sedang berdenyut di depan mata kita hari ini.

Lalu, tubuh dan gerak mengambil alih panggung. Sosok pinisepuh Pagar Nusa, Mbah Agus, melangkah ke tengah gelanggang. Lewat peragaan jurus pencak silat yang mantap, beliau menegaskan bahwa di tengah dunia yang makin limbung, benteng terkuat manusia adalah keluhuran budi. Atmosfer ruangan kian bergemuruh tatkala Paguyuban Bantengan Sumberjoan menghentakkan kaki. Seni tradisi yang dikenal sebagai simbol pendobrak kebatilan itu menggebrak ruangan, menyimbolkan keberanian rakyat dalam menerjang belenggu kegelapan zaman.

Guncangan itu kemudian diteruskan oleh denyut kreativitas anak muda. Panca Rahmat Pamungkas tampil membawakan musikalisasi puisi dari karya Alfi Saifullah dengan lugas. Bait demi bait disuarakan tanpa ragu, menegaskan jeritan nurani generasi muda yang terhimpit di tengah bisingnya zaman yang kian pragmatis.

Sebagai pembedah utama, budayawan Kota Batu, Drs. Didik Sumintarjo, mengupas tuntas bait-bait legendaris Ranggawarsita tentang Zaman Edan tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya, ajaran utama Ranggawarsita tidak pernah kedaluwarsa.

“Zaman boleh berganti, namun godaan zaman selalu sama. Kunci agar tidak hanyut dalam arus kebobrokan adalah eling lan waspada: ingat kepada Sang Pencipta dan senantiasa waspada menjaga mawas diri,” tegas Didik di hadapan peserta jagongan.

Menghubungkan Serat Kalatidha dengan Sumpah Pemuda, Didik melempar pesan kuat kepada generasi muda: pemberontakan terbaik di zaman yang serba pragmatis dan koruptif saat ini bukanlah dengan ikut-ikutan arus, melainkan dengan berani tampil jujur, merawat nurani, serta mempertahankan integritas.

Semangat itulah yang kemudian digarisbawahi oleh Alfi Saifullah. Di tengah ruang yang dipenuhi asap rokok dan kepala-kepala yang menunduk berpikir, Alfi melihat bangsa hari ini tengah mengidap penyakit akut: krisis keteladanan yang merontokkan sendi-sendi bernegara, dibarengi praktik korupsi yang kian merajalela.

Bagi Alfi, Sumpah Pemuda 1928 bukanlah monumen mati, melainkan produk dari kesadaran dan keteladanan. Ketika hari ini ruang publik justru menyuguhkan krisis kepemimpinan, merujuk kembali pada ajaran Ranggawarsita adalah jalan terang untuk meluruskan niat dan memegang teguh kejujuran.

Di sinilah letak urgensi dari apa yang dilakukan Forum Jagorama. Pertemuan malam itu membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar barang antik yang dipajang di museum, melainkan pisau bedah yang tajam untuk membaca borok zaman. Ketika ruang-ruang publik modern sering kali mereduksi manusia menjadi sekadar angka dan komoditas, jagongan melawannya dengan cara yang paling purba dan manusiawi: perjumpaan antarkepala, pertukaran gagasan yang jujur, dan kerendahan hati untuk terus belajar merawat akal sehat.

Sebab, merawat kewarasan di tengah zaman yang kehilangan kompas moral bukanlah perkara mudah. Ia menuntut keberanian untuk tidak ikut menjadi gila ketika orang-orang di sekitar merayakan kepalsuan. Forum Jagorama di Gedung Juang DHC 45 telah membuka jendela lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin menolak lupa.

Malam akhirnya larut di Kota Batu, memulangkan para pencari pengetahuan ke rumah masing-masing. Namun, gema diskusi malam itu tidak lantas padam begitu gerbang gedung ditutup. Ia tertinggal di udara, berputar dalam kepala setiap anak muda yang hadir, mengingatkan bahwa di tengah bisingnya Zaman Edan, pilihan untuk tetap eling lan waspada adalah bentuk perlawanan yang paling terhormat.

Editor: Redaksi Dbn