Duta Berita Nusantara | Jakarta
KE MANA IKAN PERGI?
Ketika Sungai Mengering dan Kehidupan Harus Tetap Diperjuangkan
Oleh: Nurul Jannah
Pernahkah kita bertanya, ke mana perginya ikan-ikan ketika musim kemarau tiba?
Ketika sungai mulai menyusut, dasar kolam terlihat, dan sawah berubah menjadi tanah retak, ikan-ikan yang dahulu berenang bebas perlahan menghilang dari pandangan. Apakah mereka berpindah? Bersembunyi? Atau mati dalam diam tanpa pernah kita sadari?
Pertanyaan sederhana ini menyimpan kisah luar biasa tentang perjuangan hidup, keajaiban alam, dan betapa pentingnya air bagi setiap kehidupan.
Sebab, bagi ikan, kemarau bukan hanya tentang kehilangan air. Kemarau adalah perjuangan untuk tetap hidup ketika tempat tinggalnya perlahan menghilang.
Mereka Mencari Air yang Tersisa
Ketika kemarau datang, tidak semua bagian sungai mengering secara bersamaan. Ada bagian yang lebih dalam, yang disebut lubuk, tempat air masih bertahan ketika bagian sungai lainnya mulai mengering. Ada pula aliran kecil yang tetap terhubung dengan sumber air.
Sebagian ikan bergerak menuju tempat-tempat tersebut selama masih ada jalur yang dapat dilalui.
Bayangkan sebuah sungai yang dahulu mengalir deras. Perlahan, airnya menyusut, bebatuan mulai terlihat, dan ikan-ikan terpaksa berkumpul di lubuk yang semakin sempit.
Mereka tidak sedang menikmati ketenangan. Mereka sedang mencari ruang terakhir untuk bertahan hidup.
Di tempat yang semakin padat itu, persediaan makanan berkurang, suhu air dapat meningkat, dan kadar oksigen di dalam air semakin terbatas. Kondisi ini membuat ikan lebih mudah terserang penyakit, menjadi mangsa hewan lain, bahkan mati.
Ada yang Bertahan di Dalam Lumpur
Alam memiliki cara yang menakjubkan untuk menjaga kehidupan.
Beberapa jenis ikan mampu bertahan ketika air tinggal sedikit, bahkan berlindung di dalam lumpur yang masih basah. Ikan gabus, misalnya, dapat mengambil oksigen langsung dari udara sehingga lebih mampu bertahan di perairan yang kekurangan oksigen dibandingkan banyak jenis ikan lainnya.
Di beberapa wilayah dunia, ikan paru-paru (lungfish) bahkan mampu bertahan selama musim kering dengan memperlambat aktivitas tubuhnya untuk menghemat energi. Keadaan ini dikenal sebagai dormansi.
Namun, tidak semua ikan memiliki kemampuan tersebut. Ikan yang membutuhkan air dengan kadar oksigen cukup akan kesulitan bertahan ketika habitatnya mengering.
Di balik lumpur yang tampak mati, terkadang masih tersimpan kehidupan yang berjuang menunggu datangnya hujan.
Ada yang Terjebak dan Tak Pernah Kembali
Inilah kenyataan yang sering luput dari perhatian kita.
Ketika aliran sungai terputus dan hanya menyisakan genangan kecil, sebagian ikan kehilangan jalan menuju tempat yang lebih dalam. Air terus menguap, suhu meningkat, dan ruang untuk hidup semakin menyempit.
Akhirnya, sebagian ikan mati akibat kekeringan, kekurangan oksigen, suhu yang terlalu tinggi, atau berbagai tekanan yang datang secara bersamaan.
Ikan yang masih bertahan pun lebih mudah menjadi mangsa burung, reptil, dan hewan pemangsa lainnya.
Jadi, ketika sungai mengering dan ikan-ikannya menghilang, jangan mengira semuanya berhasil menyelamatkan diri. Sebagian telah kehilangan hidupnya tanpa pernah kita ketahui.
Ketika Hujan Datang, dari Mana Ikan Muncul?
Pernahkah kita melihat kolam atau sawah yang semula kering, lalu kembali dihuni ikan setelah hujan turun?
Fenomena ini sering membuat kita bertanya: apakah ikan-ikan itu datang bersama hujan?
Padahal, ada penjelasan menarik di baliknya.
Ketika hujan turun dan air kembali mengalir, ikan dapat masuk melalui saluran irigasi, sungai, parit, atau genangan yang kembali terhubung. Sebagian lainnya berasal dari ikan yang berhasil bertahan di lubuk atau tempat berair lainnya.
Pada jenis ikan tertentu, telur yang tahan terhadap kekeringan juga dapat bertahan di dalam tanah atau lumpur, kemudian menetas setelah air kembali tersedia. Namun, kemampuan istimewa ini hanya dimiliki oleh jenis ikan tertentu.
Air hujan tidak menciptakan ikan dari ketiadaan. Hujan membuka kembali jalan bagi kehidupan yang sempat terputus.
Betapa indah cara alam bekerja. Apa yang tampak hilang dapat kembali hadir ketika air mengalir dan lingkungan kembali mendukung kehidupan.
Kemarau Mengajarkan Kita Membaca Alam
Musim kemarau merupakan bagian alami dari pergantian musim. Namun, dampaknya bisa jauh lebih berat ketika sungai dan lingkungan sekitarnya telah rusak.
Penebangan pohon di daerah tangkapan air, kerusakan tepi sungai, pengambilan air secara berlebihan, pencemaran, serta perubahan penggunaan lahan dapat memperburuk kondisi sungai dan mengancam kehidupan ikan.
Sungai yang sehat memiliki beragam habitat, mulai dari bagian yang dalam, tumbuhan di sepanjang tepinya, hingga aliran yang terhubung dengan anak sungai dan daerah yang tergenang saat banjir.
Lubuk bukan hanya cekungan berisi air. Ketika kemarau tiba, lubuk dapat menjadi tempat perlindungan terakhir bagi ikan-ikan yang berjuang mempertahankan hidupnya.
Karena itu, menjaga sungai tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah di permukaannya. Kita juga perlu melindungi daerah resapan, menjaga pepohonan di sepanjang sungai, mengendalikan pencemaran, dan menggunakan air secara bijaksana agar kebutuhan kehidupan di dalam sungai tetap terpenuhi.
Ada pelajaran penting di sini: ketika kita mengambil terlalu banyak air dari alam, bukan hanya sungai yang kehilangan. Ikan dan kehidupan lain di dalamnya ikut menanggung akibatnya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menjaga kehidupan di sungai dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari.
Jangan membuang sampah, minyak, atau limbah ke sungai. Gunakan air dengan bijak, terutama ketika persediaannya terbatas. Mari menjaga mata air, daerah resapan, dan pepohonan di sepanjang aliran sungai.
Ketika kemarau panjang terjadi, masyarakat bersama pengelola lingkungan dapat memperhatikan kondisi lubuk, kebersihan air, serta ikan-ikan yang terjebak dalam genangan.
Jika perlu dilakukan penyelamatan, pemindahan ikan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan agar tidak menyebarkan penyakit atau memindahkan jenis ikan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem setempat.
Yang terpenting, jangan menunggu sungai benar-benar kering untuk menyadari betapa berharganya setiap tetes air.
Ketika Air Menghilang
Ternyata, pertanyaan sederhana tentang ke mana ikan pergi saat kemarau menyimpan cerita yang begitu dalam.
Sebagian mencari lubuk terdalam. Sebagian bertahan dalam lumpur. Sebagian menunggu aliran kembali tersambung. Dan sebagian lagi tidak pernah sempat menyambut hujan berikutnya.
Begitulah alam mengajarkan arti kehidupan. Tidak semua yang bertahan akhirnya selamat, dan tidak semua yang menghilang telah menemukan tempat yang lebih baik. Ada yang masih berjuang dalam diam, ada pula yang telah kehilangan kesempatan untuk hidup.
Kita sering merasa sedih melihat sungai yang mengering karena keindahannya perlahan menghilang. Padahal, di balik pemandangan itu, ada kehidupan yang sedang berjuang menghadapi batas kemampuannya.
Maka, ketika suatu hari kita berdiri di tepi sungai pada musim kemarau, jangan hanya bertanya mengapa airnya berkurang.
Tanyakan pula, masih adakah tempat bagi ikan-ikan itu untuk bertahan?
Sungai bukan hanya milik kita. Ia adalah rumah bagi begitu banyak kehidupan yang tidak mampu meminta pertolongan dengan kata-kata.
Kepedulian kita terhadap bumi tidak diukur dari indahnya kata-kata tentang alam, melainkan dari tindakan nyata yang membuat kehidupan di dalamnya tetap terjaga.
Sebab, ketika sungai kehilangan airnya, ikan kehilangan rumahnya. Dan ketika kita kehilangan kepedulian, alam kehilangan harapan untuk tetap terjaga.
Maka, jangan biarkan ikan-ikan menghilang hanya karena kita terlambat menjaga rumahnya.
Jakarta, 31 Oktober 2026
BIONARASI PENULIS
Nurul Jannah adalah dosen Sekolah Vokasi IPB University, pemerhati lingkungan, penulis, dan auditor lingkungan hidup. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Hiroshima University, Jepang.
Bidang keahliannya meliputi audit lingkungan, Life Cycle Assessment (LCA), Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER), Corporate Social Responsibility (CSR), serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Melalui tulisan dan pemikirannya, Nurul Jannah aktif menyuarakan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.












