Scroll untuk baca artikel
Berita

KETIKA AMANAH MATI DI DALAM DIRI

36
×

KETIKA AMANAH MATI DI DALAM DIRI

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

KETIKA AMANAH MATI DI DALAM DIRI

Korupsi dalam Cermin Islam: Sidik, Amanah, Fathanah, dan Tabligh

Oleh: Ki Bagus Arfan Hasbullah

( Pimpinan Umum Duta Berita Nusantara,Pegiat Anti Korupsi,Penulis,Badan Pengawas Nusantara Hijau Bersatu Indonesia)

Koruptor sering kita lihat sebagai seseorang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia menggunakan jabatan, kewenangan, kesempatan, atau kepercayaan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Namun, bila korupsi dilihat dari sudut pandang Islam, persoalannya menjadi jauh lebih dalam.

Korupsi bukan hanya persoalan uang yang berpindah tangan. Korupsi adalah persoalan amanah yang dikhianati.

Sebab sebelum seseorang mengambil uang negara, memanipulasi anggaran, menerima suap, atau menyalahgunakan jabatan, ada sesuatu yang lebih dahulu runtuh di dalam dirinya: kejujuran kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada manusia yang memberikan kepercayaan kepadanya.

Di sinilah kita dapat merenungkan kembali empat sifat utama yang menjadi teladan dalam akhlak Rasulullah SAW:

“ Siddiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh.”

Empat sifat tersebut bukan sekadar pengetahuan keagamaan. Jika diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial dan pemerintahan, keempatnya dapat menjadi fondasi moral untuk membangun manusia yang memiliki daya tahan terhadap korupsi.

Siddiq: Ketika Kejujuran Menjadi Benteng Pertama

Siddiq berarti benar dan jujur.

Korupsi hampir selalu membutuhkan kebohongan untuk bertahan.

Anggaran dapat dimanipulasi karena ada angka yang dibuat tidak sesuai kenyataan. Laporan dapat direkayasa karena ada fakta yang disembunyikan. Suap dapat terjadi karena ada transaksi yang tidak ingin diketahui. Jabatan dapat disalahgunakan karena seseorang berusaha membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah.

Maka pertanyaan pertama sebelum berbicara tentang korupsi adalah:

Apakah manusia masih berani berkata benar ketika kebenaran itu merugikan dirinya sendiri?

Integritas tidak diuji ketika berkata jujur membawa keuntungan.

Integritas diuji ketika berkata jujur membuat kita kehilangan kesempatan, jabatan, uang, atau kenyamanan.

Seorang manusia mungkin mampu berkata, “Saya orang jujur.”

Tetapi kejujuran yang sesungguhnya baru terlihat ketika tidak ada kamera, tidak ada atasan, tidak ada saksi, dan tidak ada orang yang akan mengetahui jika ia berbuat curang.

Siddiq menjadikan kejujuran sebagai identitas, bukan strategi.

Amanah: Jabatan Bukan Milik Pribadi

Kemudian ada amanah.

Inilah salah satu kata yang sangat dekat dengan persoalan korupsi.

Ketika seseorang memperoleh jabatan, sesungguhnya ia menerima kepercayaan.

Ketika seseorang mengelola uang negara, ia menerima kepercayaan.

Ketika seseorang diberi kewenangan untuk mengambil keputusan bagi masyarakat, ia menerima kepercayaan.

Maka jabatan bukan sekadar fasilitas.

Jabatan adalah amanah.

Dalam perspektif Islam, amanah tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Karena itu, seorang pejabat yang menyalahgunakan kewenangannya sebenarnya sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran administrasi.

Ia sedang mempertaruhkan amanah.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah perbuatan ini bisa diketahui?”

Tetapi:

“Apakah perbuatan ini dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?”

Inilah ruang batin yang sering tidak terlihat dalam sistem hukum.

Sistem dapat mengawasi tangan manusia.

Tetapi iman seharusnya mengawasi hati manusia.

Fathanah: Kecerdasan yang Tidak Boleh Dipakai untuk Membenarkan Kejahatan

Fathanah berarti kecerdasan atau kebijaksanaan.

Dalam kehidupan modern, kecerdasan sangat dibutuhkan untuk mengelola negara, organisasi, perusahaan, dan masyarakat.

Tetapi kecerdasan tanpa moral dapat berubah menjadi alat untuk mencari celah.

Orang cerdas dapat menemukan cara memperbaiki sistem.

Tetapi orang yang sama juga dapat menggunakan kecerdasannya untuk menemukan cara mengakali sistem.

Di sinilah fathanah harus ditempatkan bersama integritas.

Kecerdasan seharusnya digunakan untuk menyelesaikan masalah, bukan menciptakan celah untuk mengambil hak orang lain.

Korupsi modern sering kali tidak dilakukan secara sederhana. Ia dapat melibatkan perencanaan, manipulasi dokumen, konflik kepentingan, rekayasa transaksi, atau pemanfaatan kelemahan sistem.

Karena itu, pencegahan korupsi tidak cukup hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pintar.

Kita harus membangun manusia yang cerdas sekaligus benar dalam menggunakan kecerdasannya.

Tabligh: Kebenaran Tidak Berhenti di Dalam Diri

Sifat berikutnya adalah tabligh, yaitu menyampaikan.

Dalam konteks kehidupan sosial, tabligh dapat kita refleksikan sebagai keberanian menyampaikan kebenaran, mengingatkan, dan tidak memilih diam ketika melihat sesuatu yang salah.

Di sinilah masyarakat memiliki peran.

Korupsi tidak hanya membutuhkan orang yang mengambil.

Kadang-kadang ia juga membutuhkan lingkungan yang memilih diam.

Ketika seseorang mengetahui adanya penyimpangan tetapi berkata,

Bukan urusan saya.”

Ketika seseorang melihat ketidakjujuran tetapi memilih diam karena takut kehilangan kenyamanan.

Ketika seseorang mengetahui praktik yang salah tetapi menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Maka persoalannya bukan lagi hanya tentang pelaku.

Kita mulai berbicara tentang budaya yang memungkinkan kesalahan menjadi normal.

Tabligh mengajarkan keberanian untuk menyampaikan yang benar dengan cara yang benar.

Bukan menuduh tanpa bukti.

Bukan memfitnah.

Bukan melakukan penghakiman sendiri.

Tetapi berani bersuara berdasarkan kebenaran, data, etika, dan tanggung jawab.

Koruptor Tidak Lahir dalam Satu Malam

Mungkin inilah pertanyaan paling penting.

Apakah seseorang tiba-tiba menjadi koruptor?

Barangkali tidak.

Sebelum mengambil uang dalam jumlah besar, mungkin pernah ada kebohongan kecil.

Sebelum menerima suap besar, mungkin pernah ada pemberian kecil yang mulai dianggap biasa.

Sebelum menyalahgunakan kewenangan, mungkin pernah ada pembenaran sederhana:

“Tidak apa-apa.”

“Semua orang juga melakukan.”

“Cuma sedikit.”

“Saya berhak.”

“Ini hanya ucapan terima kasih.”

Di titik-titik kecil itulah integritas sebenarnya sedang diuji.

Karena korupsi bukan hanya tentang berapa besar uang yang diambil.

Korupsi juga berbicara tentang berapa jauh seseorang bersedia meninggalkan prinsipnya ketika berhadapan dengan kesempatan.

Islam Mengajarkan Pengawasan yang Lebih Dalam daripada CCTV

Kita dapat membangun sistem pengawasan yang semakin canggih.

Kita dapat memasang kamera.

Kita dapat memperkuat audit.

Kita dapat memperbaiki regulasi.

Kita dapat memperberat hukuman.

Semua itu penting.

Tetapi manusia tetap membutuhkan sesuatu yang bekerja ketika tidak ada kamera.

Sesuatu yang membuat seseorang berkata:

“Saya tidak akan mengambilnya, meskipun saya bisa.”

Itulah integritas.

Dan dalam perspektif keimanan, ada kesadaran bahwa Allah SWT mengetahui apa yang dilakukan manusia, bahkan ketika manusia merasa tidak ada seorang pun yang melihat.

Maka pencegahan korupsi idealnya bekerja dari dua arah:

sistem mengawasi perilaku,

iman mengawasi diri.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Justru harus saling menguatkan.

Siddiq, Amanah, Fathanah, Tabligh: Empat Pilar Manusia Berintegritas

Jika dirangkum dalam kehidupan sehari-hari:

Sifat

Makna

Dalam Pencegahan Korupsi

Siddiq

Benar dan jujur

Tidak memanipulasi fakta

Amanah

Dapat dipercaya

Tidak menyalahgunakan kepercayaan

Fathanah

Cerdas dan bijaksana

Menggunakan kecerdasan untuk kebaikan

Tabligh

Menyampaikan

Berani menyampaikan kebenaran secara etis

Keempatnya membentuk satu kesatuan.

Siddiq tanpa amanah dapat menjadi kejujuran yang tidak memiliki tanggung jawab.

Amanah tanpa fathanah dapat menjadi niat baik yang tidak cukup mampu menghadapi kompleksitas persoalan.

Fathanah tanpa siddiq dan amanah dapat menjadi kecerdasan yang berbahaya.

Dan tabligh tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi keberanian berbicara tanpa tanggung jawab.

Karena itu, manusia berintegritas bukan hanya manusia yang tahu mana yang benar.

Ia adalah manusia yang:

mengetahui kebenaran,

memegang amanah,

mampu menggunakan akal dengan bijaksana,

dan berani menyampaikan kebenaran.

Pada Akhirnya, Korupsi adalah Pertarungan di Dalam Diri

Mungkin kita terlalu sering membicarakan korupsi dari luar.

Kita membicarakan kasus.

Kita membicarakan tersangka.

Kita membicarakan kerugian negara.

Kita membicarakan hukuman.

Semua itu penting.

Tetapi pencegahan meminta kita melihat lebih jauh.

Apa yang terjadi di dalam diri seseorang sebelum ia mengambil keputusan untuk korupsi?

Di sanalah pendidikan integritas menemukan tempatnya.

Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat manusia takut terhadap hukuman.

Lebih jauh daripada itu, kita ingin membentuk manusia yang tidak ingin melakukan korupsi sekalipun memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Manusia yang ketika memegang amanah mengingat siapa yang memberinya kepercayaan.

Manusia yang ketika menemukan celah tidak berpikir bagaimana mengambil keuntungan, tetapi bagaimana menutup celah tersebut.

Manusia yang ketika melihat kesalahan tidak berkata:

“Bukan tugas saya.”

Melainkan bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan agar yang benar tetap menjadi benar?”

Dan mungkin, di situlah esensi pemberantasan korupsi yang paling dalam:

Sebelum kita bertanya bagaimana menghukum seorang koruptor, mari bertanya bagaimana membentuk manusia agar tidak memilih menjadi koruptor.

Karena perang melawan korupsi tidak selalu dimulai di ruang sidang.

Kadang ia dimulai jauh lebih awal: di dalam hati manusia, ketika ia pertama kali memilih antara amanah dan kesempatan untuk mengkhianatinya.

Integritas adalah Identitas.

Amanah adalah tanggung jawab.

Kejujuran adalah keberanian.

Dan semuanya bermula dari diri sendiri.