HARI 6
KUNCI BRANKAS RAKYAT
Oleh : Ki Bagus Arfan ( Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara)
Serial Cerpen Viral DBN
Mang Robin & Mang Ebin:
Sang Penjaga Gawang Korupsi Nusantara
Pagi itu warung kopi Mang Udin tampak lebih ramai dari biasanya.
Mang Ebin duduk termenung sambil memandangi sebuah bangunan besar yang berdiri kokoh di tengah kota.
Di atas pintunya tertulis:
“BRANKAS RAKYAT”
Mang Robin yang baru datang langsung duduk di sampingnya.
“Ada apa, Bin?”
Mang Ebin menunjuk ke arah bangunan itu.
“Aku sedang memikirkan isi brankas itu, Mang.”
Mang Robin tersenyum.
“Yang berisi uang rakyat itu?”
Mang Ebin mengangguk.
“Iya.”
“Aku heran.”
“Kenapa?”
“Katanya isinya triliunan.”
“Katanya dikelola oleh orang-orang pintar.”
“Katanya dijaga oleh banyak pengawas.”
“Tapi kenapa rakyat masih banyak yang mengeluh?”
Mang Robin menyeruput kopi perlahan.
Karena ia tahu pertanyaan itu bukan hanya milik Mang Ebin.
Melainkan pertanyaan jutaan rakyat.
Mang Robin lalu berkata,
“Masalahnya bukan pada brankasnya, Bin.”
“Bukan pada pintunya.”
“Bukan juga pada gemboknya.”
“Lalu?”
“Masalahnya ada pada orang yang memegang kunci.”
Mang Ebin terdiam.
Angin pagi berembus pelan.
Mang Robin melanjutkan.
“Ada orang yang diberi amanah menjaga.”
“Tapi merasa dirinya pemilik.”
“Ada yang diberi kewenangan mengelola.”
“Tapi lupa siapa pemilik sebenarnya.”
Mang Ebin mengernyit.
“Memangnya siapa pemiliknya?”
Mang Robin tertawa kecil.
“Rakyat, Bin.”
“Rakyatlah pemilik sebenarnya.”
“Dari petani yang membajak sawah.”
“Dari pedagang yang membuka lapak sejak subuh.”
“Dari buruh yang pulang saat matahari hampir tenggelam.”
“Dari seluruh masyarakat yang setiap hari bekerja dan membayar kewajibannya.”
Mang Ebin mengangguk.
“Kalau begitu yang jadi juragan sebenarnya rakyat ya, Mang?”
“Tepat sekali.”
“Pejabat hanyalah pengelola.”
“Bukan pemilik.”
“Jabatan hanyalah amanah.”
“Bukan warisan keluarga.”
Mereka terdiam sejenak.
Lalu Mang Ebin kembali bertanya.
“Kalau rakyat pemiliknya, kenapa masih banyak rakyat yang hidup susah?”
Mang Robin menarik napas panjang.
“Itulah pertanyaan yang harus terus dijaga agar tidak hilang.”
Mang Ebin menatap wajah sahabatnya.
Mang Robin melanjutkan.
“Kadang ada yang terlalu lama memegang kunci.”
“Lalu lupa bahwa dirinya hanya penjaga.”
“Mereka mulai merasa berkuasa.”
“Mulai merasa paling tahu.”
“Mulai marah ketika diawasi.”
Mang Ebin langsung menyela.
“Nah itu dia, Mang!”
“Kalau dikontrol marah.”
“Kalau dibiarkan?”
Mang Robin menjawab tegas.
“Kalau dibiarkan, penyimpangan bisa tumbuh.”
“Kalau dibiarkan, amanah bisa berubah menjadi peluang.”
“Kalau dibiarkan, rakyat yang akhirnya menanggung akibatnya.”
Mang Ebin mengangguk perlahan.
Kini ia mulai memahami sesuatu.
Bahwa pengawasan bukan musuh.
Melainkan sahabat integritas.
Tak lama kemudian Mang Ebin kembali membuka pembicaraan.
“Mang, aku pernah dengar cerita.”
“Cerita apa?”
“Tentang Tim Topeng Dusta.”
Mang Robin tersenyum tipis.
“Oh… yang itu.”
Mang Ebin mendekat.
“Katanya mereka mengelola uang rakyat seperti uang permainan.”
“Seolah-olah uang itu datang sendiri.”
“Seolah-olah turun begitu saja dari surga.”
Mang Robin tertawa pahit.
“Itulah masalahnya.”
“Ketika ada orang yang menganggap uang rakyat sebagai uang gratis.”
“Mudah dibagi.”
“Mudah dipindahkan.”
“Mudah digunakan.”
Padahal setiap rupiah memiliki pemilik.
Namanya rakyat.
Mang Ebin terdiam.
Mang Robin melanjutkan.
“Tidak ada uang yang turun dari surga langsung ke dalam brankas negara.”
“Yang ada adalah keringat rakyat.”
“Keringat petani.”
“Keringat nelayan.”
“Keringat buruh.”
“Keringat pedagang kecil.”
“Keringat seluruh masyarakat yang berharap hidupnya menjadi lebih baik.”
Suasana warung mendadak hening.
Mang Ebin kembali bertanya.
“Jadi wajar kalau pembangunan melambat ketika amanah diperlakukan seperti uang gratis?”
Mang Robin mengangguk.
“Wajar.”
“Karena uang rakyat harus dikelola dengan rasa tanggung jawab.”
“Bukan dengan rasa memiliki.”
Lalu ia menambahkan.
“Masalah terbesar bukan ketika brankas rakyat kosong.”
“Tapi ketika pemegang kunci lupa dari mana isi brankas itu berasal.”
Matahari mulai meninggi.
Namun percakapan mereka belum selesai.
Mang Ebin mengeluarkan secarik kertas dari sakunya.
Di atas kertas itu tertulis:
TIM TOPENG DUSTA
Mang Robin menatapnya.
“Masih menyimpan itu?”
Mang Ebin mengangguk.
“Aku penasaran.”
“Penasaran apa?”
“Katanya pernah ada proyek percontohan.”
“Katanya pernah ada operasi tangkap tangan.”
“Katanya itu menjadi cambuk agar semua belajar.”
Mang Robin tersenyum tipis.
“Benar.”
“Lalu?”
Mang Ebin bertanya pelan.
“Kenapa masih ada yang menganggap peringatan sebagai tantangan?”
Mang Robin menatap jauh.
Karena sebagian orang tidak belajar dari peringatan.
Mereka justru merasa lebih pintar.
Lebih licin.
Lebih kebal.
Padahal sejarah selalu mengajarkan hal yang sama.
Topeng dapat menutupi wajah.
Tetapi tidak dapat menutupi akibat dari pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
Mang Ebin terdiam.
Ia memandang jalan kampung yang berlubang.
Ia memandang sekolah yang mulai kusam.
Ia memandang rumah-rumah sederhana yang masih menyimpan banyak harapan.
Lalu ia bertanya pelan.
“Mang…”
“Iya?”
“Kalau uang rakyat diperlakukan seperti uang permainan…”
“Kalau amanah dianggap milik pribadi…”
“Kalau yang memegang kunci lupa bahwa dirinya hanya penjaga…”
“Lalu siapa yang membayar akibatnya?”
Mang Robin tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjuk ke arah kampung.
Ke arah rakyat.
Ke arah kehidupan sehari-hari.
Dan saat itu Mang Ebin mulai mengerti.
Bahwa setiap rupiah yang salah jalan akan meninggalkan jejak.
Bahwa setiap amanah yang dikhianati akan menagih pertanggungjawaban.
Dan sering kali…
Tagihan itu tidak lebih dulu datang kepada pelakunya.
Melainkan kepada rakyat.
BERSAMBUNG…
“Rakyat adalah pemilik amanah. Pejabat hanyalah penjaga kunci. Ketika penjaga lupa tugasnya, rakyatlah yang pertama merasakan akibatnya.”
#33DayIntegrityChallenge
#JurnalisHebatBerintegritas
#LawanKorupsi
#BiasakanYangBenar
#AksiKita














