BeritaCerita BersambungCERPEN

MANG ABI, MANG ROBIN DAN TAMAN RAKYAT YANG TAK PERNAH TUA

3
×

MANG ABI, MANG ROBIN DAN TAMAN RAKYAT YANG TAK PERNAH TUA

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

Serial Kampung Karya – Episode 1

Di sebuah negeri kecil bernama Kampung Karya, berdirilah sebuah tempat yang cukup terkenal. Namanya Taman Rakyat.

Dulu, warga kampung begitu bangga dengan tempat itu. Di sanalah mereka berkumpul, bermusyawarah, menerima tamu, dan mengadakan berbagai kegiatan bersama.

Konon, pembangunan Taman Rakyat menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Namun warga tidak pernah mempermasalahkannya.

Sebab mereka percaya, di setiap batu yang terpasang, di setiap papan yang berdiri, dan di setiap jengkal bangunan yang dibangun, terdapat titipan setiap sen keringat warga Kampung Karya.

Keringat para petani.

Keringat para pedagang.

Keringat para buruh.

Keringat para pelaku usaha.

Sedikit demi sedikit, setiap sen keringat itu terkumpul menjadi harapan bersama.

Harapan agar kampung mereka menjadi lebih baik, lebih indah, dan lebih sejahtera untuk semua.

Suatu sore, Mang Abi duduk bersama Mang Robin di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari Taman Rakyat.

“Bin, aku heran,” kata Mang Abi sambil mengaduk kopi.

“Apa yang bikin heran?”

“Taman Rakyat itu.”

“Kenapa?”

“Perasaan setiap tahun diperbaiki.”

Mang Robin mengangguk.

“Iya.”

“Tapi kok tidak pernah terlihat benar-benar baru?”

Mang Robin tersenyum tipis.

“Mungkin yang tua bukan bangunannya.”

“Lalu apa?”

“Pikirannya.”

Mang Abi tertawa kecil.

Tak jauh dari mereka, beberapa orang tampak mengukur bangunan yang sama.

Mang Abi memperhatikan dengan seksama.

“Itu sedang apa?”

“Mengukur.”

“Lagi?”

“Lagi.”

“Perasaan tahun kemarin juga diukur.”

“Iya.”

“Tahun sebelumnya juga.”

“Iya.”

“Dan sebelumnya lagi?”

Mang Robin menyeruput kopinya.

“Mungkin mereka takut ukuran temboknya berubah.”

Mereka tertawa bersama.

Namun tawa itu tidak berlangsung lama.

Karena di Kampung Karya, ada cerita yang lebih menarik daripada ukuran tembok.

Konon, ada beberapa orang yang terlibat sangat mengenal Taman Rakyat.

Mereka hafal setiap sudut bangunannya.

Hafal pagar sebelah timur.

Hafal atap sebelah barat.

Hafal lantai bagian depan.

Hafal saluran air bagian belakang.

Bahkan mungkin lebih hafal dibanding penjaga bangunannya sendiri.

“Aku kagum pada mereka,” ujar Mang Abi.

“Kenapa?”

“Kesetiaannya luar biasa.”

Mang Robin tersenyum.

“Kesetiaan memang mahal.”

“Mereka pasti sangat mencintai Taman Rakyat.”

“Bisa jadi.”

“Sampai bertahun-tahun tidak pindah ke tempat lain.”

Mang Robin tidak menjawab.

Ia hanya memandang secangkir kopi yang mulai dingin.

Matahari perlahan turun ke ufuk barat.

Mang Abi dan Mang Robin kemudian berjalan meninggalkan warung kopi.

Namun sebelum pulang, keduanya sempat menoleh sekali lagi ke arah Taman Rakyat.

Dari kejauhan, tempat itu terlihat berbeda.

Rumput-rumput di beberapa sudut halaman tampak mulai kehilangan kesegarannya.

Tanaman hias yang dulu ditanam dengan penuh harapan terlihat layu menunggu perhatian.

Tong sampah kayu berukir yang dahulu dibanggakan warga berdiri diam tanpa fungsi yang jelas.

Beberapa bagian taman terlihat kusam.

Seolah waktu berjalan lebih cepat daripada perawatannya.

“Sayang sekali…” gumam Mang Abi.

Mang Robin terdiam.

Padahal tempat tersebut dibangun dari keringat warga.

Dari harapan warga.

Dari kerja keras warga.

Dari doa-doa warga.

Namun mengapa sekarang terlihat seperti kehilangan semangat yang dulu pernah menghidupkannya?

“Apa salah kampung ini, ya bin?” tanya Mang Abi pelan.

Mang Robin tidak langsung menjawab.

Angin sore berembus pelan melewati halaman Taman Rakyat.

Di Kampung Karya, sering terdengar bisikan-bisikan yang terbawa angin.

Tentang pekerjaan yang dilakukan sekadarnya.

Tentang amanah yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Tentang sebagian orang yang lebih sibuk menghangatkan dapurnya sendiri daripada menjaga rumah besar milik bersama.

Dapur-dapur itu memang mengebul.

Asapnya naik tinggi ke langit.

Namun di bawahnya, masih banyak warga yang berjuang.

Ada yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada yang masih berharap kesejahteraan tidak berhenti sebagai janji.

Ada yang masih menunggu perubahan yang tak kunjung datang.

Mang Abi kembali menatap Taman Rakyat.

“Kampung ini sebenarnya kaya.”

Mang Robin mengangguk.

“Iya.”

“Keringat warganya melimpah.”

“Iya.”

“Lalu mengapa masih banyak yang merasa kekurangan?”

Mang Robin menarik napas panjang.

“Mungkin karena tidak semua yang terkumpul sampai ke tujuan yang semestinya.”

Malam mulai turun.

Lampu-lampu kampung menyala satu per satu.

Taman Rakyat tetap berdiri dalam diam.

Menyimpan kisah tentang harapan.

Tentang kerja keras.

Tentang amanah yang dititipkan rakyat kecil kepada mereka yang dipercaya mengelolanya.

Mang Abi dan Mang Robin melangkah pulang.

Di kepala mereka hanya tersisa satu pertanyaan.

Apakah Kampung Karya sedang kekurangan harta?

Ataukah sedang kekurangan hati untuk menjaganya?

Dan pertanyaan itu terus bergema di antara jalan-jalan kampung, menyelinap ke rumah-rumah warga, menunggu jawaban yang entah kapan akan datang.

Sebab bagi warga Kampung Karya, pembangunan bukan sekadar angka di atas kertas.

Melainkan amanah yang lahir dari setiap sen keringat rakyat.

Catatan Penulis

Cerita ini merupakan karya fiksi, satire, dan alegori sosial yang lahir dari imajinasi penulis.

Seluruh tokoh, nama, tempat, dialog, peristiwa, maupun narasi yang terdapat dalam cerita ini disusun sebagai ilustrasi dan sarana refleksi sosial semata.

Setiap kesamaan nama, karakter, tempat, peristiwa, ataupun keadaan tertentu dengan pihak mana pun, baik yang masih ada maupun yang pernah ada, merupakan kebetulan belaka dan tidak dimaksudkan untuk merujuk, menggambarkan, ataupun menuduh pihak tertentu.

Cerita ini ditulis sebagai ruang renungan tentang amanah, kejujuran, tanggung jawab, serta harapan yang hidup di tengah masyarakat.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar bangunan yang berdiri megah, melainkan kepercayaan yang dijaga dengan hati.

Salam dari Kampung Karya

Penulis: Robin/BagusEditor: Redaksi Dbn
Berita

Duta Berita Nusantara | Palembang Oleh Anto Narasoma…