Oleh: Fahrur Rozi, S.Pd.SD.
(Guru SDN Pilangsari Kec. Sayung Kab. Demak)
Langkah kaki anak-anak itu kerap kali harus berkejaran dengan genangan air. Di SDN Pilangsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, rob bukanlah tamu yang asing. Sebagai sekolah dasar yang berdiri di daerah pinggiran dengan kerawanan bencana ekologis yang nyata, tantangan fisik bangunan hanyalah sebagian dari cerita harian kami.
Namun, bagi saya, tantangan terbesar yang sesungguhnya ada di dalam ruang kelas. Bagaimana menjaga api optimisme dan rasa percaya diri anak-anak agar tidak ikut hanyut bersama pasangnya air laut.
Ada sebuah stigma yang samar dan cukup kuat mengakar di masyarakat kita bahwa kualitas pembelajaran dan masa depan anak-anak di pinggiran secara otomatis berada di bawah mereka yang mengecap pendidikan di pusat kota.
Pemikiran seperti inilah yang ingin saya dobrak. Keseharian saya bersama murid-murid kelas V telah mematahkan asumsi tersebut. Saya menyadari sepenuhnya bahwa potensi setiap anak, di mana pun mereka dilahirkan dan di mana pun mereka belajar adalah sama. Mereka memiliki hak, ruang, dan kapasitas yang setara untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Menghidupkan kelas di tengah keterbatasan sarana lingkungan menuntut transformasi paradigma mengajar. Merujuk pada amanat Kurikulum Merdeka, saya mencoba mengaplikasikan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang bertumpu pada tiga pilar utama: Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menggembirakan (Joyful).
Sebagai contoh konkret, baru-baru ini pada materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) mengenai “Sistem Pencernaan Manusia”, saya tidak lagi langsung membuka buku teks dan mendikte fungsi lambung atau usus halus. Langkah awal yang krusial adalah membangun kesadaran (mindfulness) dalam diri murid.
Sebelum pelajaran dimulai, saya meluangkan waktu untuk berdialog dan menanyakan satu pertanyaan mendasar kepada mereka: “Mengapa kita perlu mempelajari sistem pencernaan ini?” Ketika murid memahami dengan jelas tujuan dari apa yang mereka pelajari, orientasi mereka berubah.
Mereka tidak lagi belajar demi sekadar menghafal demi ujian, melainkan sadar bahwa pengetahuan ini adalah bekal berharga untuk memahami tubuh mereka sendiri dan menjaga kesehatan hidup sehari-hari.
Pilar bermakna dan menggembirakan kemudian diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi yang ada. Kami sangat bersyukur mendapatkan bantuan pemerintah berupa Interactive Flat Panel (IFP). Bagi sebuah sekolah di daerah rawan rob, keberadaan layar interaktif ini laksana jendela digital yang membuka dunia tanpa batas bagi anak-anak.
Dalam sesi sistem pencernaan, teknologi IFP bertindak sebagai simulator visual yang interaktif. Anak-anak tidak lagi sekadar membayangkan organ dalam melalui gambar dua dimensi yang kaku di buku paket lama. Melalui visualisasi digital yang dinamis, mereka dapat melihat bagaimana makanan bergerak, dicerna, hingga diserap oleh tubuh secara langsung di layar sentuh besar di depan kelas.
Antusiasme meluap ketika anak-anak maju bergantian ke depan kelas untuk berinteraksi dengan media visual tersebut. Rasa senang inilah yang menjadi pintu masuk pembelajaran yang menggembirakan.
Ketika emosi positif murid sudah terbangun, maka konsep-konsep sains yang rumit akan menetap jauh lebih lama di dalam memori mereka, menjadikan pembelajaran tersebut benar-benar bermakna.
Keberhasilan menghidupkan ruang kelas tidak terletak pada kemewahan gedung sekolah atau letak geografisnya. Jiwa dari sebuah kelas ada pada kemauan gurunya untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Sarana secanggih apa pun, seperti IFP, tidak akan berdampak maksimal jika gurunya enggan beradaptasi dengan teknologi dan metode pedagogi baru.
Sebagai pendidik di SDN Pilangsari Sayung, saya memilih untuk menolak pasrah pada keadaan lingkungan.
Daerah pinggiran boleh rawan rob, tetapi inovasi dan kreativitas di dalam ruang kelas tidak boleh ikut tenggelam. Kita harus menjadi teladan pertama dalam hal belajar. Ketika anak-anak melihat guru mereka penuh semangat mencoba hal baru, energi itu akan menular, membangun rasa percaya diri mereka bahwa mereka mampu sejajar dengan siapa pun di luar sana.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan pendidik sekalian, terutama yang bertugas di pelosok dan tepian negeri. Selalu ada jalan untuk menyalakan lentera di ruang-ruang kelas kita. Mari terus belajar, terus bergerak, demi memastikan bahwa setiap anak Indonesia di mana pun ruang kelas mereka berada, mendapatkan haknya untuk bertumbuh dengan bahagia dan penuh percaya diri.














