Duta Berita Nusantara | KOTA BATU
Malam itu, dingin Kota Batu di penghujung Juli terasa luluh di lantai dua Gedung PCNU, Jalan Agus Salim nomor 21. Di atas hamparan karpet, beberapa cangkir kopi mengepulkan uap tipis mendampingi lembaran naskah kuno yang kembali disapa: Surat Wulangreh.
Rabu malam (29/7/2026), Lesbumi NU Kota Batu memulai langkah barunya. Sebuah ruang diskusi terbuka yang mereka beri nama JAGORAMA singkatan dari Jagongan Malam Rabu. Sebuah ikhtiar merawat ingatan di tengah riuk modernitas yang berisiko mengikis akar tradisi.
Ada cerita menarik di balik layar sebelum pintu acara dibuka pukul 19.30 WIB. Panitia semula bergerak dengan ekspektasi yang bersahaja. Membicarakan tembang macapat dan manuskrip abad ke-18 di era layar sentuh hari ini sering dianggap sebagai agenda yang jarang dilirik. Namun malam itu, perkiraan tersebut meleset.
Satu per satu warga berdatangan. Mulai dari pemuda, bapak-bapak, hingga tokoh budayawan lokal tampak memenuhi ruangan. Karpet yang semula lengang pelan-pelan dipenuhi hadirin yang duduk bersila rapat. Ruang diskusi itu mendadak hidup, menjelma oase yang hangat hingga waktu bergulir tak terasa menembus pukul 23.00 WIB.
“JAGORAMA ini bukan mimbar resmi yang kaku. Ini ruang mengaji dan diskusi bebas,” ujar Alfi Saifullah saat membuka acara. “Siapa pun boleh datang, siapa pun boleh mengaji, dan siapa pun berhak melempar pendapat. Kita akan jumpa lagi setiap dua minggu sekali.”
Cermin Malu Pakubuwono IV
Pada edisi perdana malam itu, Surat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV dibedah bukan sekadar sebagai artefak bahasa, melainkan sebagai kompas panduan hidup. Menu utamanya adalah Tembang Dandanggula, Pupuh pertama hingga ketiga.
Sebelum masuk ke bait demi bait, filosofi tembang macapat dihadirkan sebagai pembuka jalan. Macapat adalah ritme kehidupan manusia—dari dalam kandungan hingga kembali ke tanah.

Alfi Saifullah menuntun peserta memasuki Pupuh Pertama. Di sinilah letak pukulan telak bagi manusia modern. Pakubuwono IV, seorang raja besar yang mahir bersastra dan menguasai tata bahasa, di dalam karyanya justru dengan sangat rendah hati mengaku sebagai sosok “yang bukan ahli” dan “amatiran”.
Ada perenungan dalam yang tersirat di sana. Jika seorang raja agung saja tidak segan menanggalkan keakuannya dan menunduk di hadapan ilmu, lantas atas dasar apa manusia hari ini kerap merasa paling paham tentang segala hal? Rendah hati adalah benteng pertama sebelum seseorang berani menyapa kebenaran.
Sarmitaning Urip: Menghafal Tanda, Membaca Diri
Diskusi kian menghangat ketika Ki Sutopo mengambil alih panggung untuk membedah Pupuh Kedua dan Ketiga. Pembahasannya menukik pada konsep Sarmitaning Urip ajaran mendalam tentang tanda-tanda kehidupan yang patut dipahami manusia dalam proses menjadi dewasa.
Ki Sutopo menegaskan bahwa dalam tradisi Jawa yang adiluhung, manusia diajak untuk tidak hanya peka terhadap apa yang tersurat, tetapi juga piawai membaca yang tersirat dalam dinamika kehidupan.
“Semua hakikat Sarmitaning Urip itu sebenarnya sudah termaktub secara jernih di dalam Al-Qur’an,” ungkap Ki Sutopo di hadapan tatapan khusyuk para peserta. “Namun, untuk menggalinya kita butuh standardisasi dan metodologi ilmu yang presisi. Jangan asal tebak, agar tidak salah arah.”
Ia menambahkan sebuah pesan penting yang menjadi simpul diskusi: apabila seseorang telah dimampukan secara keilmuan oleh Tuhan, maka pengetahuan itu bukan untuk disimpan di dalam menara gading. Ia memiliki kewajiban moral untuk menjadi pembimbing (_guru_) bagi lingkungan sekitarnya. Pengetahuan yang tidak diabdikan pada kemanusiaan adalah pengetahuan yang mati.
Merawat Pelita di Tengah Malam
Malam makin larut ketika Ahsarul Khitam memimpin doa penutup. Namun, kehangatan di lantai dua itu tak lantas bubar saat doa usai. Obrolan-obrolan kecil masih berlanjut di sudut-sudut ruangan, ditemani sisa-sisa kopi yang mulai dingin.
Lesbumi NU Kota Batu malam itu tidak hanya sukses menggelar sebuah acara, melainkan membuktikan bahwa kebudayaan dan sastra klasik tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya merindukan ruang yang hangat untuk disapa kembali tanpa kesan menggurui.
Melalui JAGORAMA, sebuah pelita kecil telah dinyalakan di Kota Batu. Dan dari cara warga bertahan duduk hingga mendekati tengah malam, kita tahu: pelita itu tidak akan mudah padam.













