Duta Berita Nusantara | Kota Batu
Menyuling Cahaya Rabu: Ketika Jagorama Merawat Jiwa
Oleh: Aethera Aditi
“Hmm… dijenengno Jagorama.”
“Nopo niku, Jagorama?”
“Jagongan Rabu Malam.”
Suara itu meluncur pelan di antara jeda keheningan di rumah Pak Wandi pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, menjelang malam. Pak Wandi sempat terdiam beberapa saat, menimbang rasa di kedalaman dadanya, sebelum akhirnya melafalkan tiga suku kata yang kelak menjadi rumah singgah bagi jiwa-jiwa yang dahaga. Di dekatnya, Alfi bertanya polos, memancing penegasan dari sebuah gagasan yang baru saja bernapas.
Hari itu, beberapa hari sebelum hari Rabu perdana diresmikan, Jagorama dilahirkan bukan dari kesepakatan yang tergesa-gesa, melainkan dari kehangatan obrolan bersila.
Rangkaian kata itu menyimpan helai makna yang mengendap. Kata Jago memanggil kembali daya hidup jagoan, yakni ayam jantan yang berani melantangkan kokok kebenaran di tengah malam yang lelap. Sementara itu, Rama menyerap kehangatan figur Bapa atau Romo, peneduh tempat setiap pejalan boleh pulang dan ngleremke rasa dari kecamuk keletihan.
Di balik kesederhanaan dialog pada hari Sabtu itu, ada sebuah teguran halus terhadap kebiasaan kita. Rapat-rapat organisasi sering kali usai begitu saja setelah menggugurkan agenda, lalu hening tanpa meninggalkan jelaga makna. Jagorama hadir meretas jarak tersebut, menawarkan ruang terbuka untuk belajar bersama, berdiskusi tanpa sekat, dan menikmati jagongan malam yang karib hingga menjadi tempat perenungan jiwa untuk merengkuh kedalaman ilmu.
Pilihan untuk menjadikan malam Rabu sebagai panggung pergerakan lahir dari jalinan pengetahuan klasik yang merentang luas. Dalam tradisi pesantren melalui kitab Ta’lim Muta’allim, hari Rabu (Yawm al-Arbi’a’) memegang posisi epistemologis yang sakral: ia adalah hari ketika Allah menciptakan An-Nur, yakni cahaya. Karena itulah, para kiai dahulu kerap memulai penderesan kitab pada hari Rabu, membawa pengharapan agar pendar keilmuan sanggup menyingkap gelapnya kebodohan batin.
Gema keheningan ini berkelindan harmonis dengan kosmologi lokal dan lintas tradisi. Dalam penanggalan Kawi atau Jawa Kuno, Rabu dinamai Budha, yang berasal dari akar kata yang berarti “terjaga”, “insaf”, atau “yang tercerahkan”. Hari ini dinaungi oleh kebijaksanaan intelektual Dewa Ganesha sebagai penyingkir rintangan batin. Bahkan, dalam narasi penciptaan kuno Semitik, hari keempat adalah momen ketika benda-benda penerang dilangitkan untuk memisahkan terang dari remang.
Angka tujuh, yang merepresentasikan siklus hari penciptaan semesta, dalam bahasa Jawa merunduk puitis menjadi pitu. Dari kata inilah manusia mengeja harapannya akan pitulungan atau pertolongan Tuhan serta merindukan pitutur atau tuntunan luhur. Jagorama menyerap seluruh simpul itu tanpa jatuh pada klaim yang arogan. Ia hanya ingin menjadi celah kecil tempat cahaya Rabu dipetik kembali.
Tentu, selalu ada lirikan mata yang ragu dari balik pintu-pintu formal. Sebagian orang, yang terbiasa mengukur kadar kesucian dari besarnya papan nama atau riuhnya spanduk, mungkin menatap majelis lesehan ini sambil tersenyum tipis. Mereka menganggapnya tak lebih dari cangkrukan seni atau romantisme budaya yang alpa dari bobot keagamaan.
Sebuah sindiran yang justru menelanjangi cara pandang kita sendiri. Sebab, saat seseorang melangkah mendekat, ia akan mendapati bahwa Jagorama tak pernah menanggalkan rahim otentiknya, yakni tradisi amaliah An-Nahdliyah dan garis laku para pendahulu. Setiap majelis senantiasa dibuka dengan kekhusyukan yang merengkuh, mulai dari istighosah, tahlil, pembacaan syi’ir Tanpo Waton, hingga pendar suluk macapat, lalu dipungkasi dengan doa para sesepuh.
Menjadikan Serat Wulangreh, karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV, sebagai bahan perbincangan bukanlah tindakan memamerkan benda antik kebudayaan. Ini adalah seni menyapa jiwa, menerjemahkan ajaran syariat, adab, dan tauhid ke dalam rasa Jawa. Para tetua paham betul bahwa agama yang tidak membumi dalam dialek kebudayaan warga hanya akan menjadi slogan kaku di atas kertas. Di Jagorama, nilai-nilai keagamaan dipuasakan dari bahasa yang membumbung tinggi, lalu dikembalikan menjadi laku hidup yang mengakar dalam keseharian.
Lihatlah bagaimana jejak pengembaraan ini melangkah, bukan sebagai catatan agenda yang dingin, melainkan sebagai peta perjalanan batin.
Langkah awal di Gedung PCNU Kota Batu dibuka dengan tembang Mijil dan Pocung oleh Pak Sutopo, sebuah ketukan pelan untuk membangunkan kesadaran. Perjalanan itu berlanjut ke Gedung Kesenian Desa Sumberjo, ketika M. Fathul H. Panotoprojo dan Alfi Saifullah membedah fenomena “guru instan” di era layar kaca. Sebuah cermin bagi zaman ketika popularitas dan kefasihan berbicara sering keliru dianggap sebagai kedalaman jiwa.
Di tengah dingin kemarau Balai Dusun Sumbergondo, Bumiaji, Ki Swandi dan Ki Dr. Riyanto Hanggendali menautkan kembali adab dan ilmu, mengingatkan bahwa pengetahuan yang tanggal dari kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan. Pengembaraan bergeser ke Paseban Sangguran Junrejo saat Ki Siswanto Galuh Aji dan Ki Suparno mengeja bait Kinanthi: “Padha gulangen ing kalbu”. Sebuah ajakan untuk merawat kepekaan batin dan mengendalikan hawa nafsu.
Sementara itu, di Junrejo, Bapa Syamsu S. Soeid melontarkan otokritik bahwa lingkungan buruk hari ini tak lagi mengetuk pintu rumah, melainkan merayap halus melalui sistem algoritma media sosial yang bertindak bak panuntuning eblis.
Dan semalam, Rabu Wage, 14 Oktober 2026, di bawah pendar hening Kedai D’ Beran Healing Camp, Desa Gunungsari, Bumiaji, lingkaran itu kembali bersila. Bersama Ki Dr. Slamet Hendrokusumo dan Gus Imron Fathoni, pupuh Kinanthi bait 9–12 dideres. Manusia-manusia diajak untuk mulat sarira, yakni melakukan otokritik, mawas diri, dan hening di tengah keriuhan dunia yang kian bising.
Di setiap perhentian itu, tidak ada panggung yang menjulang dan tidak ada sekat antara mereka yang merasa tahu dan mereka yang merasa awam. Semua duduk lesehan, sama rendah, sama-sama belajar menuntun dan dituntun (Kinanthi).
Jagorama telah mengukir jejaknya sendiri. Ia berdiri sebagai saksi otentik bahwa sebuah pergerakan kebudayaan yang utuh tidak membutuhkan riuhnya lampu sorot, melainkan kejujuran niat yang dirawat dengan konsistensi.
Ia menghadirkan penawar bagi kerinduan batin manusia modern yang lelah oleh kepungan arus informasi. Sebuah ruang pulang yang jujur, setara, dan mendinginkan jiwa.
Sebagaimana obrolan bersila di rumah Pak Wandi pada hari Sabtu itu, Jagorama akan terus menyalakan suluh penerangnya di setiap Rabu malam, mengajak siapa saja untuk duduk bersama, menyesap kopi, dan menyadari bahwa di hadapan keagungan ilmu Tuhan, kita semua hanyalah pejalan yang sedang belajar menjadi manusia.












