Oleh Anto Narasoma
Duta Berita Nusantara | Palembang
Angin dan nada-nada sedih telah membawa karirmu ke dalam cahaya matahari
sebab,tiap lagu yang bersenandung, kau iringi dari awal nada pertama hingga orang-orang terpana ke dalam lagu cinta:
djumlani,seruling itu kini terdiam dalam kesunyian
ia tertidur panjang setelah kau kembali ke tanah asalmu yang dikitari bidadari-bidadari amalmu
sebab setelah terakhir kali kau gabungkan dengan instrumen lainnya yang mengucurkan air mata, tiupan nada pilu seruling itu melambaikan suaranya ke dalam perpisahan kita
o djumlani,
pergilah ke dalam ajalmu sebab dalam perjalanan panjang itu, ribuan malaikat dan bidadari akan menjadi bunga yang mengharumi nama baikmu.













