Duta Berita Nusantara | PALEMBANG
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, kian hari semakin tebal dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kegiatan belajar para pelajar.
Berbagai keluhan masyarakat telah disampaikan, baik melalui aksi unjuk rasa dan demonstrasi maupun laporan warga yang diterima redaksi Duta Berita Nusantara. Mereka mempertanyakan penanganan kabut asap yang hingga kini belum kunjung berakhir.
Berdasarkan pantauan awak media Duta Berita Nusantara pada Kamis (22/10/2026) pukul 07.38 WIB, di sekitar Terminal Sako, Kota Palembang, kabut asap dampak karhutla terlihat semakin tebal.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas kinerja Satuan Tugas (Satgas) Karhutla dan pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta Pemerintah Kota Palembang, dalam menangani persoalan kabut asap yang terus mengganggu kehidupan masyarakat.
Salah seorang warga, Hendri, penjual sayur di Pasar Perumnas Sako, mengeluhkan penurunan jumlah pembeli dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kondisi kabut asap membuat masyarakat enggan keluar rumah untuk berbelanja.
“Kabut asap ini membuat dagangan kami kurang laku, karena banyak pembeli yang tidak mau keluar rumah,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Sumardi, seorang pengemudi ojek daring. Ia mengaku pendapatannya menurun drastis akibat dampak karhutla yang turut memengaruhi aktivitas masyarakat.
“Dampak kabut asap ini benar-benar membuat pendapatan kami menurun. Biasanya, yang sering memesan ojek online adalah para pelajar. Sekarang mereka belajar daring dari rumah masing-masing dan tidak ke sekolah. Untuk mendapatkan uang Rp100 ribu saja susah, Pak,” katanya.
Orang Tua Siswa Ikut Terbebani
Dampak kabut asap juga dirasakan para orang tua siswa. Di tempat berbeda, sejumlah orang tua mengeluhkan kegiatan belajar anak-anak yang harus dilakukan dari rumah serta tambahan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan internet.
Sumiati, warga Sekojo, Kecamatan Kalidoni, mengaku telah sekitar satu bulan menghadapi kondisi tersebut. Selain harus mendampingi anak belajar di rumah, ia juga terbebani biaya pembelian kuota internet setiap hari.
“Sudah satu bulan ini anak kami tidak belajar di sekolah dampak dari kabut asap ini. Akibatnya, kami orang tua jadi sibuk di rumah mengurus anak belajar, apalagi belajarnya pakai handphone. Kuotanya saja satu hari harganya Rp 9 ribu, Pak. Coba saja kalau dikalikan satu bulan, itu uang tambahan yang harus kami keluarkan. Sementara suami saya kerjanya serabutan. Pusing saya, Pak,” keluhnya.
Keluhan tersebut menggambarkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara dan kesehatan, tetapi juga berimbas pada kondisi ekonomi keluarga, aktivitas pendidikan, serta produktivitas masyarakat.
Warga Mendesak Penanganan Nyata
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Palembang bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan segera menghadirkan solusi yang tepat, cepat, dan nyata untuk mengatasi kabut asap yang terus menyelimuti wilayah tersebut.
Suhendra, seorang pengusaha yang tinggal di Kelurahan 9 Ilir, menegaskan bahwa penanganan kabut asap tidak boleh berlarut-larut hingga menimbulkan korban.
“Saya rasa semua warga Kota Palembang berharap agar penanganan kabut asap ini secepatnya diatasi. Jangan sampai menunggu adanya korban jiwa akibat ISPA atau kecelakaan di jalan akibat jarak pandang yang pendek,” tegasnya.
Desakan masyarakat tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan membentuk satgas atau melakukan pemadaman di lokasi kebakaran. Upaya pengendalian sumber api, pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan masyarakat, serta penyampaian informasi yang terbuka kepada publik juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana asap.
Publik pun menantikan langkah konkret dan terukur dari pihak-pihak terkait untuk memastikan sumber kebakaran ditangani, risiko paparan asap dikurangi, dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan aman.
Hingga persoalan ini teratasi, masyarakat masih harus menghadapi dampak kabut asap dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, efektivitas penanganan karhutla di Sumatera Selatan perlu terus dievaluasi secara terbuka berdasarkan tindakan nyata dan hasil yang dirasakan masyarakat.
Dihimbau untuk seluruh masyarakat bergotong royong menjaga lingkungan nya yang masih tersedia lahan kosong.
STOP BAKAR LAHAN !!!!
(Yuliardi | Duta Berita Nusantara)












