Duta Berita Nusantara | Palembang
Untuk kesekian kalinya, puluhan kerabat Kesultanan Palembang Darussalam, budayawan, sejarawan hingga zuriat Palembang kembali berkumpul dalam kegiatan Ratib Samman yang digelar di Gedung Kesenian Palembang, Sabtu (24/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk pelestarian tradisi Ratib Samman, salah satu warisan budaya spiritual yang berkembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam. Selain itu, kegiatan juga menjadi bagian dari ikhtiar moral dan doa bersama dalam upaya penyelamatan kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) sebagai cagar budaya bersejarah di Kota Palembang.
Ketua panitia, Raden Genta Laksana, mengatakan kegiatan Ratib Samman tersebut telah dilaksanakan secara rutin setiap bulan dan kini memasuki pelaksanaan yang kelima.
“Ratib Samman ini ingin terus kami lestarikan. Kegiatan ini sudah kelima kalinya dilaksanakan secara rutin setiap bulan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk munajat dan doa bersama agar perjuangan dalam menjaga keberadaan Benteng Kuto Besak mendapat kemudahan serta menggugah hati para pemangku kebijakan.
“Kami mengetuk langit melalui doa bersama agar hati pihak-pihak yang memiliki kewenangan dapat dilembutkan demi penyelamatan Benteng Kuto Besak, sehingga ke depan BKB bisa kembali dinikmati masyarakat luas,” katanya.
Ia menambahkan, Benteng Kuto Besak memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi sejarah, budaya dan destinasi pariwisata unggulan di Kota Palembang.
“Kegiatan ini diikuti berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian yang sama terhadap penyelamatan BKB dan tergabung dalam Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak,” jelasnya.
Harapannya, cagar budaya nasional Benteng Kuto Besak dapat terus terjaga keberadaannya dan dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, wisata sejarah serta ruang publik budaya bagi masyarakat.
Sementara itu, budayawan Palembang, Vebri Al Lintani, menilai kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pelestarian kawasan cagar budaya.
Menurutnya, berbagai pembangunan di kawasan Benteng Kuto Besak perlu memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait pelestarian cagar budaya.
“Benteng ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Dibangun pada masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Mahmud Badaruddin dan menjadi salah satu benteng besar peninggalan pribumi di Nusantara. Karena itu keberadaannya perlu dijaga bersama,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ustadz Kgs Mustofa mengatakan perjuangan menjaga warisan sejarah dan budaya tidak terlepas dari doa serta ikhtiar bersama.
“Perjuangan tanpa doa tentu tidak akan sempurna. Karena itu kegiatan ini menjadi sesuatu yang positif agar kita tetap memiliki arah dan semangat dalam menjaga warisan sejarah,” tuturnya.













